Posesif Love Sang Billionaire

Posesif Love Sang Billionaire
Someone help


__ADS_3

Tangis Elenor pecah ketika melihat Mommynya pingsan di atas tempat tidur. Saat itu ia baru saja masuk ke kamar Vale untuk bersantai siang bersama sang Mommy.


Elenor sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan Mommy nya bisa pingsan.


Elle kemudian berlari memanggil beberapa pelayan untuk masuk ke kamar Mommy nya.


Dan beberapa pelayan pun nampak panik karena melihat sang Nyonya rumah tengah pingsan berada di atas tempat tidur.


Seorang pelayan di rumah itu pun kemudian mencoba untuk membuat Valerie tersadar dengan cara alami.


Dengan memberikan bau-bauan di hidung Valerie serta mengusap telapak kaki Vale. Tetapi hal itu tidak kunjung membuat Vale tersadar.


Ketika melihat Mommy nya belum juga tersadar.


Elenor kemudian berinisiatif meraih ponsel Vale dan ia mencari nomor seseorang.


Dan Elle mencari nomor Daddy-nya, Julian.


Tanpa menunggu dan ragu ragu, Elle langsung memencet tombol memanggil terhadap nomor tersebut.


"Halo Valerie?" panggil Julian dari seberang telepon.


"Dad ini Elle, bukan Mommy." jawab Elenor dengan suara sambil menangis.


"Elle, ada apa?" tanya Julian dari sebarang telepon dengan nada suara kawatir.


"Mommy pingsan Daddy. Elle takut terjadi sesuatu dengan Mommy." jawab Elenor.


"Mommy pingsan! Kenapa Mommy bisa pingsan?" tanya Julian dengan nada tegas serta kawatir.


"Elle tidak tau Daddy. Saat Elle tiba di kamar Mommy. Mommy sudah pingsan." jelas Elenor pada Julian mencoba untuk menceritakan kronologi nya.


"Bisakah Elle ganti pangilan telepon nya ke pangilan Video Call?" ucap Julian.


Elle yang sudah paham pun kemudian mengganti pangilan nya ke mode pangilan video call. Dan dari sana Julian bisa melihat sendiri apa yang terjadi.


"Elle, berikan ponselnya pada salah satu pelayan." perintah Julian.


Elenor pun kemudian memberikan ponselnya pada salah seorang pelayan.


Dan Julian kemudian mengarah pelayan itu untuk segera membawa Vale ke rumah sakit.


Julian langsung bergerak cepat. Ia menghubungi sekertaris nya untuk menuju Mansion tempat tinggal Valerie.


Julian menugaskan sekertaris nya untuk mengurusi Vale dan membawanya ke rumah sakit.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


Singapura


"Ada apa Julian? Sepertinya ada sesuatu yang serius?" tanya Jenna yang saat itu masih berbaring di atas pembaringan di tempat tidur rumah sakit.


"Elenor menghubungiku. Dia menangis, Valerie pingsan dan aku tidak tahu apa yang terjadi." jelas Julian pada sang istri.


"Bagaimana bisa terjadi Vale bisa pingsan. Lalu bagaimana keadaannya?" tanya Jenna.


"Entahlah, aku sudah menyuruh sekertaris ku untuk mengurus Valerie. Ini emergency Jen, Dave sedang tidak ada di Indonesia sekarang. Dia sedang ada kunjungan kerja ke luar negeri. Para pelayannya bilang. Ponsel Dave tidak bisa di hubungi saat mereka hendak melaporkan keadaan Vale yang tengah pingsan." imbuh Julian menjelaskan.


"Kasian Valerie." ucap Jenna.


"Jika suaminya tidak bisa kunjung di hubungi. Sebaiknya kau terbang saja ke Jakarta. Dan bantu urus Vale. Dia sedang hamil besar kan, aku takut terjadi sesuatu dengan bayi nya dan juga Valerie." imbuh Jenna.


"Bagaimana dengan mu?"


"Aku sudah lebih baik Julian. Hanya tinggal pemulihan. Sudah ada Louis di sini, aku jadi semangat untuk segera bisa sembuh. Lagi pula ada perawat dan juga babysister Louis. Pergilah dan bantu Vale. Elenor pasti sedih melihat Mommynya seperti itu." jelas Jenna.


"Benar kamu tidak apa apa jika aku tinggal?"


"Aku serius Julian. Bantulah Valerie, aku pun juga merasa tidak tenang. Bukankah Vale tidak punya siapa siapa selain kita yang dekat dengannya. Lagi pula penerbangan antara Singapore ke Jakarta hanya perlu dua jam saja."


Setelah mendapat persetujuan dan juga saran dari Jenna. Julian akhirnya pergi ke Indonesia dengan penerbangan dadakan.


Julian saat itu juga sangat mengkhawatirkannya keadaan Valerie.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Waktu kini telah berganti malam. Usaha pencarian para korban oleh tim SAR setempat tidak membuahkan hasil.


Karena waktu sudah malam dan gelap. Pencarian para korban pun akhirnya dihentikan sementara. Dan akan disambung keesokan harinya.


Jeffrey yang saat itu tengah berada di lokasi merasa semakin dibuat tidak bisa tenang karena seseorang yang sangat ia harapkan keselamatannya ternyata masih belum bisa diketahui nasibnya.


Apakah bos nya itu masih selamat atau telah meninggal.


Tim SAR hanya berhasil mengangkat puing-puing sisa-sisa serpihan ledakan yang pada saat itu mengapung di laut.


Tetapi ke empat korban belum bisa mereka dapat temukan.


Insiden jatuhnya helikopter di lepas pantai yang terjadi pada hari itu. Menjadi ulasan berita dan topik hangat dalam liputan berita di tempat itu.


Karena yang ada di dalamnya adalah orang orang penting dalam dunia bisnis.


Bahkan beberapa media internasional pun juga ikut menayangkan kejadian naas tersebut untuk di beritakan.


Julian yang saat itu masih berada di bandara Changi airport Singapura. Tidak sengaja melihat tayangan sebuah berita melalui televisi yang mengulas tentang berita jatuhnya helikopter di lepas pantai di kota Al Bunduq.

__ADS_1


Sejenak, Julian nampak fokus dalam mendengarkan isi berita tersebut.


Dalam pemberitaan berita yang di ulas oleh seorang pembawa berita. Di sebutkan jika salah seorang korban jatuhnya helikopter adalah seorang pengusaha asal Indonesia.


Dan kini, Julian paham melalui media berita televisi yang barusan ia dengar. Jika Dave merupakan salah satu dari ke empat korban jatuhnya helikopter tersebut.


Julian pun pun mencoba menerka-nerka. Mungkin saja pingsannya Vale gara gara ia telah mendengar berita tentang sang suami.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Begitu Valerie membuka matanya. Ia terlihat sedikit bingung, karena ia berada di tempat yang berbeda. Bukannya berada di kamarnya di Mansion.


Reflek, Vale langsung menyentuh perut besarnya. Sesuatu yang sangat ia khawatirkan saat ini adalah kondisi bayinya.


Julian yang kala itu menunggu Vale di sebuah sofa yang ada di kamar rumah sakit, kemudian melangkahkan kakinya untuk mendekati Valerie.


"Valerie, kau sudah sadar." sapa Julian, sesaat setelah ia memperhatikan Vale telah sadar dari pingsannya.


"Di mana aku sekarang?" tanya Valerie bigung.


"Dan bagaimana kau bisa ada di sini. Bukankah seharusnya kau juga ada di Singapure." Tanya lagi Valerie masih dalam keadaan linglung.


"Iya, tadi siang Elle menelpon ku. Kau pingsan dan dia bigung harus minta tolong dengan siapa. Akhirnya aku memutuskan untuk kemari dengan izin Jenna." jelas Julian dengan suara lembut dan tersenyum tipis.


Sejenak, Valerie nampak berfikir. Setelah beberapa saat ia tersadar sepenuhnya. Valerie kemudian meneteskan air matanya.


"Dave." sebut Vale, memangil nama sang suami.


"Valerie, ada apa?" tanya Julian dengan lembut.


Meskipun Julian sudah tau dan sudah bisa menduga duga penyebab Vale tak sadarkan diri. Ia tidak ingin gegabah untuk membicarakan soal Dave.


Valerie kemudian bangkit dari rebahannya. Dan ia kemudian langsung memeluk pinggang Julian yang kala itu ada berdiri di samping tempat tidurnya.


Dengan kedua tangannya, Vale memeluk pinggang Julian dengan erat.


Kedua tangan Julian pun kini perlahan terangkat. Dan ia mendekapkan kedua tangannya untuk memeluk tubuh Vale yang saat itu juga sedang memeluk pinggangnya.


"Dave! Dave, Julian." ucap Vale dengan nada suara bergetar.


"Ada apa dengan Dave?" tanya Julian dengan masih berpura-pura tidak tahu.


"Dia kecelakaan, dan aku tidak tau bagaimana nasibnya sekarang." tutur Valerie sambil berurai air mata.


"Bagaimana kau tau?"


"Aku mendapatkan informasi itu dari Jeffry. Dia asisten kepercayaan Dave. Dan aku juga melihat beritanya di televisi tentang insiden itu." jelas Valerie dengan terbata bata dan disertai tangisan.

__ADS_1


"Semoga Dave tidak apa apa." tukas Julian menenangkan.


__ADS_2