Presdir Jatuh Cinta

Presdir Jatuh Cinta
BAB 11 (Perjodohan)


__ADS_3

"sudah ku duga kau akan berada disini"


Sebuah suara memecahkan keheningan taman dan udara pagi yang sejak tadi dinikmati Nirmala.


"anda lagi?" Nirmala berbalik dan mengerutkan keningnya melihat Angkasa berdiri sambil bertolak pinggang.


"siapa bilang pekerja boleh libur di hari senin?"


Angkasa kemudian duduk di samping Nirmala.


"anda sendiri, apa yang anda lakukan disini?" Nirmala kembali menatapi pemandangan pagi taman itu.


"apa itu kebiasaanmu mengajukan pertanyaan pada orang yang bertanya?"


"aku memang pekerja tapi aku bossnya jadi aku bisa libur kapan saja" jawab Nirmala santai


"ck" Angkasa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya


"anda yang bekerja di perusahaan besar mana boleh bolos begini" Nimala kemudian menatap Angkasa tajam.


"anda mau di pecat?" Lanjut Nirmala masih dengan tatapan tajamnya.


"kau banyak bicara sekali yah" Angkasa menyentil dahi Nirmala pelan.


"aww" Nirmala memegang dahinya yang disentil.


"apa aku pernah bilang kalau aku mungkin menyukaimu?" kali ini nada bicara Angkasa terdengar serius.


Nirmala yang hampir berteriak pada Angkasa yang menyentilnya jadi terdiam.


Angkasa menatap pada Nirmala kemudian melanjutkan perkataannya.


"ayo kita berkencan. aku harus memastikan sesuatu"


Nirmala masih terdiam membalas tatapan Angkasa mencoba mencari tahu apa pria di depannya sedang bercanda atau serius lewat tatapan Angkasa.


"ak-aku rasa anda tidak sedang bercanda" tanya Nirmala terbata.


"aku memang sering bercanda sebelumnya tapi aku sangat serius sekarang" tatapan Angkasa semakin tajam pada Nirmala yang sudah terlihat gugup didepannya.


"t-ta-tapi..." Nirmala berusaha memahami apa yang sedang terjadi dan apa yang baru saja Angkasa katakan padanya.


"ayo kita berkencan 3 kali lalu aku akan memutuskannya" Angkasa berusaha membujuk Nirmala yang terlihat sangat bingung sekarang.

__ADS_1


"t-tidak mau" jawab Nirmala dengan sedikit teriakan kemudian berlari pergi tanpa memperdulikan Angkasa yang masih mencerna jawabannya.


"apa?....heii tunggu?...Nirmala..." Angkasa tak mengerti dengan tingkah Nirmala sekarang.


"bagaimana bisa dia menolakku tanpa berfikir kemudian pergi" Angkasa kemudian hanya bisa memijat keningnya.


"apa yang baru saja kulakukan" gumam Angkasa dalam hati.


"huh dasar perusak suasana" Nirmala berlari-lari kecil menuruni anak tangga.


"aku pasti sudah gila" Angkasa masih bergumam sendirian di tempatnya dan memberantakan rambutnya frustrasi.


...****************...


Nirmala berbaring di ranjangnya menatap langit-langit kamarnya.


kata-kata Angkasa kembali terngiang di ingatannya


"ayo kita berkencan 3 kali lalu aku akan memutuskannya"


"ck...dasar brengsek. apa dia pikir aku semudah itu diminta berkencan lalu seenaknya diminta berhenti" Nirmala bergumam sendirian di dalam kamarnya.


Sementara diwaktu yang sama Angkasa juga sedang berbaring di ranjangnya sambil menutup kepalanya dengan bantal.


"ck padahal aku sudah sangat serius"


driiiitt...driiittt...driiiitt...


ponsel Angkasa berbunyi. Sementara Angkasa yang enggan bangun hanya meraba-raba meja di samping ranjang berusaha menemukan ponselnya.


Angkasa berhasil menemukan ponselnya tapi karna terlalu lama panggilan itu jadi berhenti. baru saja Angkasa hendak menyimpan ponselnya kembali tapi ponselnya kembali berbunyi.


Tanpa melihat siapa yang melakukan panggilan di ponselnya dia langsung mengangkatnya.


"Haloooo"


"kau di mana sekarang?" terdengar suara perempuan di sebrang telfon itu.


"ib-ibuu?" Angkasa bangkit dari tidurnya kaget mendengar suara itu


"iya ini ibu.kenapa kaget begitu?"


Angkasa memeriksa nama di panggilan telfonnya lalu memberenggut rambutnya merasa kesal karna tak melihat terlebih dahulu siapa yang memanggilnya sebelum mengangkatnya.

__ADS_1


"ibu aku sedang sibuk jadi sudah dulu" Angkasa buru-buru hendak mematikan panggilan tapi...


"ayahmu akan menjodohkanmu dengan putri dari Sanjaya Group"


Perkataan ibu Angkasa di sebrang telfon berhasil membuat Angkasa terdiam.


"Halooo...apa kau mendengar ibu?...haloo Angkasa?"


Angkasa tak memperdulikan ibunya dan mematikan ponsel setelah mendengar itu.


Lalu Angkasa bergegas mengambil jaket dan kunci mobilnya kemudian pergi.


Angkasa melajukan mobilnya kencang membelah ramainya ibu kota raut wajahnya mengatakan bahwa dia sedang berusaha mengontrol emosinya sekarang.


Sampai di pekarangan rumanya Angkasa langsung turun dan masuk ke dalam rumah.


"dimana Ayah?" tanya Angkasa pada salah satu pelayan rumahnya.


"Tuan ada di ruangannya" jawab pelayan tersebut


setelah mendengar itu Angkasa langsung menuju ruangan Ayahnya


"Aku sudah katakan pada ayah jangan mengatur apapun tanpa sepengetahuanku"


Angkasa berteriak marah begitu sampai dalam ruangan ayahnya


"Aku sudah katakan pada ayah kau boleh mengatur apapun tapi tidak dengan pernikahanku" kali ini suara Angkasa sudah sedikit pelan


"Perjodohan? Sejak awal sudah kukatakan aku tak mau dijodohkan"


"Ini tidak akan terjadi kalau kau segera membawa calonmu kan"


"Aku sudah bilang akan membawa calonku, kau hanya perlu menunggu, aku akan menikah jika aku ingin!!!"


Angkasa menarik nafas berusaha meredakan emosinya.


"Sekarang aku akan melakukan apapun yang aku inginkan" Angkasa langsung pergi setelah itu.


"Angkasa sayang jangan membantah...." ibu Angkasa berusaha membujuk Angkasa.


Angkasa tak peduli dan terus melangkah keluar dari rumah itu. Nenek yang menyaksikan itu hanya diam dan memandang kepergian cucunya.


.

__ADS_1


.


__ADS_2