
Angkasa mendatangi ayahnya malam itu. mereka bicara empat mata. mengenai pertunangan Angkasa. Angkasa bahkan sempat memohon pada ayahnya. namun, seperti kata nenek Angkasa dia bukan tipe orang yang bisa dihentikan jika sudah memulai sesuatu.
Angkasa berjalan gontai menuju kamar neneknya setelah pembicaraannya dengan Ayahnya. dia langsung berbaring di ranjang begitu sampai di kamar neneknya.
"nenek... ini melelahkan" rengeknya pada neneknya.
namun nenek Angkasa hanya menghela nafas dan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatap cucunya yang terlihat frustasi.
"kau harus lebih kuat. jika kau ingin mengalahkannya"
Kalimat yang sempat nenek katakan sebelum Angkasa pergi.
Angkasa melajukan mobilnya dengan frustasi namun belum terlalu jauh dari rumahnya dia tiba-tiba berhenti.
Angkasa mengambil ponselnya rupanya ia hendak menelfon Nirmala namun diurungkan. Akhirnya dia hanya mengirim pesan.
"ayo jalan-jalan"
beberapa menit menunggu namun tak ada balasan.
Nirmala menerima pesan dari Angkasa yang mengajaknya jalan-jalan.
Nirmala mengerutkan keningnya.
"jalan-jalan?" gumamnya dalam hati.
belum sempat ia membalas, pesan dari Angkasa kembali masuk ke ponselnya.
"kuharap kau tidak menolak karna aku sangat frustasi malam ini"
Nirmala semakin mengerutkan keningnya.
"apa sesuatu terjadi?" gumamnya lagi dalam hati.
"baiklah. kebetulan aku sudah mau menutup toko" balas Nirmala.
Setelah mengirim pesan itu. Nirmala termenung mengingat saat Angkasa menelfonnya dan memintanya menunggu Angkasa di toko roti.
Nirmala menghela nafas kasar melihat keluar toko.
namun tak menunggu berapa lama akhirnya Angkasa benar-benar datang.
Angkasa melajukan mobilnya membelah ramainya kota. Nirmala duduk diam di sampingnya sambil sesekali menatap keluar jendela menikmati pemandangan kota.
__ADS_1
Angkasa melirik Nirmala sebentar kemudian terkekeh.
"kau tahu, kau satu-satunya gadis yang lebih suka menatap keluar saat naik mobil bersamaku"
Nirmala berbalik mendengar perkataan Angkasa kemudian dia mengerutkan keningnya.
"apa itu artinya anda sering mengajak gadis-gadis naik mobilmu ketika sedang frustasi?" kata Nirmala kemudian.
Angkasa kembali menatap Nirmala sebentar kemudian menghela nafas.
"kau selalu menemukan kesimpulan yang aneh ketika aku mengatakan sesuatu"
"hm jadi kita mau kemana?" tanya Nirmala mengabaikan protes Angkasa.
"entahlah...apa ada tempat yang ingin kau datangi?"
"bagaimana kalau kita keliling kota saja?"
"keliling kota?...hm baiklah"
"tapi tidak naik mobil ini"
"ti-tidak naik mobil, maksudmu jalan kaki?"
"bukan. tapi naik bus"
"em....baiklah" jawabnya ragu karna ia belum pernah naik bus selama hidupnya.
"kenapa?"
"ah tidak apa-apa" jawab Angkasa tersenyum kikuk pada Nirmala yang menatapanya.
"kurasa sebaiknya kita memarkir mobilku dulu di basament apartemen"
mereka akhirnya menaiki bus setelah memarkir mobil Angkasa di Basement dan sedikit berjalan kaki menuju halte bus dari apartemen Angkasa.
Kini Nirmala dan Angkasa duduk berdampingan.
"dulu aku selalu menaiki bus mengelilingi kota jika sedang frustasi"
Angkasa hanya diam dan menatap Nirmala di sampingnya.
"saat itu aku kelas 2 SMA saat kedua orang tuaku meninggal karna kecelakaan... setelah kecelakaan itu setiap malam setelah aku pulang dari toko roti aku akan berkeliaran mengelilingi kota"
__ADS_1
"aku benci menghabiskan waktu di rumah yang tidak ada ibu dan ayahku"
Angkasa tertegun mendengar cerita Nirmala.
"tapi suatu hari saat aku pulang setelah mengelilingi kota aku mendapati Dirgantara duduk menangis dalam kegelapan di sudut kamarnya"
"saat itu aku sadar bahwa aku bukan satu-satunya orang yang harus kuselamatkan dalam kegelapan ini"
"tapi kau pulang terlambat malam ini"
"Dirgantara sudah besar sekarang dia sudah bisa menyelamatkan dirinya sendiri"
meski terlihat linangan air di mata Nirmala dia menatap Angkasa sambil tersenyum saat mengatakan itu.
Angkasa melihat ketegaran yang luar biasa pada gadis itu. gadis yang jauh lebih muda darinya tapi juga lebih kuat.
"bahkan saat ini Dirgantaralah yang menolongku dari kegelapan itu" kata Nirmala kemudian menutup ceritanya.
sementara Angkasa terus menatapi Nirmala yang sedang berusaha melawan rasa sesak di dadanya karna cerita itu. ingin sekali rasanya Angkasa merangkul gadis itu dan mengatakan padanya bahwa dia boleh menangis tapi kali ini Angkasa memutuskan akan mendukung keputusan Nirmala untuk berpura-pura kuat.
"aku tidak pernah menceritakan ini pada siapapun jadi... jika anda frustasi dan merasa ingin bercerita, anda boleh menceritakannya padaku"
"baiklah. asal kau bersedia menemaniku lagi mengelilingi kota dengan bus nanti"
Nirmala terkekeh mendengar itu.
"apa anda berencana untuk frustasi lagi?"
Angkasa ikut tertawa mendengar jawaban Nirmala. mereka kemudian terus bercanda sepanjang perjalanan sampai bus itu berhenti dan Nirmala beranjak dari duduknya.
"anda turun setelah halte ke 3" jelasnya pada Angkasa yang sudah mengerutkan keningnya begitu melihat Nirmala berdiri.
"hei ini tidak adil. kau membuatku naik bus dan sekarang kau ingin meninggalkanku?" protes Angkasa
Nirmala pada akhirnya hanya bisa menghela nafas kasar lalu kembali duduk dan hal itu berhasil membuat Angkasa tersenyum puas.
setelah halte ke 3 mereka kemudian turun dari bus.
lalu berjalan kembali ke apartemen Angkasa sambil terus bercanda.
tanpa mereka sadari sepasang mata marah melihat interaksi mereka berdua.
.
__ADS_1
.
.