
Begitu Valerie membuka matanya. Ia terlihat sedikit bingung, karena ia berada di tempat yang berbeda. Bukannya berada di kamarnya di Mansion.
Reflek, Vale langsung menyentuh perut besarnya. Sesuatu yang sangat ia khawatirkan saat ini adalah kondisi bayinya.
Julian yang kala itu menunggu Vale di sebuah sofa yang ada di kamar rumah sakit, kemudian melangkahkan kakinya untuk mendekati Valerie.
"Valerie, kau sudah sadar." sapa Julian, sesaat setelah ia memperhatikan Vale telah sadar dari pingsannya.
"Di mana aku sekarang?" tanya Valerie bigung.
"Dan bagaimana kau bisa ada di sini. Bukankah seharusnya kau juga ada di Singapure." Tanya lagi Valerie masih dalam keadaan linglung.
"Iya, tadi siang Elle menelpon ku. Kau pingsan dan dia bigung harus minta tolong dengan siapa. Akhirnya aku memutuskan untuk kemari dengan izin Jenna." jelas Julian dengan suara lembut dan tersenyum tipis.
Sejenak, Valerie nampak berfikir. Setelah beberapa saat ia tersadar sepenuhnya. Valerie kemudian meneteskan air matanya.
"Dave." sebut Vale, memangil nama sang suami.
"Valerie, ada apa?" tanya Julian dengan lembut.
Meskipun Julian sudah tau dan sudah bisa menduga duga penyebab Vale tak sadarkan diri. Ia tidak ingin gegabah untuk membicarakan soal Dave.
__ADS_1
Valerie kemudian bangkit dari rebahannya. Dan ia kemudian langsung memeluk pinggang Julian yang kala itu ada berdiri di samping tempat tidurnya.
Dengan kedua tangannya, Vale memeluk pinggang Julian dengan erat.
Kedua tangan Julian pun kini perlahan terangkat. Dan ia mendekapkan kedua tangannya untuk memeluk tubuh Vale yang saat itu juga sedang memeluk pinggangnya.
"Dave! Dave, Julian." ucap Vale dengan nada suara bergetar.
"Ada apa dengan Dave?" tanya Julian dengan masih berpura-pura tidak tahu.
"Dia kecelakaan, dan aku tidak tau bagaimana nasibnya sekarang." tutur Valerie sambil berurai air mata.
"Bagaimana kau tau?"
"Semoga Dave tidak apa apa." tukas Julian menenangkan.
"Helikopter yang di tumpangi nya meledak di atas perairan di dekat lokasi proyek pengeboran minyak. Bagaimana aku bisa tenang. Jika Dave ku tidak bisa aku ketahui nasibnya?" tangis Valerie kini makin pecah dan tersedu sedu. Dengan masih sambil memeluk pinggang Julian.
Vale tidak tau lagi dengan siapa ia bisa berkeluh kesah. Selain dengan Julian seseorang yang kini sudah ia anggap sebagai teman.
Julian kemudian mengendurkan pelukannya dan ia kini menatap wajah Valerie.
__ADS_1
"Vale, aku berjanji dengan mu. Aku akan membantu mu dan akan mencari tau informasi apa saja yang berkaitan dengan Dave dan juga tentang kecelakaan itu. Sekarang juga aku akan mengirimkan orang ku untuk bertolak ke Dubai malam ini juga. Berikan aku nomor telepon asisten Dave. Aku akan mengatur semuanya. Dan aku akan cari informasi tentang bagaimana nasib Dave." ucap Julian pada Vale.
Rencana itu sebenarnya memang sudah di susun oleh Julian sebelumnya.
Dan ia bahkan sudah menugaskan dua orang kepercayaannya yang kini sudah terbang ke Dubai. Untuk mencari tau informasi yang akurat tentang insiden kecelakaan helikopter yang menimpa Dave berserta beberapa rekan bisnis nya yang lain.
"Terimakasih Julian, terimakasih. Aku tidak tau harus berbuat apa dan bagaimana. Dalam keadaan ku yang seperti ini. Aku tidak bisa banyak berbuat sesuatu. Apalagi aku tidak tau harus melakukan apa." ujar Valerie dengan masih berurai air mata.
"Kau tenang kan diri mu. Jangan banyak pikiran. Kau sedang hamil tua sekarang. Tidak baik jika tekanan darah mu tinggi. Bukannya aku menyuruh mu untuk tidak memikirkan Dave. Hanya saja sekarang kondisi mu juga dalam masa masa jelang melahirkan. Untuk urusan Dave. Aku akan langsung berkomunikasi dengan Jeffry. Untuk informasi nya, nanti aku akan kabar kan untuk mu."
"Terimakasih Julian, entah dengan siapa aku meminta bantuan. Aku hanya dekat dengan mu." ujar Vale yang masih sesekali terisak.
"Jangan anggap aku orang lain. Aku senang bisa membantu mu."
"Bagaimana dengan Elenor?"
"Kau tenang saja, dia ada di Mansion. Dia anak yang sangat sigap. Elenor sangat luar biasa. Jika tidak karena inisiatifnya. Aku tidak akan ada di sini sekarang."
Julian dengan sayang kemudian menghapus air mata yang membasahi kedua pipi Valerie dengan sebuah tissue.
"Aku akan panggil kan dokter untuk memeriksa mu. Kondisi mu harus segera di cek dulu." ucap Julian yang kemudian ia melangkahkan kakinya untuk memanggil dokter.
__ADS_1
Dan perasaan Valerie kini sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Dengan bantuan Julian. Vale berharap suaminya bisa segera di ketahui nasibnya.