
"apa ada kabar dari Angkasa?" Tuan Aditya Perwira sedang menikmati kopi sambil membaca koran di sore hari.
"tidak ada. Dia bahkan tidak menghubungiku sama sekali" Jawab Nyonya Aditya sambil mengupas buah.
Di depan kursi yang diduduki Ny. Aditya duduk ibu dari Tuan Aditya, nenek dari Angaksa Perwira Putra.
Orang-orang memanggilnya Nyonya Perwira. Dia sedang membuat rajutan sambil skali-skali memperbaiki posisi kacamatanya.
"Anakmu akan lari jika kau terus memperlakukannya seperti itu"
Nyonya Perwira yang tidak memperdulikan pembicaraan mereka sejak makan malam 2 minggu yang lalu tiba-tiba mulai bicara.
"ibu usianya memang sudah cukup untuk menikah" Ny.Aditya menanggapi
"tapi bukan berarti kalian bisa mendesaknya"
Kini Ny.Perwira mengehentikan kegiatan merajutnya dan menoleh kearah putranya yang dari tadi tidak menanggapi perkataannya.
Seperti mengetahui sang ibu sedang menatapnya Tuan Aditya akhirnya menurunkan koran dari hadapannya kemudian melipatnya dan menyimpannya di meja.
"bukankah kita harus mempersiapkan masa depan perusahaan secepatnya ibu" Akhirnya Tuan Aditya menanggapi
"ck hidup ini benar-benar melelahkan" mendengar tanggapan anaknya Ny.perwira beranjak dan meninggalkan anak dan menantunya diruang tamu.
...****************...
"Nirmala sedang apa?"
Sebuah pesan kembali masuk dengan nomor yang sama seperti semalam. meskipun Nirmala belum membuka pesan tersebut dia bisa melihatnya di notifikasi.
Nirmala mengerutkan keningnya.
"siapa orang ini?" Nirmala bergumam dalam hati
__ADS_1
Lagi-lagi Nirmala mengabaikan pesan tersebut dan memilih melanjutkan kesibukannya menyiapkan pesanan pelanggan.
Banyak pelanggan berdatangan hari ini membuat Nirmala kewalahan menghadapinya mamun karna banyak pelanggan, Roti jadi lebih cepat habis dari biasanya.
Nirmala berbaring di ranjang istirahatnya lalu melihat jam tangannya. jam menunjukkan pukul 16.35.
"aku akan tidur sebentar lalu pulang" gumam Nirmala kemudian mulai memejamkan matanya.
Angkasa baru saja keluar dari gedung perusahaannya dengan menyetir mobilnya sendiri tapi tiba-tiba berhenti didepan toko roti. Dia kemudian menurunkan kaca mobilnya.
"sudah tutup?...jam segini sudah tutup?"
Angkasa kemudian hanya menghela nafas dan menggeleng-gelengkan kepalanya
"kau banyak bersenang-senang rupanya"
Angkasa kembali menginjak gas dan melajukan mobil kesayangannya.
"Astagaaaa" Angkasa berteriak kaget melihat seseorang sedang duduk di ruang tamunya.
"wah nenek mengagetkanku...apa yang sedang nenek lakukan di apartemenku"
Angkasa mengelus dadanya karna kaget kemudian berjalan menuju kulkas lalu meminum segelas air putih.
"nenek merindukanmu" Ujar Ny.Perwira santai
"aku malas pulang kerumah" Jawab Angkasa kemudian duduk di kursi disamping neneknya.
"nenek tahu makanya datang kesini"
"ugh aku suka nenek yang selalu di pihakku" Angkasa memicingkan matanya bercanda pada neneknya
"ugh aku tidak suka cucuku yang acak-acakan begini" Ny.Perwira balik memicingkan matanya bercanda pada Angkasa.
__ADS_1
mendengar itu Angkasa memperhatikan tubuhnya sendiri. kaki kemejanya diluar celana sebelah, dasinya longggar tak lagi menempel di lehernya dan rambutnya awut-awutan.
"yang penting cucumu ini masih gagah" Jawab Angkasa sambil meperbaiki rambutnya
"ck pantas saja kau tidak punya pacar" Ny.Perwira menggeleng-gelengkan kepalanya
"nenek pacaran hanya akan membuang-buang waktu kerjaku"
Ny.Perwira menarik nafas kasar
"kau harus segera memperkenalkan pacarmu jika tak ingin dijodohkan" kata Ny.Perwira kemudian dengan serius.
Angkasa mengerutkan keningnya
"Kau tahu sendiri ayahmu bukan tipe orang yang bisa dihentikan"
Angkasa terdiam mendengar perkataan neneknya.
Benar selama ini sekuat apapun Angkasa memberontak ayah selalu pemenangnya. satu kata keluar dari mulut ayah buat Angkasa adalah perintah yang tak akan pernah ditarik kembali.
"jadi nenek datang untuk memberitahuku ini" Angkasa menjawab lemas karna paham apa yang dikatakan neneknya.
"nenek tahu kau tertekan tapi ini satu-satunya jalan agar kau bisa sedikit bernafas"
Mereka terdiam sebentar setelah itu kemudian Ny.Perwira melanjutkan...
"menikah dengan orang yang tidak dicintai adalah hal yang akan disesali selama hidup kita, kau akan beruntung jika selama pernikahanmu kau bisa pelan-pelan mencintainya tapi kalau tidak kau akan tersiksa. Nenek harap kau bertindak lebih cepat dari ayahmu" Ny.Angkasa kemudian berdiri dari duduknya dan pamit.
Angkasa berbaring di sofa panjangnya dan memijat pelipisnya rasanya kepalanya semakin nyutnyutan mendengar semua kata-kata neneknya.
"rasanya aku ingin menyerah saja pada semua ini" Gumama Angkasa dalam hati
.
__ADS_1