
Valerie POV
Kudekap tubuh ku sendiri di atas tempat tidur yang luas dan besar di kamar kami. Tampa ada dia di sisi ku, aku merasakan hampa.
Aku sudah terbiasa dengan keberadaannya di sisi ku. Kehadiran Dave yang tidak aku sangka sangka telah memberi warna dan arti tersendiri dalam hati ku.
Apalah arti tempat tidur ini jika aku hanya berada sendirian di dalamnya.
Tanpa ada seseorang yang biasanya bisa aku selalu peluk dan dia memelukku.
Baru juga semalam kamu meningalkan aku Dave. Tapi kenapa aku merasa sangat begitu merasa kesepian seperti ini.
Aroma khas tubuhmu ketika kamu baru pulang bekerja selalu aku rindukan. Jika sudah waktunya tiba kau pulang bekerja dan aku menunggu mu di rajang.
Dan aroma khas tubuhmu yang segar setelah kau selesai mandi seperti aromaterapi yang menenangkan untukku.
Bahkan keringat mu ketika kita berpeluh keringat bersama pun juga sudah menjadi candu untuk ku. Setiap bagian tubuh mu adalah kenyamanan ku. Dan keberadaan mu adalah ketenangan.
Dave, entah bagaimana aku bisa mendiskripsikan perasaan cinta ku terharap mu. Aku tidak tau.
Dari lubuk hati ku yang paling dalam. Aku begitu mencintai dan sayang dengan mu.
Meskipun kau bukanlah cinta pertama ku. Karena cinta pertama ku telah aku labuhkan untuk Daddy-nya Elenor.
Meski begitu, perasaan ku terhadap Julian kini sudah benar-benar hilang dan tak berbekas.
Sudah tidak ada lagi debaran dan kegugupan yang aku rasakan terhadap pria yang sempat membuat aku mabuk kepayang itu.
Kini aku menganggap Julian sebagai teman, sahabat dan bahkan sebagai kakak.
Bukankah seperti itu yang dia mau, aku menganggapnya sebagai kakak. Dia pernah bilang begitu dulu. Aku masih ingat dan dia mengatakan itu dengan jelas.
Dave, cepatlah pulang. Jangan lama lama di Dubai.
Aku takut jika aku melahirkan nanti kamu belum pulang. Siapa yang akan mendampingi ku nanti.
Aku mencoba untuk memejamkan matanya ini. Mengistirahatkan tubuh ini. Tapi keinginan itu tidak sejalan dengan pikiran ku yang sedang berkelana merindukan seseorang pria yang nama dan sikapnya selalu membuat aku berdebar.
Dave ku sedang pergi. Meski kepergian nya tidak lama.Tetap saja, aku merasa tidak rela sebenarnya jika pergi. Entah ini apakah bawaan karena aku hamil. Jadi aku bersikap manja dengannya.
Flashback on
"Hai, Valerie." Sapa nya pada ku untuk pertama kalinya saat aku melihatnya. Ketika itu aku sedang di rawat di sebuah rumah sakit akibat kecelakaan.
"Tenang lah, kau akan di rawat dengan baik di sini."
__ADS_1
"Kau siapa?" tanya ku lagi pada waktu itu.
"Aku minta maaf sebelumnya. Aku yang telah menabrak mu. Aku Dave," ucap nya pada ku.
"Tenang lah Vale, kau akan di tangani dengan baik di sini sampai kau pulih. Aku akan bertanggung jawab."
Kau pasti ingat Dave, bagaimana insiden itu terjadi. Yang ternyata itu ada skenario Tuhan dalam mempertemukan kau dan aku. Dan sekarang kita sudah menikah dan sebentar lagi kita akan bisa melihat anak buah cinta kita berdua.
Flashback off
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Dave POV
Dubai
📞 My Wife calling........
"Halo sayang......." Aku mengangkat panggilan video call dari istri ku untuk yang kesekian kalinya pada hari ini. Sebelumnya, dia sudah menelpon ku beberapa kali.
"Dave." panggilnya dengan nada suara lembut dan manja. Dan aku senang jika dia bersikap manja seperti itu. Sangat membuat ku gemas.
"Ini kan sudah malam sayang. Kenapa belum tidur?" tanya ku padanya.
Yang saat itu aku liat, Vale sedang tiduran miring sambil memegangi ponselnya. Agar wajahnya bisa terlihat jelas di kamera ponselnya.
"Aku masih membereskan beberapa pekerjaan sayang. Kamu tidur ya! Jangan malam malam tidur nya. Kamu kan sedang hamil besar. Harus banyak istirahat." ucap ku lembut pada Valerie ku. Dan saat aku perhatikan wajah nya lewat layar ponsel ku. Dia terlihat sedikit sedih.
"Valerie, aku mencintai mu." kata ku padanya. Sambil ku perlihatkan senyum manis ku seperti biasa.
"Aku juga mencintaimu Dave." jawabnya, kini wajah nampak bersemu merah.
"Ajak saja Elenor untuk tidur di rajang kita. Agar kamu merasa tidak kesepian?"
"Apa kamu tidak keberatan, jika Elenor tidur di ranjang kita." tanya nya.
"Kenapa harus keberatan! Elenor juga anak ku. Ajaklah dia tidur di kamar."
"Sepertinya dia sudah tidur awal. Aku takut nanti malah mengganggu nya. Kalau begitu, teruskan saja pekerjaan mu. Tapi biarkan video call nya berlangsung. Aku ingin kamu temani. Meskipun kau berada jauh di sana. Nanti kalau aku sudah tidur. Baru kamu matikan panggilan video call nya." ucap nya. Jika Vale sudah meminta seperti itu. Mana bisa aku tidak mengabulkan permintaannya.
"Baiklah sayang, sekarang pejamkanlah matamu. Dan tidur lah. Anggap saja aku berada di sisi mu sekarang. Nanti kalau kamu sudah tidur aku akan mematikan panggilannya."
"Kamu juga jangan terlalu larut lembur nya Dave. Aku juga tidak mau kamu kecapekan. Aku menyayangimu, selamat malam."
"Selamat malam Valerie ku." kataku padanya.
__ADS_1
Kemudian ku kecup layar ponsel ku yang itu artinya seolah sebagai ganti aku mengecup kening nya.
Dia terlihat tersenyum ketika aku mencium nya dari jauh. Dan senyuman itu seperti sebuah energi yang selalu bisa membangkitkan gairah ku. Dia benar-benar candu.
Sambil terus berkutat di depan laptop. Aku perhatikan ponsel ku yang masih aktif tersambung panggilan video call nya dengan Valerie.
Kini aku perhatikan, ia sudah mulai menguap. Dan perlahan-lahan ia mulai menutup kedua matanya.
Dan aku rasa, sebentar lagi dia pasti akan terlelap.
"Selamat tidur cinta ku."
Aku sengaja membiarkan panggilan video call itu tetap berlangsung. Sampai aku selesai lembur kerja.
Setelah beberapa saat kemudian, saat aku pastikan Vale telah tertidur lelap dengan begitu pulasnya. Baru aku menantikan pangilan video call nya.
Sebelumnya aku tidak pernah mencintai seseorang secinta ini. Dan aku pun tidak pernah mengagumi wanita seperti aku mengagumi Vale.
Saat aku hidup berumah tangga bersama Mia pun aku tidak merasakan sebahagia ini.
Aku benar-benar akan menjaga nya dan akan terus membahagiakan dirinya. Membuat Valerie bahagia adalah kebahagiaan ku.
Masih jelas bisa aku ingat bagaimana pertama kali aku mengajaknya berkomunikasi.
Flashback on
"Hai, Valerie." sapa ku padanya. Valerie yang ketika itu masih tampak lemas menengok ke arah ku dengan tatapan bigung.
"Tenang lah, kau akan di rawat dengan baik di sini."
"Kau siapa?" tanyakan dengan suara lemah.
"Aku minta maaf sebelumnya. Aku yang telah menabrak mu. Aku Dave," ucap ku padanya. Vale nampak masih linglung.
"Tenang lah Vale, kau akan di tangani dengan baik di sini sampai kau pulih. Aku akan bertanggung jawab." imbuh ku. Dia tidak menjawab, ia kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Sebaiknya biarkan pasien untuk beristirahat. Kondisinya masih belum stabil Pak. Karena dia baru saja siuman dari komanya." ucap salah seorang perawat yang menjaga Vale.
"Oke, tolong jaga dia dengan baik. Jangan tinggalkan dia walau sejenak." kata ku pada perawatan itu.
Entahlah, ada suatu perasaan yang membuat ku tertarik untuk melindungi wanita cantik yang kini masih terbaring lemah itu.
Suatu perasaan aneh seperti magnet yang membuat aku selalu memikirkannya beberapa hari ini. Bahkan aku hampir tidak bisa tidur lelap gara gara memikirkannya.
Padahal dia bukan siapa siapa ku. Dia hanya wanita asing yang kebetulan menjadi korban tabrak oleh ku.
__ADS_1
Tapi wajah nya kini telah memenuhi pikiranku. Dan rasa takut jika terjadi sesuatu dengan dirinya hampir membuat ku paranoid.
Flashback off