Presdir Jatuh Cinta

Presdir Jatuh Cinta
BAB 34 (Ditemukan)


__ADS_3

Hujan sudah mulai reda begitu juga tangis Nirmala. kini Dirgantara kembali duduk di kursinya. Dia menatap kakaknya yang menatap bunga-bunga di balik kaca ruamah mereka yang masih di dijatuhi tetesan-tetesan air hujan.


"kau benar ini bukan hanya agar kau tidak disakiti orang-orang kota itu tapi saat kakak memutuskan untuk datang kesini kakak fikir ini akan lebih mudah lagi pula kakak sudah pernah melewati hal yang lebih sulit bagaimana bisa melupakannya menjadi hal sulit. tapi rupanya kakak salah, ini tak semudah yang kakak fikiran"


Dirgantara menghela nafas kasar mendengar penjelasan kakaknya.


"kakak pasti sudah benar-benar jatuh cinta padanya"


Nirmala menoleh pada Dirgantara dan sedikit tersenyum.


"Kakak terjebak" jawabnya


"jadi apa yang akan kakak lakukan sekarang?"


"membiarkan dia menemukan kakak"


"eih apa itu mungkin? ditempat terpencil ini?"


"tentu saja dia harus berusaha"


kemudian mereka saling memberi tatapan konyol dan tertawa bersama. sesederhana itu kebahagian mereka. meski telah dihantam kesedihan yang begitu dahsyat. senyum dan tawa masih terukir indah di wajah mereka.


Nirmala berharap mereka terus seperti ini saja sudah cukup tapi rupanya rasa rindu juga menghantam sisi hatinya yang lain. yang sekuat apapun Nirmala sembunyikan selalu bisa Dirgantara lihat di setiap tatapan kakaknya.


Sementara ditempat yang jauh dari keberadaan Nirmala dan Dirgantara. di ramainya kendaraan berlalu lalang. ditempat dimana gedung pencakar langit berada.


Angkasa memandang matahari yang hampir tenggelam diantara gedung-gedung tinggi itu.


Angkasa menghisap rokoknya pelan kemudian menghembuskan asapnya.


"Tuan aku rasa ini sudah waktunya pulang"

__ADS_1


tanya Dion yang baru saja tiba diatap gedung perusahaan dimana Angkasa berada.


"pulanglah aku masih ingin tinggal" jawab Angkasa kemudian kembali menghisap rokoknya lagi.


"anda juga harus pulang tuan. sudah tidak ada pekerjaan mendesak lagi"


Angkasa kembali menghisap rokoknya kemudian membuang puntungnya ke tempat sampah.


"pulang saja tidak perlu menghawatirkanku" jawabnya lagi sambil kembali mengeluarkan rokok dari bungkusnya.


Dion mengambil rokok yang hendak dibakar Angkasa beserta bungkusnya yang kebetulan masih ada di tangan Angkasa.


"ini sudah rokok ke lima sejak anda berdiri di sini tuan"


Angkasa menghembuskan nafasnya kasar sedikit kesal karna Dion mengambil rokoknya.


"baiklah kita pulang"


Angkasa yang juga menyadari sudah berlebihan memilih diam dan melangkahkan kakinya.


"hati-hati di jalan" ucap Angkasa kemudian turun dari mobil.


namun Angkasa terdiam karna rupanya Dion juga turun dari mobil.


"aku akan menginap disini. wc apartemenku sedang buntu" jelas Dion melihat tatapan tuannya yang penuh tanda tanya. dia kemudian berjalan memasuki apartemen.


"wcnya buntu?" gumam Angkasa dengan mengerutkan keningnya kemudian buru-buru mengikuti Dion.


kini Angkasa selesai mandi dan keluar dari kamarnya mengambil air minum. dia mendapati Dion sedang memasak di dapur.


"kau bisa memasak?" tanyanya.

__ADS_1


"aku sudah hidup mandiri sejak aku kuliah tuan"


Angkasa mengguk-mangguk mendengarnya kemudian berjalan ke ruang tamu setelah mengambil segelas air putih.


tak berselang berapa lama setelah Angkasa merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu Dion datang.


"tuan. ini waktunya makan malam"


"hm makanlah. aku tidak lapar"


"tapi aku menbuat banyak makanan yang tidak akan enak jika dipanasi"


Angkasa mengerutkan keningnya berusaha memahami maksud Dion.


"ah aku akan membuangnya saja" gumam Dion yang bisa didengar Angkasa kemudian dia berjalan kembali ke dapur.


Angkasa masih terdiam memaknai perkataan Dion.


kemudian menghela nafas kasar dan berdiri lalu menyusul Dion ke dapur.


"aku rasa dia sudah gila" gumamnya kesal.


Selesai makan malam Dion membersihkan dapur sementara Angkasa kembali ke kamarnya dan tidur. setelah membersihkan dapur Dion masuk ke kamar Angkasa mendorong pintu kamarnya pelan. Dion mengambil bantal dan selimut dari dalam lemari.


sebelum keluar dari kamar Dion sempat memperhatikan tuannya sebentar. dia terlihat kurus wajahnya dipenuhi bulu-bulu jenggot dan kumis yang masih halus.


Dion menghela nafasnya kasar.


"kenapa dia hidup seolah tak ingin hidup begini" gumam Dion sebelum kemudian melangkah keluar dan tidur di sofa ruang tamu.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2