Presdir Jatuh Cinta

Presdir Jatuh Cinta
BAB 19 (Merasa muak)


__ADS_3

tinggg....tongggg...


Bell pintu apartemen Angkasa berbunyi.


tinggg...tongggg...tinggggg....tonggggg...


Tasya yang lelah menunggu akhirnya bicara pada monitor bell.


"aku tahu kau ada di dalam jadi buka pintunya"


sementara Angkasa yang rupanya berdiri di depan layar monitor menatap Tasya dari monitor tersebut.


Angkasa menghela nafas kasar kemudian mematikan layar monitor lalu kembali ke kamar dan merebahkan dirinya.


Angkasa teringat saat itu dia akan menjemput Nirmala tapi tiba-tiba mendapat informasi bahwa ada jadwal makan malam bersama Sanjaya Group membuat kepala Angkasa terasa pusing waktu itu.


Setelah mendengar informasi itu Angkasa segera menelfon Tasya untuk bertemu dengannya.


"silahkan tolak perjodohan dan lihat apa yang akan aku lakukan pada perusahaanmu"


"ck...memangnya apa yang akan kau lakukan"


Tasya menelfon seseorang waktu itu meminta orang itu menghentikan pembangunan kantor cabang di luar negeri yang sudah Angkasa rancang selama kurang lebih 2 tahun. Angkasa langsung mengeceknya waktu itu dan pembangunan benar-benar berhenti.


Ayah Tasya seorang pengusaha sukses di Negeri itu hingga dia hampir menguasai seluruh bisnis disana.


Angkasa bergetar marah saat itu sambil menatap Tasya yang berdiri di depannya. Angkasa berbalik dan segera berlalu dari hadapan Tasya.


Kini Angkasa melajukan mobilnya menuju rumah dimana ayahnya berada.


"perusahaan akan rugi jutaan milyar kalau sampai pembangunan di sana di batalkan dan para pemegang saham tidak akan mempercayaimu"

__ADS_1


Rupanya ini alasan ayahnya memaksanya bertunangan. selain karna takut merugikan perusahaan tentu saja perjodohan ini akan mempermudah berkembangnya perusahaan di Negeri itu.


Angkasa memejamkan matanya, menarik nafas lalu menghembuskannya pelan.


"kini aku benar-benar terjebak"


Angkasa bangkit dari tidurnya menuju dapur lalu mengambil sebotol air putih dari kulkas kemudian meminumnya sambil berdiri di balik kaca salah satu gedung pencakar langit dimana ia tinggal.


"Nirmala sedang apa?" gumam Angkasa.


sekelabat ingatan-ingatan saat dia menyakiti Nirmala berlalu di fikirannya.


saat Angkasa pura-pura tak mengenal Nirmala, saat Angkasa mendengar Nirmala mengatakan bahwa dia menyukainya dan saat Angkasa mengakasa mengatakan pada Nirmala bahwa dia sudah bertunangan.


Angkasa memijat pangkal hidungnya.


"aku rasa sekarang dia pasti membenciku"


tidak pernah dalam hidup Angkasa begitu santai bercengkrama dengan seseorang. hanya dengan Nirmala yang mungkin satu-satunya perempuan di Negara ini yang tidak bisa mengenali Angkasa Perwira Putra. hanya dengan Nirmala. Angkasa bisa menjadi dirinya sendiri tanpa embel-embel tuan muda. juga bisa diperlakukan selayaknya manusia pada umumnya hanya dari Nirmala dia bisa merasakan itu.


driiiiittt.....driittttt


Angkasa segera mengangkat panggilan di ponselnya.


"ada apa ibu?"


"cepat kesini Tasya ada disini"


tuuuutttt...ttuuutt...


seperti biasa ibu Angkasa mematikan panggilan tanpa menunggu jawaban Angkasa tanda bahwa dia tak ingin di bantah.

__ADS_1


Angkasa kembali memejamkan matanya menarik nafas lalu melepaskannya perlahan. Angkasa mulai muak dengan tingkah laku Tasya.


Angkasa melajukan mobilnya menuju rumahnya lalu berjalan masuk dengan tergesa. Angkasa langsung mencari keberadaan Tasya yang rupanya sedang berbincang dengan ayahnya di ruang tengah.


tak perlu basa-basi Angkasa langsung berjalan kesana menarik tangan Tasya.


"Angkasa apa yang kau lakukan" bentak ayahnya melihat kelakuan Angkasa


Angkasa menghentikan langkahnya.


"Ayah kami punya kencan malam ini" jawab Angkasa santai.


Ayah Angkasa mengerutkan keningnya menatap pada Tasya seolah meminta penjelasan.


"ah benar ayah. kami akan kencan" jawab Tasya sambil tersenyum manis pada ayah Angkasa.


Angkasa kemudian melanjutkan langkahnya menarik tangan Tasya.


"apa kau harus sekasar itu?" Tasya memberikan tatapan tajam saat mereka sampai di mobil.


"apa perlu datang kesini setiap saat?" balas Angkasa dengan tatapan yang tak kalah tajam.


"itulah mengapa kau harus membuka pintu saat aku datang ke apartemenmu" Tasya memalingkan wajahnya lalu bersandar santai di kursi mobil seolah yang dilakukannya bukan apa-apa.


Angkasa yang sudah muak hanya menarik nafas kasar lalu melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah.


"kita ke restoran aku lapar"


kalimat selanjutnya yang hampir berhasil menyulut emosi Angkasa.


perempuan ini memang selalu semaunya.

__ADS_1


.


.


__ADS_2