Posesif Love Sang Billionaire

Posesif Love Sang Billionaire
Jelang melahirkan


__ADS_3

Dua hari kemudian


Valerie masih di rawat di rumah sakit. Keadaannya yang masih lemah dan drop membuat ia harus tetap di rawat.


Julian yang sudah dua hari ini menemaninya di rumah sakit. Semakin merasa tidak tega melihat wanita yang pernah menjadi istrinya itu tergolek lemah tak berdaya. Karena memikirkan suaminya yang sampai pada hari ini belum ada kabarnya.


Kedua mata Julian hanya bisa menyaksikan Valerie yang tergolek lemah sambil tiduran miring membelakanginya.


Sebuah pemandangan yang sebelumnya pernah ia saksikan.


Ketika Valerie bertindak ceroboh ingin mengugurkan kandungannya.


Karena pada saat itu tengah patah hati. Dan kondisi saat ini seolah-olah terulang.


Vale seperti nya sedang patah hati sekarang. Patah hati karena di tingalkan oleh Dave.


Sabil menghela nafas panjang, Julian meningalkan kamar tempat Vale di rawat.


Ia kemudian meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Julian pada seseorang di seberang sana.


"Masih nihil Mr Julian. Kami tidak dapat mengakses informasi tentang keberadaan Mr Dave. Bahkan nomor asisten pribadinya bernama Jeffry juga saat ini tidak aktif." jawab seseorang di sebrang sana.


"Cari terus informasi nya. Aku akan memberikan kalian bonus jika berhasil mendapatkan informasi tentang Dave. Kabarkan segera jika kalian mendapatkan informasi tentangnya." perintah Julian pada orang suruhannya.


"Baik Mr."


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Valerie nampak terbangun dari tidurnya ketika ia merasakan sesuatu nampak keluar dari kewanitaannya.


Karena sudah punya pengalaman sebelumnya saat melahirkan Elenor. Vale tau cairan apa yang saat ini keluar dari inti nya itu.


"Apa kau akan lahir sekarang sayang?" sergah Valerie berbicara pada janin yang masih ada di dalam kandungannya.


Saat ini hati Vale merasa sangat dilema. Antara antusias dan juga bigung karena masih ada beban pikiran tentang Dave yang masih belum ia dapatkan kabarnya.


"Daddy mu belum datang. Jangan lahir sekarang sayang, tidak bisakah kau menunggu." imbuh Vale lagi, berucap dengan nada lirih sambil memegangi perutnya.

__ADS_1


Rasa mulas yang kini ia rasakan mulai menyerangnya.


Sejenak Valerie menatap di sekeliling ruangan kamarnya. Ia hanya ada sendirian di ruangan itu.


Makin ia biarkan, rasa mulas itu kini semakin ia rasakan. Mulas yang kadang datang dan juga pergi.


"Julian!" panggil Vale, saat ia melihat Julian sedang berada di luar ruangan. Yang ia bisa liat dari jendela kaca yang ada di kamar tersebut.


"Hemm, sakit sekali." keluh Valerie sambil mengusap bulir bulir bening keringat yang keluar dari dahinya.


Julian yang kala itu masuk kembali ke dalam ruangan. Tersentak kaget saat melihat Vale sedang meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.


Julian pun langsung bergegas ke arah Valerie.


"Vale, ada apa?" sergah Julian dengan nada panik.


"Sepertinya aku akan melahirkan." ucap Vale sambil meringis menahan rasa mulas yang semakin menjadi-jadi.


"Aku panggilkan suster. Sebentar Valerie!" ucap Julian yang kemudian bergegas ke arah pintu dan ia berteriak minta bantuan.


Dan sesaat kemudian, seorang suster dan juga seorang dokter datang ke ruangan tempat Valerie di rawat.


"Pak, istri anda sebentar lagi sepertinya akan melahirkan. Kami akan memindahkan Nyonya Valerie ke ruang bersalin." ucap salah seorang dokter.


"Saya bukan suaminya, saya keluarganya." jelas Julian pada sang dokter.


"Oh, maaf. Saya kira Anda suaminya. Saya akan bawa Nyonya Valerie ke ruang persalinan dan saya akan pantau kondisi dan juga memeriksanya." kata dokter tersebut.


"Lakukan yang terbaik untuknya dokter."


"Jika nanti ada tindakan, bersediakah bapak untuk bertanggung jawab?" ucap lagi sang dokter.


Julian nampak sedikit berfikir.


"Ia, saya akan bertanggung jawab untuk segala kemungkinannya. Tolong tangani dia dengan baik."


Setelah itu, Vale yang sudah meringis menahan rasa sakit itu tak bisa bicara apa apa lagi. Ia hanya pasrah saat ia akan di pindahkan ke ruang bersalin.


"Julian." pangil Vale, yang seolah-olah minta dukungan.

__ADS_1


Julian pun kemudian mendekati Valerie. Dan ia memegang tangan kiri Vale yang ketika itu mulai untuk pindahkan. Dengan di dorongnya tempat tidur nya oleh seorang perawat.


"Tenang lah Vale, semua akan baik baik saja. Percayalah, kau pasti bisa melahirkan dengan selamat. Bersemangat lah. Aku akan menjaga mu. Tenangkan pikiran mu." ucap Julian yang saat itu ikut berjalan untuk mengantarkan Vale di pindahkan ke ruang bersalin.


"Tapi bagaimana dengan keadaan Dave. Aku takut Julian. Aku sangat menghawatirkan keselamatannya."


"Aku akan berusaha untuk mencari tau tentang Dave. Kau fokus saja dengan dirimu." ucap Julian memberikan semangat.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Valerie kini semakin mengejan. Usahanya untuk bisa melahirkan secara normal tetap ingin ia lalui.


Dan kini, di atas tempat tidur di ruang bersalin. Valerie tengah berjuang untuk melahirkan bayinya.


"Ayo, Nyonya Valerie anda bisa. Dorong sedikit lagi," ucap sang dokter perempuan yang membantu Valerie melahirkan.


Vale tidak menjawab arahan sang dokter. Ia sudah tau dan paham apa yang harus ia lakukan.


Buliran keringat bercampur ari mata membasahi wajah cantik Valerie. Wajah putih mulus itu kini penuh dengan peluh keringat.


Dengan berpegangan pada handel besi yang ada di sisi ranjang. Vale berjuang untuk bisa melahirkan bayinya yang belum ia ketahui jenis kelaminnya tersebut.


Vale terus berjuang dan berjuang untuk bisa melahirkan bayinya.


"Dave, ini sakit sekali." ucap Valerie berucap memangil nama seseorang yang saat ini sangat ia butuhkan kehadirannya.


Vale tidak pernah membayangkan jika persalinannya yang ke dua ini harus ia lalui sendirian.


Tanpa ada seseorang sebagai penyemangat.


"Dave! please, datanglah." pekik Vale sambil mengejan dengan pelan. Akan tetapi usahanya belum juga membuahkan hasil.


Kini beberapa dokter yang membantu persalinan Vale nampak berdiskusi.


"Pasien sepertinya sudah banyak kehilangan tenaga. Aku kawatir dia tidak bisa melahirkan secara normal. Apa perlu kita lakukan tindakan cesar." ucap salah seorang dokter.


"Pasien sudah terlihat lemas." papar seorang dokter yang lain.


Vale yang saat ini sudah tidak peduli lagi dengan situasinya. Hanya bisa pasrah dengan ketidak berdayaannya.

__ADS_1


__ADS_2