
Setelah lama menunggu di depan toko roti, Angkasa akhirnya memilih kembali ke apartemennya. dia menghela nafas kasar begitu masuk di apartemen Dion memintanya menghabiskan makan malam yang ia buat karna kalau tidak dia akan membuangnya.
kenapa juga orang ini tinggal disini dan menyusahkanku
gumam Angkasa dalam hati sambil menghabiskan makan malamnya dengan perasaan kesal.
setelah makan Angkasa langsung masuk ke kamarnya dan berbaring disana.
dia bangkit dan tidur tengkurap kemudian mengambil sesuatu dari kantong jaketnya lalu menyimpannya di meja.
sebuah kotak pehiasan berukuran kecil. Angkasa membukanya dan terlihatlah sebuah cincin yang memiliki desain indah.
Angkasa menatap cincin itu lalu menghela nafas kasar. tangannya bermain-main pada lampu tidur. dia mematikan dan meyalakan lampu tidur itu berulang-ulang sambil menatap cincin tersebut. dia terus melakukannya sampai dia ketiduran.
Pagi ini mendung padahal Nirmala tak membawa payung. dia menginap di toko roti tapi pagi-pagi sekali dia pulang ke rumahnya untuk mengambil sesuatu.
kini dia dalam perjalanan untuk kembali ke toko roti. dia berdiri di halte menunggu bus datang.
tapi hujan yang deras pada akhirnya turun membuat Nirmala mundur beberapa langkah dan duduk di bangku halte.
Sementara Nirmala duduk melamun di halte bus tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti di depannya membuyarkan lamunan Nirmala.
dia menunggu siapa orang yang memarkirkan mobilnya di depan halte bus tersebut.
dan Nirmala terpaku melihat siapa pria berpayung yang berjalan kearahnya.
"t-tuan Angkasa" desis Nirmala.
"ayo aku akan mengantarmu" ajak Angkasa
Nirmala menatap pria itu. kata-kata dan tatapannya terasa dingin tidak seperti biasanya.
"hm tidak usah ak-aku..." belum selesai Nirmala bicara dia bisa merasakan dari raut wajah Angkasa bahwa dia sedang tidak ingin dibantah.
ada apa dengannya, kenapa dia terasa berbeda sekali
__ADS_1
gumam Nirmala dalam hati.
Nirmala kemudian menghela nafas kasar lalu melangkah mengikuti Angkasa yang kemudian membuka pintu mobil untuknya.
Suasana di dalam mobil terasa kikuk. Nirmala memilih diam karna dari tadi aura yang Angkasa pancarkan terasa asing dan menakutkan.
namun dalam perjalanan Nirmala merasa aneh melihat jalur yang mereka lewati.
"kit-kita mau kemana?"
Dia menoleh dan menatap Angkasa yang fokus menyetir di sampingnya namun Angkasa tetap diam dan tidak mengatakan apapun.
"em tuan Angkasa?" tanya Nirmala skali lagi namun tetap tak mendapatkan respon dari Angkasa.
dan sampailah mereka di sebuah gedung yang menjulang tinggi.
Angkasa langsung keluar begitu memarkirkan mobilnya di depan gedung sementara Nirmala tetap diam dan melongo di dalam mobil.
"ayo keluar" Angkasa membuka pintu mobil dan menjulurkan tangannya.
eh ada apa ini
gumamnya lagi dalam hati.
"Nirmala..." Nirmala yang masih terpaku karna perlakuan Angkasa kemudian tersadar.
Dia segera menggenggam tangan Angkasa dan perlahan keluar dari mobil.
Nirmala berjalan mengikuti Angkasa dari belakang. mereka kemudian menaiki lift dan sampailah pada sebuah restoran mewah. mereka memasuki sebuah ruangan dimana hanya ada mereka berdua di dalam sana.
Nirmala kembali terpaku begitu memasuki ruangan tersebut. Angkasa menarikkan kursi untuknya dan Nirmala pun duduk.
"t-tuan Angkasa ada apa ini?" tanya Nirmala lagi karna dari tadi Angkasa tidak menjawab pertanyaannya.
"tidak ada. aku hanya ingin sarapan"
__ADS_1
Nirmala mengerutkan keningnya mendengar penjelasan Angkasa.
apa maksudnya sarapan
gumam Nirmala lagi dalam hati
"makanlah" perintah Angkasa tenang setelah pesanan mereka datang.
sementara Nirmala merasa bingung dengan apa yang sedang dia alami saat ini.
saat makanan mereka habis Angkasa tiba-tiba berdiri dari duduknya dan mengambil sesuatu di dalam sakunya kemudian ia bertekuk lutut di samping kursi Nirmala.
"Nirmala maukah kau menjadi Istriku?... ayo kita menikah"
Nirmala diam terpaku dengan kejadian ini dia tak percaya dengan apa yang dilakukan Angkasa saat ini. jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. sementara otaknya masih memproses apa yang sedang terjadi saat ini.
Nirmala menghela nafas kasar lalu ia menatap Angkasa dalam.
Tiba-tiba setetes air mata mengalir tapi dia tersenyum pada Angkasa. dia merasa bahagia dengan apa yang Angkasa lakukan saat ini. tapi entah kenapa air matanya mengalir. entahlah Nirmala juga tak mengerti.
Angkasa tertegun melihat Nirmala menangis dan masih dalam keadaan bertekuk lutut.
Nirmala mengambil kotak cincin di tangan Angkasa dan memintanya berdiri.
"maaf aku belum bisa menerima lamaranmu tapi aku bersedia menjadi pacarmu jika kau berkenan" jelas Nirmala.
begitu mendengar itu, Angkasa langsung berdiri dan memeluk Nirmala. mencium kening dan pipi Nirmala kemudian memeluknya lagi.
"anehnya aku tetap merasa senang meski kau tidak sepenuhnya menerima lamaranku" bisik Angkasa.
Nirmala terkekeh dalam pelukan Angkasa dan mengeratkan pelukannya pada Angkasa.
.
.
__ADS_1
.