
Tidak ingin di anggap sebagai tamu yang tidak sopan. Pagi pagi sekali Elenor sudah bangun dan mandi serta sudah rapi untuk bersiap pergi kuliah.
Setelah semua persiapan untuk pergi ke kampus telah ada di dalam tas nya. Elenor keluar dari kamarnya dan bergegas menuruni anak tangga.
Sesampainya di lantai bawah, ternyata Isabel sudah ada di meja makan dan bersiap untuk sarapan.
"Pagi Elle, pagi pagi sekali berangkat ke kampus? Ayo sini kita sarapan." ajak Isabel, yang ketika itu ia sudah berada di ruang makan dan sedang mengolesi roti tawar nya dengan sebuah selai.
"Iya, aku ingin berangkat pagi pagi. Aku mau ke perpustakaan di kampus. Di sana membuat aku betah." jawab Elle, kemudian ia meletakkan tas nya di sisi sebuah kursi. Dan ia sendiri kemudian duduk di salah satu kursi di ruang makan.
"Mau selai apa?"
"Aku akan buat sendiri Kak. Terimakasih."
Isabel dan Elenor pun memulai pagi itu dengan bersarapan bersama sambil mengobrol ringan.
"Waktu ku untuk magang kerja di Amerika sudah tidak lama lagi. Mommy dan Daddy sudah menyuruh ku untuk segera pulang. Dan mengurusi perusahaan milik Mommy dan Daddy ku." ujar Isabel bercerita.
"Sudah berapa lama Kak Isabel tingal di sini?" tanya Elenor ingin tau.
"Sudah lama Elle. Sejak aku seusia mu. Karena aku betah tinggal di sini, aku merayu Daddy dan Mommy ku untuk magang kerja di sini. Ternyata mereka mengizinkan aku. Tapi sepertinya waktu ku sudah habis sekarang. Daddy dan Mommy sudah menyuruh ku untuk pulang. Dan, sudah waktunya aku memegang kendali perusahaan. Kadang terlahir dari sebuah keluarga yang berada itu tidak bisa bebas. Tidak bisa seperti orang orang biasa. Sudah pasti aku akan di beri tanggung jawab untuk memegang perusahaan. Mau tidak mau" ujar Isabel sambil menikmati sarapannya.
"Ku rasa kamu juga akan mengalami hal seperti diri ku Elle."
"Entahlah Kak, aku masih 17 tahun." jawab Elenor tampak malu malu.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Indonesia
"Dave, aku ingin pergi ke Amerika." izin Vale pada sang suami.
__ADS_1
"Mau mengunjungi Elenor?" tanya Dave yang ketika itu sedang tiduran rebahan di sebelah putri kecilnya yang di beri nama Audrey itu.
"Iya, aku sudah sangat kangen dengan nya."
"Bisa saja sih kau pergi ke Amerika. Tapi bagaimana dengan Audrey. Apa kau akan mengajak nya?"
"Karena dia masih kecil, mungkin aku tidak akan mengajak nya. Bagaimana kalau kamu temani aku ke Amerika. Aku tidak akan lama. Aku hanya ingin melihat Elenor. Sejak dia memilih tempat kuliah sampai dia sudah kuliah aku belum sempat mengunjunginya. Aku juga ingin melihat tempat tinggalnya. Mungkin hanya satu Minggu bolak balik."
"Nanti aku akan pikirkan sayang." ucap Dave berkata lembut seperti biasa.
"Terimakasih Dave."
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Harvard
Menyusuri lorong demi lorong Elenor nampak sedang memilih-milih beberapa buku yang hendak ingin ia baca.
Di perpustakaan itu, Elenor biasanya menghabiskan waktunya berjam-jam ketika ia sedang menunggu jam kuliahnya tiba.
Banyaknya buku-buku yang sangat bagus untuk ia baca membuat Elenor betah berada di perpustakaan tersebut.
Ketika Elenor sedang ingin mengambil sebuah buku.
Tiba-tiba sebuah tangan kekar terulur mengambilkan sebuah buku yang hendak Elenor ambil. Reflek, Elenor pun menoleh ke samping.
Saat Elenor menoleh ke arah orang yang membantunya mengambilkan buku. Elenor tampak sudah tidak asing Pria tersebut.
"Kak, Alden!" seru Elenor.
"Kakak, dari kapan aku jadi kakak mu." jawab Alden. Kemudian Alden memberikan buku yang hendak Elenor ambil tadi.
__ADS_1
"Bukankah usia Kak Alden terpaut cukup jauh dengan ku." ucap Elenor, seraya mengambil buku yang yang Alden berikan.
"Tebak berapa usia ku?
"Aku tidak tau, tapi mungkin sekitar 28 tahunan."
"Apakah aku setua itu Elle." ucap Alden sambil terkekeh.
"Aku masih ingat saat diri mu datang ke acara ulang tahun ku dulu. Kau masih lucu kala itu. Mungkin usia mu sekitar 2 tahunan. Tapi lihatlah dirimu. Sekarang kau sudah remaja dan cantik." puji Alden.
"Semua orang tumbuh dewasa, dan sekarang aku 17 tahun. Jika aku memangil mu Kakak. Ya karena kau cocok jadi Kakak ku." ujar Elenor.
"Apa Om Julian yang menyuruh mu untuk memanggil ku Kakak!" seru Alden. Elenor tidak menjawab, ia kemudian berlalu sambil tersenyum.
"Bukankah seharusnya Kak Alden sudah lulus?" tanya Elenor.
"Aku memang sudah lulus beberapa dua tahun lalu. Aku kembali ke Indonesia dan belajar bisnis dengan Daddy ku. Tapi kata Daddy, penguasaan bisnis ku masih belum membuat Daddy ku puas. Makanya aku berkuliah lagi setelah dua tahun aku lulus. Sekarang aku mengambil gelar S2. Aku malas berkuliah." ucap Alden yang kemudian ia berjalan beriringan dengan Elenor untuk mencari tempat duduk.
"Berbeda dengan Kak Alden. Aku justru sangat konsen dengan pendidikan ku Kak. Aku ingin menimba ilmu sebanyak banyaknya. Dan mau jadi apa nanti aku setelah lulus. Aku akan pikirkan itu nanti. Mommy dan Daddy ku juga selalu menyemangati ku untuk belajar. Bahkan mereka adalah penyemangat dan motivasi terbesar ku."
"Apa kau seorang Introvert." tanya Alden.
"Kenapa Kakak bilang begitu?"
"Kau seperti nya pendiam."
"Tidak juga, aku berbicara dengan beberapa orang. Tapi karena aku masih baru jadi aku belum punya teman akrab. Tapi aku sudah kenal dengan beberapa teman di sini."
"Kalau ada apa apa bilang saja pada kau Elle. Aku akan membantu mu." ujar Alden pada Elenor.
"Siap Kak," jawab Elle singkat.
__ADS_1