Presdir Jatuh Cinta

Presdir Jatuh Cinta
BAB 8 (Pria asing)


__ADS_3

"Direktur, Tuan Aditya sedang menuju ke ruangan anda" Lapor Dion pada Angkasa yang sedang sibuk dengan berkas-berkasnya.


"apa?" Angkasa mendongkak mendengar laporan Sekertarisnya.


Lalu Angkasa hanya bisa memijat pangkal hidungnya kemudian menghela nafas kasar.


tak lama setelah itu Tuan Aditya sampai di ruangan Angkasa dan langsung duduk di sofa tamu.


"Apa aku harus ke kantormu seperti ini agar bisa bertemu denganmu?"


"Andakan tahu aku sibuk"


"Aku tidak mau bertele-tele... ini sudah hampir 2 bulan sejak kau datang ke rumah...Ayah rasa sudah banyak memberimu waktu"


"apa lagi yang Ayah harapkan, bukankah aku sudah membuat perusahaan sangat sukses sekarang"


"karna itu kita butuh penerus perusahaan segera"


"aku sudah sangat lelah apa Ayah harus melakukan ini juga?" nada bicara Angkasa sudah mulai kesal.


"Bagaimana bisa Presdir perusahaan tertekan hanya karna hal seperti ini"


"huh memangnya apa yang aku harapkan" Angkasa menarik nafas menahan dirinya untuk tidak berteriak pada Ayahnya.


"apa salahnya menyuruhmu menikah saat umurmu sudah hampir 30 tahun" kemudian Tuan Aditya pergi dari ruangan Angkasa.


Angkasa menyenderkan tubuhnya pada sofa tamu ruangannya kemudian memijat keningnya.


Kepala Angkasa terasa berdenyut hatinya juga terasa ikut teriris. Perlakuan Ayahnya membuat Angkasa merasa hanya seperti mesin yang bekerja pada perusahaan. Angkasa sudah sangat lelah dengan perusahaan sekarang dituntut untuk segera menikah untuk melahirkan penerus perusahaan seolah-olah hidup Angkasa tidak penting sama sekali. Angkasa merasa sudah mengorbankan semuanya bahkan masa mudanya. Angkasa pikir jika dia bekerja dengan giat maka tidak akan ada lagi tuntutan tapi ternyata Angkasa salah.


...****************...


Seperti biasa Nirmala dengan kesibukannya melayani para pelanggan di toko roti ...


triinggg tingtriingg....


Bunyi lonceng pintu toko roti menandakan ada pelanggan yang baru datang


"Selamat datang di toko roti kami" Nirmala menyambut pelanggannya namub kemudian terdiam melihat siapa yang baru saja datang.


"Hai" Sapa Raihan dengan senyum manisnya.


"oh Hai" Nirmala membalas senyum Raihan


"Aku punya pekerjaan di kota dan merasa ingin mampir sebentar" Jelas Raihan melihat wajah bingung Nirmala.

__ADS_1


"ah benar. Selamat datang.. duduklah tunggu aku sebentar" Nirmala kemudian menyiapkan pesanan-pesanan pelanggannya kemudian menghampiri Raihan dengan membawa kapuchino dan roti Coklat.


"apa kabar" tanya Raihan setelah Nirmala duduk di depannya.


"baik-baik saja"


"Nirmala semakin cantik saja"


"hm terimakasih"


Kemudian hanya suasana kikuk yang terjadi.


"Bibi dan Paman apa kabar?" tanya Nirmala kemudian


"Mereka baik-baik saja"


"Ah syukurlah"


"Sudah lama Nirmala tidak pulang ke kampung"


"iya Nirmala sibuk disini dan Dirgantara juga harus bersekolah"


"Ah benar. Dirga pasti sudah besar sekarang"


"iya. dia sudah kelas 1 SMA"


"Ah Jalan-jalan" Nirmala berfikir keras bagaimana dia akan berjalan-jalan dengan pria di depannya ini. Apakah tidak apa-apa menerima tawaran tersebut atau haruskah iya menolak tapi bagaimana caranya?.


Raihan tahu Nirmala merasa tidak nyaman sejak Raihan menyatakan cintanya pada Nirmala namun dia berusaha mengabaikan itu semua dan berusaha agar Nirmala bisa terbiasa lagi bersamanya dan inilah salah satu cara Raihan yaitu dengan mengajak Nirmala jalan-jalan bersamanya.


Raihan masih menatap Nirmala menunggu jawaban.


Nirmala yang ditatap jadi sedikit risih.


"te..tentu saja aku bisa. tapi..." Nirmala tebatah-batah menjawab karna Raihan menatapnya dari tadi


"tapi..." desak Raihan lagi.


"tapi...jika para pelanggan sudah pergi"


"baiklah" jawab Raihan langsung setelah mendengar jawaban Nirmala


"k-kau mau menunggu?"


"tentu saja" kini Raihan telah memasang senyum termanisnya merasa bahagia karna Nirmala menerima ajakannya.

__ADS_1


Pelanggan sudah pergi dan merekapun bersiap untuk pergi. Raihan membantu Nirmala menutup toko sebelum mereka pergi.


"sudah tutup lagi?"


Nirmala dan Raihan berbalik mendengar suara di belakang mereka saat sedang menutup toko.


Nirmala mengerutkan keningnya melihat siapa yang ada didepannya.


"kita cukup sering bertemu akhir-akhir ini"


"apa kau sudah menemukan cara?" Angkasa mengabaikan perkataan gadis roti didepannya.


"cara?"


"hm bukankah kita harus melarikan diri?" tanya Angaksa lagi dengan santainya.


membuat Nirmala membelalakan matanya mendengar pertanyaan pria didepannya kemudian melirik pada Raihan yang berdiri di samping kanannya.


"siapa dia?" tanya Raihan yang bingung mendengar percakapan mereka.


Angkasa menoleh pada Pria yang berdiri di samping gadis toko roti bertanya tentang dirinya.


Angkasa mengernyitkan dahinya


"kurasa dia bukan adikmu yang kemarin"


Raihan merasa risih pada pria asing yang berdiri di depan mereka dan kembali bertanya pada Nirmala.


"Nirmala dia siapa?"


"di..d-dia salah satu pelanggan toko kami" jawab Nirmala kemudian tersenyum kikuk pada Raihan.


"ah jadi namamu Nirmala" Angkasa tertawa ringan merasa sedikit senang mengetahui nama gadis toko roti.


Nirmala terbelalak baru saja menyadari Raihan menyebutkan namanya. kemudian menggerutu dalam hati.


Raihan merasa semakin risih. pria asing didepannya ini tidak sopan sama sekali.


"maaf tuan sepertinya anda harus pergi karna toko kami sudah tutup"


Kemudian Raihan menarik tangan Nirmala karna tidak ingin membuang-buang waktu lagi dengan pria asing tidak sopan itu.


"Oh..O...apa-apaan ini" Angkasa menangkap tangan Nirmala yang satunya lagi dan menahan agar pria itu tidak membawanya.


Sementara Nirmala sangat kaget dengan perlakuan kedua pria ini...

__ADS_1


.


__ADS_2