Presdir Jatuh Cinta

Presdir Jatuh Cinta
BAB 30 (Melarikan diri)


__ADS_3

Mungkin sekitar pukul satu tengah malam. Nirmala terbangun dan mendapati Dirgantara tidur di sampingnya.


Nirmala menghela nafas memandangi wajah adiknya yang tidur dengan nyaman.


Nirmala mengusap-usap kepala adiknya.


"Kakak sudah bangun" gumam Dirgantara dengan mata yang masih terpejam.


"Apa kakak membangunkanmu?"


Kini Dirgantara membuka matanya dan menatap kakaknya yang tepat berada di depannya.


"tidak apa-apa" jawab Dirgantara sambil mengusap pipi kakaknya yang masih sembab.


"Kakak ada banyak wartawan diluar tadi"


Nirmala menghela nafas kasar mendengar perkataan Dirgantara.


"Maafkan kakak" kini air mata Nirmala kembali mengalir.


"Aku percaya pada kakak" Dirgantara kembali mengusap pipi kakaknya.


Nirmala tersenyum mendengar perkataan adiknya.


"Kita harus melarikan diri" jelas Nirmala kemudian.


"Melarikan diri? Kemana?"


"Ke suatu tempat yang tidak akan ditemukan oleh siapapun"


Nirmala dan Dirgantara sudah berada di rumahnya dan mengemas pakaiannya.


Nirmala sudah mengemas semua pakaian dan barang-bangnya lalu memandangi foto keluarganya di meja kerjanya. Nirmala mengusap foto itu kemudian memasukkannya ke koper.


Mereka kemudian langsung naik taksi menuju halte bus dan kini mereka berdua sudah berada di sebuah bus menuju desa.


Nirmala memandangi pemandangan matahari terbit keluar jendela. sementara Dirgantara tertidur di bahu kakaknya.


Sesekali Nirmala memandangi adiknya yang tertidur nyenyak di bahunya.

__ADS_1


"Apa kita akan ke kampung yang sering kakak ceritakan itu?"


"Iya. Kampung itu cukup terpencil jadi kakak yakin kita bisa memulai sesuatu yang baru di sana"


"Baiklah kakak"


"Maaf karna kau harus pindah sekolah secara tiba-tiba"


"Aku menyukai teman sekolahku tapi aku lebih menyukai kakak"


Jawaban Dirgantara selalu berhasil membuat Nirmala merasa tenang.


Mungkin begitulah perbincangan mereka dalam perjalanan sebelum mereka sampai.


Sekitar pukul sembilan pagi menuju siang akhirnya mereka sampai di kampung tujuan mereka.


Mereka berjalan membawa koper mereka dan sampailah mereka pada sebuah rumah minimalis sederhana.


"Rumah ini tidak terlihat seperti rumah tua"


"Ayah merenovasinya empat bulan sebelum mereka pergi dan ada bang Dadang bersama istrinya yang selalu merawat rumah ini"


"Ayo kita masuk" ajak Nirmala.


Dirgantara kemudian mengukuti kakaknya dari belakang.


...***********...


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh menuju siang Angkasa akhirnya terbangun dari tidurnya. Kini dia sudah merasa lebih baik karna sudah bisa duduk meskipun tidak berpindah dari ranjangnya.


Dion yang melihat tuannya berusaha duduk segera membantu namun dilarang oleh Angkasa.


"Apa ponselnya masih belum aktif?"


"Tuan seb-sebenarnya" Dion tergagap karna bingung bagaimana memberitahu Angkasa apa yang sedang terjadi.


"Ck... jangankan datang dia bahkan tidak mengaktifkan ponselnya" gumam Angkasa lagi.


Tinggg...

__ADS_1


Sebuah pesan masuk ke ponsel Dion membuatnya semakin gugup setelah membacanya.


"T-tuan sebenarnya aku ingin memberitahu anda jika sudah sehat tapi masalah ini sudah benar-benar diluar dugaan"


Angkasa mengerutkan keningnya mendengar penjelasan sekertarisnya.


"Apa terjadi sesuatu terjadi" gumamnya dalam hati.


Angkasa terus menatap Dion menunggu penjelasan lanjutannya.


Sementara Dion dengan seluruh rasa khawatir dan kegugupannya akhirnya memperlihatkan video saat Nirmala ditampar oleh Tasya. Sekaligus memberitahu bahwa ada rapat dengan pemegang saham hari ini karna skandal itu.


Angkasa terdiam mengetahui apa yang terjadi. Ini masalah besar. Dan yang ingin Angkasa ketahui selanjutnya adalah...


"Apa kabar gadis itu sekarang? Apa kabar Nirmala sekarang?" Tanyanya pada Dion dengan menahan amarahnya.


Angkasa mencabut jarum infus di tangannya dan beranjak dari duduknya.


"Tuan jangan lakukan ini"


tahan Dion berusaha menenangkan tuannya. Namun Angaksa mengibaskan tangan Dion dan terus berjalan lalu mengambil kunci mobilnya.


"Tuan mendatanginya sekarang hanya akan membahayakan gadis itu dan perusahaan"


Dan kalimat itu berhasil membuat langkah Angaksa berhenti. Meski amarahnya tidak benar-benar reda tapi dia berhasil menenangkan fikirannya.


"Anda harus membereskan masalah perusahaan terlebih dahulu jika ingin menyelamatkannya" lanjut Dion kemudian.


Benar. Mendatangi Nirmala sekarang hanya akan memperunyam masalah karna jika diketahui oleh Tasya maka dia tidak akan tinggal diam. Dia bisa lebih menyakiti Nirmala lagi.


Angkasa akhirnya kembali dan duduk di sofanya. Dia memegangi kepalanya lalu meremasnya.


"Aaaargggggghhhhh" teriaknya. Dia merasa marah pada dirinya sendiri.


Tidak ada waktu untuk bersedih dan menyalahkan dirinya sendiri Angkasa segera bersiap untuk menghadiri rapat pemegang saham. Dia harus menyelesaikan masalah ini dengan cepat dan segera menemui Nirmala.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2