Posesif Love Sang Billionaire

Posesif Love Sang Billionaire
Dramatis


__ADS_3

Valerie kini semakin mengejan. Usahanya untuk bisa melahirkan secara normal tetap ingin ia lalui.


Dan kini, di atas tempat tidur di ruang bersalin. Valerie tengah berjuang untuk melahirkan bayinya.


"Ayo, Nyonya Valerie anda bisa. Dorong sedikit lagi," ucap sang dokter perempuan yang membantu Valerie melahirkan.


Vale tidak menjawab arahan sang dokter. Ia sudah tau dan paham apa yang harus ia lakukan.


Buliran keringat bercampur ari mata membasahi wajah cantik Valerie. Wajah putih mulus itu kini penuh dengan peluh keringat.


Dengan berpegangan pada handel besi yang ada di sisi ranjang. Vale berjuang untuk bisa melahirkan bayinya yang belum ia ketahui jenis kelaminnya tersebut.


Vale terus berjuang dan berjuang untuk bisa melahirkan bayinya.


"Dave, ini sakit sekali." ucap Valerie berucap memangil nama seseorang yang saat ini sangat ia butuhkan kehadirannya.


Vale tidak pernah membayangkan jika persalinannya yang ke dua ini harus ia lalui sendirian.


Tanpa ada seseorang sebagai penyemangat.


"Dave! please, datanglah." pekik Vale sambil mengejan dengan pelan. Akan tetapi usahanya belum juga membuahkan hasil.


Kini beberapa dokter yang membantu persalinan Vale nampak berdiskusi.


"Pasien sepertinya sudah banyak kehilangan tenaga. Aku kawatir dia tidak bisa melahirkan secara normal. Apa perlu kita lakukan tindakan cesar." ucap salah seorang dokter.


"Pasien sudah terlihat lemas." papar seorang dokter yang lain.


Vale yang saat ini sudah tidak peduli lagi dengan situasinya. Hanya bisa pasrah dengan ketidak berdayaannya.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


"Keluarga Nyonya Valerie!" panggil salah seorang dokter.


Julian yang merasa terpanggil pun kemudian langsung mendekati sang dokter.


"Iya dokter ada apa?" tanya Julian bersungut-sungut.

__ADS_1


"Pasien sepertinya sudah banyak kehilangan tenaga. Air ketuban nya juga sudah hampir kering. Untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan. Kami akan melakukan operasi cesar untuk mengeluarkan bayinya." ucap salah seorang dokter.


"Apa Valerie tau jika akan di lakukan operasi cesar?" tanya Julian.


"Pasien belum tau, kami harus minta persetujuan dari pihak keluarganya dulu untuk melakukan tindakan." ujar dokter tersebut.


Julian nampak bingung. Ia tidak tau harus memutuskan bagaimana. Jika itu demi keselamatan Valerie dan juga bayinya. Julian sepertinya harus menyetujui operasi tersebut.


"Baiklah, lakukan saja tindakkan operasi nya dokter." ucap Julian memberikan kuasa.


"Baiklah, karena kami sudah mendapatkan persetujuan maka kami akan melakukan tidakkan operasi cesar untuk Nyonya Valerie."


Baru saja sang dokter hendak berlalu dari hadapan Julian. Sebuah suara bariton terdengar dari belakang.


"Tunggu, jangan di operasi dulu!" seru sebuah suara dengan nada tegas.


Sang dokter dan Julian kemudian menengok ke belakang.


"Dave!" seru Julian dengan mata terbelalak.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Samar samar Vale mendengar suara yang begitu ia rindukan dan sangat ia ingin liat wajahnya. Membuat Valerie membuka matanya perlahan lahan.


"Dave! Benarkah itu kamu!" seru Valerie. Sambil menelisik wajah tampan yang kini sudah berdiri di sampingnya.


"Ia ini aku sayang, aku datang. Aku kan sudah berjanji untuk menemani mu melahirkan." ucap Dave dengan suara merdunya.


"Dave!" seru Valerie lagi dengan nada lemah dan perasan hati yang kini nampak bersorak-sorai bahagia serta lega.


"Ini tidak mimpi kan?" sergah Valerie yang sudah berpeluh keringat itu.


"Tidak Valerie," jawab Dave sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Vale dan menyentuh pipi kiri Valerie.


"Kau selamat."


"Ia aku selamat, ceritanya pajang."

__ADS_1


"Ya Tuhan, Dave!" ucap Vale, kemudian Vale langsung melingkarkan tangannya ke leher Dave saat ia masih dalam pembaringan.


"Berjuanglah, aku sudah ada di sini. Apa kau masih ingin melanjutkan melahirkan normal. Jika tidak kuat lagi, dengan proses cesar saja ya. Kau sudah nampak lemas."


"Tidak Dave, aku kuat sekarang." ujar Valerie sambil mengatur nafasnya kembali.


Rasa mulas itu kini kembali menyerang Valerie.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Dengan berpegangan erat dengan tangan Dave. Vale terus berjuang untuk bisa melahirkan bayinya.


"Kau bisa Vale, kau bisa." ucap Dave menyemangati. Kemudian Dave melabuhkan kecupan di kening Vale.


"Sedikit lagi, kepala nya sudah mulai tampak Nyonya." ucap sang dokter menyemangati Vale.


Vale pun kembali mengatur nafas nya dan bersiap untuk mengejan dengan kuat mungkin.


"Hemmmmmmmm," Valerie mengejan dengan sekuat tenaga.


Dan akhirnya, sebuah suara tangisan bayi langsung menggema. Mendominasi suara di ruangan itu.


"Owek....Owek...owek.."


"Syukurlah." seru salah seorang dokter yang membantu persalinan Vale.


"Selamat Nyonya, Pak, bayi kalian laki laki." ucap sang dokter.


Vale dan Dave pun saling tersenyum bahagia penuh haru.


Vale yang masih terengah-engah mencoba untuk menetralkan nafasnya.


"Syukurlah, akhirnya aku bisa melahirkan mu dengan normal sayang." Ujar Valerie sambil menciumi kening bayinya yang saat itu langsung di letakkan di dadanya.


Sedangkan sang dokter melakukan penjaitan di organ kewanitaan Vale. Karena tadi ada tindakan pengguntingan di jalan lahir.


Sebuah proses persalinan yang lebih dramatis dari persalinan yang Vale lalui dulu saat melahirkan Elenor.

__ADS_1


__ADS_2