Posesif Love Sang Billionaire

Posesif Love Sang Billionaire
Elenor : Bertemu Alden Sebastian Dimitri


__ADS_3

Tok tok


Sebuah pintu diketuk pelan oleh seorang pria yang kira-kira berumur 26 tahun.


Pria itu bertubuh tinggi dengan perawakan kulit putih, rambut agak pirang dan bermata abu abu.


Elenor yang saat itu tengah berada sendirian di dalam rumah sedikit terperanjat kaget saat ada yang mengetuk pintu rumah nya.


Elenor pun kemudian langsung bergegas untuk membukakan pintu rumahnya. Tapi sebelum ia benar-benar membukakan pintu. Elenor nampak mengintip terlebih dahulu lewat jendela kaca yang ada di samping pintu. Untuk memastikan siapa seseorang yang datang ke rumahnya.


Begitu Elenor membuka pintu rumahnya. Mata Elenor langsung menangkap sosok Pria yang tengah berdiri sambil menatap ke arahnya langsung.


Sejenak, kedua iris mata Elenor menelisik dan memperhatikan Pria tampan yang berdiri di hadapannya tersebut.


"Kau Elenor?" tanya Pria tampan tersebut.


"Ya, bagaimana kau bisa tau namaku?" tanya Elenor bingung.


"Tentu saja aku tau nama mu. Kau lupa ya, kita sudah pernah bertemu dulu sekali. Saat kau masih kecil. Tapi mungkin kau sudah lupa. Aku Alden, Daddy mu dan Daddy ku berteman." ucap seseorang yang bernama Alden tersebut.


Elenor pun kemudian mencoba untuk mengingat ingat sebuah nama yang baru saja Pria tampan itu sebutkan.


Alden, batin Elenor. Ia mencoba untuk mengingat ingat nama itu. Dan sekilas ia pun teringat.


"Ya, aku ingat. Bagaimana kau tau aku ada di sini? Siapa yang memberi tau mu?" tanya Elenor, langsung menondong Alden dengan berbagai pertanyaan curiga.


"Tentu saja Om Julian." jawab Alden singkat.


"Om Julian? Kau juga kenal Daddy ku?" Tanya Elle, dan Alden nampak terkekeh kecil.


"Tentu saja aku kenal dengan dekat Daddy mu. Kalau mau di ceritakan pajang ceritanya." timpal Alden.


Yang ketika itu datang dengan mengenakan pakaian kasual yang santai.

__ADS_1


"Maaf, aku tidak menerima tamu Pria masuk di ke rumah. Aku sedang sendirian. Bibik ku sedang pulang ke Indonesia untuk beberapa minggu kedepan. Jika boleh tanya. Apa ada kau kemari?" tanya Elenor lagi.


"Apa Daddy mu belum cerita!" seru Alden.


"Cerita apa?"


"Untuk sementara kamu di suruh untuk tingal bersama ku. Kita sebenarnya tingal dalam satu wilayah. Hanya saja kita beda blok. Om Julian berpesan pada ku untuk menjemput mu dan kau diminta untuk tinggal bersama ku. Tenang saja, ada kakak ku di rumah. Jadi kita tidak hanya tinggal berdua." jelas Alden pajang lebar.


Elenor kemudian berfikir sejenak.


"Aku hubungi Daddy ku dulu." ujar Elenor.


Ia pun kemudian kembali masuk ke dalam rumah dan langsung mengambil ponselnya yang ia taruh di atas nakas.


Elle pun langsung bergegas untuk menelpon Daddy nya.


"Dad!" seru Elenor begitu Julian menyapanya dari sebrang telepon.


"Ya Elle! Ada apa?" tanya Julian.


"Ya Elle. Daddy yang menyuruhnya untuk menjemput mu. Maaf kan Daddy. Daddy sibuk hari ini. Jadi Daddy belum sempat untuk menghubungi mu. Ikutlah dengannya. Jangan kawatir, aku kenal Alden dengan baik. Daddy juga kenal dengan orang tua Alden. Kakak nya bernama Isabella. Kau pasti ingat, kalian pernah bertemu beberapa kali saat masih kecil." tutur Julian menjelaskan.


"Padahal Elenor berani jika harus tingal sendirian Dad." papar Elenor.


"Tidak Elle, Daddy tidak akan izinkan kamu untuk tinggal sendirian. Nanti Mommy mu pasti akan marah besar sama Daddy. Ikutlah dengannya. Dan tinggallah beberapa untuk sementara bersama Alden. Dia akan menjaga mu. Dan Daddy juga akan merasa tenang. Alden juga masih berkuliah di Havard untuk mengambil gelar S2 nya di di sana."


"Baiklah kalau Daddy sudah menyuruh ku untuk tingal bersamanya. Tapi benar kan Dad, dia tidak tinggal sendirian di sana." Elenor merasa takut jika harus tingal berduaan saja dengan Alden.


"Dia tinggal bersama kakak perempuannya Elle. Anggap saja Alden Kakak mu. Kau bisa memangil nya Kakak jika kau mau. Karena memang dia cocok jika jadi Kakak." ucap Julian.


"Oke Dad, aku berkemas dulu. Jangan lupa berkomunikasi dengan Bibik Ratih. Tanyakan kapan dia bisa kembali ke Amerika." ujar Elenor berpesan.


"Iya Elenor ku." jawab Julian yang ia memang begitu menyayangi putri kecilnya tersebut.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


"Bagaimana, sudah mengkonfirmasi kedatangan ku kemari sama Daddy mu?" ucap Alden yang kala itu masih berdiri di depan pintu masuk rumah Elenor.


"Iya, sudah. Kalau begitu aku masuk dulu untuk bersiap-siap." ujar Elenor yang kemudian masuk lagi kedalam rumahnya.


Dasar anak remaja, tidak tau sopan santun. Kenapa dia tidak mempersilahkan aku masuk. Securiga itu kah dia pada ku. Padahal aku kesini berniat baik untuk menjemputnya. Batin Alden mengomel.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Dan berapa saat kemudian, Elenor datang lagi dari dalam rumahnya. Dengan sudah menenteng sebuah koper kecil yang ada di tangannya.


Dan ia pun juga membawa tas ranselnya yang ia taruh di pundak.


"Terima kasih sebelumnya sudah datang untuk menjemput ku. Tadi aku sudah mengkonfirmasikan semuanya sama Daddy." jelas Elenor.


"Bagus kalau begitu. Kunci lah rumah mu dulu. Setelah itu baru kita menuju rumahku." ucap Alden mengingatkan Elenor untuk mengunci rumahnya.


Setelah itu, Alden dengan sigap membantu Elenor membawakan koper milik gadis belia berumur 17 tahun tersebut.


Alden





Elenor



__ADS_1



__ADS_2