
Angkasa mengemudi dengan perasaan bahagia sambil menggenggam tangan Nirmala. dia skali-skali menoleh pada Nirmala yang duduk di sampingnya.
Hari ini Nirmala menutup tokonya lebih cepat karena mereka berencana pergi menonton.
"apa anda sebahagia itu?" tanya Nirmala yang melihat Angkasa terus tersenyum sejak tadi.
"hm tentu saja" jawab Angkasa yang menoleh dan tersenyum pada Nirmala.
Nirmala terkekeh mendengar jawaban Angkasa.
Kini film telah selesai dan mereka berjalan-jalan keluar lalu mereka duduk-duduk di taman Mall tersebut.
Angkasa mengeluarkan rokoknya lalu membakarnya. melihat itu Nirmala mengerutkan keningnya memperhatikan Angkasa.
Angkasa menghisap rokoknya dengan sangat nikmat dan baru menyadari Nirmala menatapnya dari tadi.
"ada apa sayang?" tanya Angkasa pada Nirmala.
"mm aku tidak tahu kalau anda perokok" jelas Nirmala.
"ah rokok?"
"aku tidak pernah melihat anda merokok sebelumnya"
"aku memang tidak merokok sebelumnya lalu satu waktu aku mencobanya dan ternyata ini enak juga"
"ck"
Nirmala hendak melangkah menjauh setelah mendengar penjelasan Angkasa. dia tidak terlalu menyukai bau dan asap rokok.
Namun Angkasa segera mematikan rokoknya dan membuangnya ke tempat sampah lalu menggenggam tangan Nirmala.
"baik maafkan aku" jelasnya
Angkasa kemudian menggandeng tangan Nirmala dan berjalan menuju parkiran mobil.
Terbayang kembali saat itu dia sangat frustasi karna tidak menemukan keberadaan Nirmala.
saat itu Angkasa terus mendatangi taman dimana ia biasa bertemu dengan Nirmala hampir setiap hari namun dia tidak pernah mendapati orang yang dicarinya disana.
Angkasa juga memantau rumah dan toko roti Nirmala hampir setiap hari dan kedua bangunan itu juga terlihat sepi.
Lalu Angkasa juga meminta seseorang berkunjung ke rumah bibi dan paman Nirmala berharap dia dan adiknya ada disana namun ternyata tak ada juga.
Angkasa berjalan jalan di trotar dan menaiki bus malam mengingat kembali perjalanan mereka malam itu. Nirmala adalah orang pertama yang mrmbuatnya naik bus.
bulan demi bulan berlalu dan dia tak menemukan kabar atau keberadaan Nirmala.
pada Akhirnya Angkasa frustasi dan mendatangi sebuah bar bersama teman-temannya. dia mulai mencoba merokok dan rupanya itu cukup meringankan kepalanya.
sejak dulu dia selalu ditawari merokok namun ia selalu menghindarinya karna dia tahu itu tidak sehat. namun karna frustasi dia mulai merokok dan kini bahkan sudah terbiasa.
Angkasa menghela nafas mengakhiri masa-masa yang sulit itu bersamaan mereka sampai diatas mobil dan melajukan mobilnya.
"Aku tidak marah karna anda merokok. aku hanya menjauh karna tidak suka bau dan asapnya"
jelas Nirmala yang merasa aneh karna Angkasa diam sejak tadi.
Angkasa menoleh sebentar lalu menggenggam tangan Nirmala.
"iya sayang aku tahu"
__ADS_1
Nirmala akhirnya tersenyum
"tapi tuan Angkasa. sejak kapan anda mulai merokok dan kenapa tiba-tiba?"
Angkasa mengerutkan keningnya.
lalu tiba-tiba ia meminggirkan mobilnya.
dan sekarang Nirmala yang mengerutkan keningnya.
"tuan Angkasa ada apa?"
Angkasa menghela nafas kasar setelah memarkir mobilnya dan menoleh pada Nirmala yang menatapnya bingung.
"sampai kapan kau akan memanggilku tuan Angkasa?"
Nirmala terhenyak kemudian tersenyum kikuk
"ah benar. itu..." Nirmala menggaruk-garuk lehernya yang tidak gatal.
"mm memangnya harus aku panggil apa?"
"panggil sayang seperti aku" jawab Angkasa cepat.
Nirmala terdiam dengan memasang senyum manisnya.
"kenapa? tidak mau?" tanya Angkasa lagi seperti mengetahui gelagat kekasihnya ini.
"b-bukan begitu t-tapi bukannya itu agak canggung?"
"canggung bagaimana akukan memang pacarmu"
"t-tapi tuan Angkasa..."
"tuan Angkasa lagi? memangnya kau sekertarisku?"
"hh bagaimana kalau panggil Angkasa saja"
Angkasa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"tidak tidak. aku mau dipanggil sayang"
Nirmala mengerutkan keningnya dengan tersenyum kaku.
"mm ba-baik Sa-sayang"
begitulah hari mereka berlalu dengan kebahagiaan dan pertengkaran-pertengkaran kecil yang pada akhirnya akan membuat mereka berdua semakin belajar satu sama lain dan lebih menyayangi.
Namun bukan hidup namanya jika hanya ada kebahagian.
Sudah beberapa bulan sejak mereka berpacaran dengan penuh kebahagiaan dan masalah yang sudah mereka lewati tapi sepertinya sesuatu yang berbeda akan dimulai hari ini.
Seorang perempuan paruh baya turun dari mobil mewahnya lalu memasuki toko roti milik Nirmala.
"Selamat datang di toko kami" sapa Nirmala saat melihat wanita itu.
Wanita itu menatap Nirmala tanpa ekspresi kemudian duduk di bangku kosong.
dan seorang pria dengan setelan jas lengkap menghampirinya. mengatakan akan mengosongkan toko untuk sementara waktu karena. wanita itu ingin berbicara dengan Nirmala. Nirmala mengerutkan keningnya merasa bingung.
Anehnya Nirmala merasa gugup saat hendak menghampiri wanita itu. padahal dia tidak tahu siapa sebenarnya wanita itu.
__ADS_1
"Selamat siang nona"
"selamat siang"
"apa benar nama mu Nirmala?"
"i-iya benar. jika boleh tahu anda siapa?"
"perkenalkan saya ibu Angkasa"
jawab wanita itu dingin. matanya memeriksa seluruh isi toko dengan tatapan risih.
Jawaban wanita itu berhasil membuat Nirmala kaget dan menelan salifanya kasar.
"sejak kapan kau menjalankan bisnis roti ini?"
tanyanya wanita itu lagi tak memperdulikan keterkejutan Nirmala.
"em se-sebenarnya ini dimulai oleh ibuku. aku hanya melanjutkannya sejak 2 tahun yang lalu"
"dua tahun lalu? berapa umur mu sekarang?"
Dengan perasaan deg-degan Nirmala terus menjawab pertanyaan wanita ini. wanita yang mengaku sebagai ibu dari kekasihnya Angkasa Perwira Putra.
"em du-dua puluh satu tahun nyonya"
"dua puluh satu tahun? kau tidak kuliah?"
kali ini wanita itu memberi tatapan menyelidik.
Dan pertanyaan selanjutnya berhasil membuat nafas Nirmala sedikit tercekat sebelum menjawabnya. perntanyaan ini juga cukup menggores hati Nirmala.
"em ak-aku harus bekerja untuk membiayai hidup ku dan adikku"
wanita itu terlihat mengerutkan keningnya mendengar jawaban Nirmala.
"orang tuamu tidak membiayamu? apa pekerjaan ayahmu?"
cecar wanita itu lagi.
Nirmala menghembuskan nafas kasar sebelun kemudian menjawab.
"mereka sudah meninggal nyonya"
Wanita itu terdengar menghembuskan nafas kasar mendengar jawaban Nirmala.
"Sebenarnya aku datang kemari hanya untuk mendengar langsung informasi yang telah orang-orangku dapatkan"
Wanita itu diam sebentar memandangi Nirmala dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. kemudian melanjutkan perkataannya.
"aku tahu ini akan menyakitimu tapi maaf. aku tidak suka kau dekat-dekat dengan putraku jadi.... jauhi dia. aku harap kau mengerti hingga aku tak perlu datang ke tempat ini lagi"
Setelah mengatakan kata-kata yang menyakiti Nirmala wanita itu melangkah dengan anggun keluar dari toko roti.
Sementara Nirmala hanya bisa menunduk menahan air matanya mendengar apa yang baru saja wanita itu katakan.
.
.
.
__ADS_1