
Setelah bersarapan pagi terlebih dahulu di Mansion nya. Julian menyuruh babysister Louis untuk bersiap-siap.
Karena ia akan di ajak untuk pergi ke Singapura untuk menjaga Louis putra nya.
Dengan di antar oleh sopir pribadinya. Julian bersama babysister yang akan menjaga Louis kini menuju Mansion Valerie.
Julian sengaja tidak memberi tau kedua anaknya jika ia akan datang pada hari itu. Julian ingin memberikan kejutan untuk Elle dan Louis.
"Daddy!" seru Elenor, yang kemudian ia langsung berlari menuju ke arah Julian. Yang baru saja masuk kedalam Mansion di rumah Dave, di ruang tamu.
"Papa!" seru Loui. Yang juga langsung berlari ke arah Julian begitu ia melihat sang Papa datang.
Julian pun nampak mengembangkan senyumnya. Begitu kedua anaknya itu berlari ke arahnya dan seolah-olah sedang berlomba siapa yang akan sampai dulu an ke arahnya.
Dengan membentangkan kedua tangannya. Julian pun meraup Elenor di sisi kiri dan Louis di sisi kanan.
"Hai apa kabar anak anak Papa dan Daddy." seru Julian pada kedua anaknya.
Sambil berdiri mengedong Elle dan Louis, Julian kemudian berjalan ke arah Valerie. Yang saat itu tengah bersantai sambil membaca sebuah buku di sebuah sofa panjang di ruang tamu.
"Hai Valerie, apa kabar?" tanya Julian ramah pada mantan istrinya itu.
Dengan masih mengedong Louis dan Elenor di kedua sisi lengannya.
"Kabarku baik Julian." jawab Vale dengan ramah.
"Ellen, Louis, kalian main dulu ya. Daddy mau mengobrol sebentar." Julian kemudian melepaskan kedua anaknya dari gendongannya.
Elle dan Louis pun kemudian bermain kembali bersama tak jauh dari Julian dan Vale yang kini tengah mengobrol.
"Bagaimana dengan keadaan Jenna? Apa dia sudah membaik? Dan kapan bisa kembali ke Indonesia?" tanya Valerie menanyakan keadaan Jenna.
"Dia sudah lebih baik. Kedatangan ku kemari sebenarnya untuk menjemput Louis. Jenna sangat merindukan Louis. Sudah hampir satu minggu dia tidak melihatnya. Dan dia bilang padaku ku, jika ada Louis bersamanya, mungkin itu akan membuat kesehatan Jenna makin membaik dan dia bisa segera pulih." jelas Julian.
"Semoga Jenna bisa segera cepat pulih kembali."
"Iya, aku harap juga begitu. Dan sementara, Elenor akan tetapi bersama mu. Karena aku juga masih harus menemani Jenna selama ia berada di Singapure."
"Elle, Daddy akan pergi bawa Louis ke Singapore. Karena Mama Jenna sudah sangat kangen dengan Louis. Jadi, Elenor tetap sama Mommy dulu ya." ucap Julian pada sang putri.
"Ya Daddy. Aku akan temani Mommy di sini." jawab Elle.
"Anak pintar." jawab Julian sambil tersenyum manis menatap putrinya.
"Di mana Dave? Aku tidak melihat dia sejak tadi?" Julian bertanya tentang keberadaan Dave, karena sejak tadi ia merasa tidak melihat Dave.
"Dia sedang tidak berada di rumah sekarang. Baru semalam dia pergi ke Dubai. Ada sedikit masalah dengan pekerjanya di sana."
"Oh, semoga urusannya lancar." timpal Julian.
Julian dan Valerie pun kembali berbincang-bincang ringan.
Hubungan baik di antara kedua mantan pasangan suami istri itu terjalin begitu akrab.
__ADS_1
Sesekali mereka juga membahas tentang anak mereka, Elenor.
Sambil bermain, Elenor nampak melirik kearah kedua orang tuanya yang kala itu sedang berbincang-bincang.
Dan hal itu membuat Elenor tersenyum.
"Sudah berapa bulan kandungan mu? Sepertinya kandungan mu sudah semakin besar." tanya Julian, yang melihat perut Valerie semakin membesar.
Sambil menyentuh perutnya, Valerie kemudian menjawab pertanyaan Julian.
"Usianya sudah 9 bulan. Prediksi dari dokter 2 minggu lagi aku akan lahiran. Karena aku ingin melahirkan secara normal. Maka proses persalinan nya bisa maju ataupun bisa saja mundur."
"Laki-laki atau perempuan baby-nya?" tanya lagi Julian merasa sangat penasaran.
"Dave ingin kelahiran anak ini menjadi sebuah kejutan untuknya. Aku sendiri pun juga tidak tahu dia perempuan atau laki-laki. Karena Dave sudah memutuskan untuk di buat surprise. Aku hanya bisa menurut saja. Kami hanya tahu bayi kami di dalam sini sangat sehat."jawab Valerie.
"Semoga persalinan mu nanti lancar Valerie. Aku harap kau bisa melahirkan baby mu dengan lancar. Diri mu dan baby nya juga sehat." Julian nampak memberikan dukungan dan semangat untuk Vale.
"Terimakasih Julian."
Dan sejenak, Julian nampak teringat dengan proses persalinan yang dulu pernah Valerie alami ketika melahirkan Elenor.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Flashback: on
"Vale ada apa," tanya Julian ketika ia mengangkat telepon nya. Saat itu Julian sedang berada di kamarnya.
"Cepat turun, sepertinya aku hendak melahirkan. Ada darah dan lendir di ****** ***** ku." ucap Vale.
Dan beberapa saat, Julian yang tadi bangun langsung mendatangi kamar Mama nya dan memberi tau jika Vale hendak melahirkan.
Roseline dan juga Julian bersama sama mendatangi kamar Vale.
"Vale, apa yang kau rasakan?" tanya Roseline pada menantunya dengan lembut.
"Aku merasakan mulas yang tiba-tiba datang dan tiba tiba pergi Ma." jawab Vale sambil memegangi perutnya.
"Sepertinya kamu akan melahirkan. Julian, siapkan mobil untuk membawa Vale ke rumah sakit." permintaan Roseline.
"Iya Ma." jawab Julian sedang sedikit bernada panic.
Dan malam itu, Julian dan Roseline membawa Valerie ke sebuah rumah sakit bersalin yang sudah mereka pilih sebelumnya.
Sesampainya Vale di rumah sakit, Vale langsung di periksa oleh tim dokter yang akan membantunya melahirkan secara normal.
Julian nampak mondar-mandir tidak tenang ketika berada di samping Valerie yang kala itu sedang diperiksa oleh tim dokter.
Dia sangat khawatir dan juga sangat kasihan terhadap Vale yang meringis kesaksian menahan rasa mulas itu.
"Tenang Julian, memang seperti itu rasanya jika seorang wanita hendak melahirkan" ucap Roseline yang menyaksikan puteranya sejak tadi tidak bisa tenang.
Karena pembukaannya belum lengkap, sang dokter menyarankan agar Vale untuk berjalan jalan di dalam ruangan kamar bersalin. Agar bisa membuat pembukaannya lengkap.
__ADS_1
"Vale apakah tidak ada obat atau apa yang bisa membuat mu tidak merasakan kesakitan?" guman Julian ketika menemani Vale berjalan mondar-mandir di ruangan.
"Kau tenang saja, aku menikmati rasa sakit ini." jawab Vale yang masih sempat berusaha untuk tetap tersenyum.
"Maafkan aku jika selama ini aku menyakiti hati mu. Aku tidak bisa membalas cinta mu. Tapi kau tau kan, aku sangat sayang dengan mu. Kita akan selalu saling berkaitan. Maafkan aku Vale."
"Aku memaafkan mu, jangan khawatir. Aku tidak akan menuntut apa apa dengan mu."
Dan beberapa jam setelahnya, saat pembukaannya kini sudah lengkap. Vale di pindahkan ke ruang bersalin.
Dan di ruang itulah Vale berjuang untuk melahirkan putrinya. Julian dengan setia mendampingi Valerie.
Dan kini, di atas tempat tidur di ruang bersalin. Valerie tengah berjuang untuk melahirkan putrinya.
"Ayo, Nyonya Valerie anda bisa. Dorong sedikit lagi," ucap sang dokter perempuan yang membantu Valerie melahirkan.
"Sakit dokter," ucap Vale berteriak, sambil di iringi tangisan lirih.
Buliran keringat bercampur ari mata membasahi wajah cantik Valerie. Wajah putih mulus itu kini penuh dengan peluh keringat.
Dengan berpegangan pada handel besi yang ada di sisi ranjang, serta satu tangannya yang lain berpegangan erat dengan tangan Julian. Vale terus berjuang untuk bisa melahirkan putrinya.
"Julian, sakit sekali." ucap Valerie berucap sambil terus meremas tangan Julian. Ia tidak pernah membayangkan jika rasanya melahirkan akan sesakit itu dan seolah-olah dia kini sedang berada di abang kematian.
"Kau bisa Vale, kau bisa." ucap Julian menyemangati. Kemudian Julian melabuhkan kecupan di kening Vale.
"Sedikit lagi, kepala nya sudah mulai tampak Nyonya." ucap sang dokter menyemangati Vale.
Vale pun kembali mengatur nafas nya dan bersiap untuk mengejan dengan kuat.
"Hemmmmmmmm," desis Vale, mengejan sekuat mungkin.
Dan akhirnya, sebuah suara tangisan bayi langsung menggema. Mendominasi suara di rumah itu.
"Owek....Owek...owek.."
Sebuah tangis keras bayi perempuan yang cantik kini berhasil dilahirkan Valerie dengan selamat.
Flashback: off
"Julian!" seru Valerie, memangil Julian. Karena pada saat itu Julian justru malah melamun.
"Oh, iya." jawab Julian, yang baru tersadar dari lamunannya.
"Kamu kenapa?" tanya Vale.
"Tidak ada. Aku hanya ingat dulu dengan persalinan mu. Ketika kamu sedang melahirkan Elenor. Kalau begitu aku pamit. Aku harus segera berangkat ke bandara. Pesawatnya terbang jam jam 11 siang." tutur Julian.
"Oke, hati hati di jalan. Salam untuk Jenna."
"Nanti aku sampaikan. Jenna juga menitip salam untuk mu. Dia berterima kasih untuk mu karena kamu dan Dave sudah mau menjaga Louis."
"Tidak masalah." Setelah itu, Julian dan Louis pamit.
__ADS_1
Vale dan Elenor mengantarkan Julian dan Louis sampai di pintu depan.
Setelah mereka sudah benar-benar pergi dan saling melambaikan tangan. Vale kemudian mengajak Elenor untuk kembali masuk kedalam.