Presdir Jatuh Cinta

Presdir Jatuh Cinta
Bab 39 (Semudah itu)


__ADS_3

Rupanya cinta tidak cukup untuk menjadi alasan dua manusia untuk tetap bersama. ada banyak hal yang harus ikut mendukung cinta itu.


Nirmala terus berjalan dengan air mata yang membasahi pipinya. dia berjalan tanpa menoleh ke belakang dimana Angkasa berada.


sementara Angkasa masih mematung di tempat ia berdiri. ia masih mencerna apa yang sebenarnya terjadi. kenapa Nirmala tiba-tiba meninggalkannya seperti ini. apa yang salah. apa yang sudah Angkasa lewatkan. dia tidak merasa melakukan kesalahan tapi kenapa ini semua terjadi. apa yang sebenarnya sedang terjadi.


dan setelah kesadaran Angkasa kembali dia berbalik dan kembali berlari mengejar Nirmala. Angkasa langsung memeluk Nirmala erat begitu ia berhasil mengejarnya.


degggg....


Nirmala mematung merasakan pelukan Angkasa. dia berusaha berontak namun lengan Angkasa yang kokoh seakan tak bergerak sama sekali. Akhirnya Nirmala pasrah dan membiarkan Angkasa mendekapnya.


Pada akhirnya Nirmala luluh juga dengan pelukan Angkasa dia berbalik dan memeluk angkasa. bulir-bulir air mata membasahi pipi keduanya. dua manusia yang saling mencintai ini. saling terdiam dalam pelukan.


Setelah berhasil menenangkan dirinya Angkasa memapah Nirmala kembali ke mobil. kemudian mobil melaju kembali ke ibu kota.


di sepanjang perjalanan Nirmala hanya memandang keluar jendela, tak sedikitpun dia melihat Angkasa. sementara Angkasa menatap Nirmala dari tadi. meskipun kepalanya penuh dengan berbagai rasa penasaran dan pertanyaan-pertanyaan yang menyeruak. Angkasa memilih diam dan tak mengatakan apa-apa disepanjang perjalanan mereka membelah ibu kota.


Angkasa memutuskan membawa Nirmala ke hotel. sementara Nirmala yang merasa lelah dengan semuanya mengikuti saja kemana Angkasa membawanya.


Sesampainya di hotel Angkasa membaringkan Nirmala di ranjang.


"tidurlah jangan pikirkan apapun semuanya akan baik-baik saja" lirih Angkasa sambil mengelus lembut rambut Nirmala.setelah itu Angkasa kemudian mengambil bantal dan berbaring di sofa.


Angkasa berbaring memejamkan matanya. tangan kanannya berada di atas kepala menutupi matanya.dia berusaha untuk tidur dan melarikan diri dari rasa penasaran yang menyerbunya.


kenapa Nirmala tiba-tiba memutuskanku?


kenapa Nirmala berusaha meninggalkanku hari ini?


siapa yang membuat Nirmala melakukan itu?


apa yang sebenarnya terjadi pada Nirmala?


dan apa yang sebenarnya Nirmala fikirkan dan rasakan?


...****************...


Pagi di dalam bus ketika Nirmala dalam perjalanan ke kota untuk menemui Angkasa.


Heandphonenya berdering dan terlihat nomor tak dikenal menelfonnya. meski awalnya sedikit ragu untuk menerimanya Nirmala pada akhirnya tetap memutuskan untuk menerima panggilan itu.


"Halo nona Nirmala"


"ya saya sendiri"


"saya nenek Angkasa"


Nirmala terdiam mendengarnya. ada sedikit rasa takut yang tiba-tiba menghampirinya dia ingat ketika ibu Angkasa datang menemuinya.


"ohh i-iyaa ada apa nyonya" jawab Nirmala terbata

__ADS_1


"aku hanya ingin memberitahumu untuk menjauhi cucuku. dia sedang dalam peperangan melawan ayahnya dan jika dia membawamu aku yakin dia takan menang"


deggggg...


sekali lagi Nirmala menerima pesan bahwa dia harus menjauhi Angkasa. seakan menegaskan dia benar-benar tak layak untuk Angkasa. terlebih orang yang memberinya pesan itu adalah ibu dan nenek Angkasa sendiri.


tak terasa air mata Nirmala menetes mendengar perkataan nenek Angkasa lalu ia buru-buru melerainya saat tersadar.


"ehm ba-baiklah nyonya, aku rasa aku tak punya alasan lagi untuk tetap berada di sisi Angkasa"


kemudian panggilan telfon itu mati. disusul air mata Nirmala yang berjatuhan.


padahal dia sudah banyak memikirkannya dan meyakinkan dirinya bahwa dia layak berada di sisi Angkasa. ternyata Nirmala salah. Nirmala tak pernah layak berada di sisi Angkasa. dia terlalu tinggi dan tidak bisa digapai. dua pesan itu sudah cukup untuk membuat Nirmala menyadari posisinya.


...****************...


Nirmala membuka mata. matahari pagi menyilaukan matanya di sela-sela tirai jendela kamar hotel. benar Nirmala selalu tidur lama sekali ketika hati dan otaknya dipenuhi hal-hal melelahkan.


Nirmala bangkit dari ranjang dan melihat sekeliling. dia tidak bisa menemukan keberadaan Angkasa. kemudian Nirmala mencari ponsel di tasnya untuk melihat pukul berapa sekarang.


pukul 10.15


Nirmala menghela nafas panjang.


lagi-lagi aku tidur lama sekali


lirih Nirmala dalam hati sambil memberenggut kepalanya.


"kamu sudah bangun"


Angkasa tersenyum begitu Nirmala menatapnya


"aku baru saja menghirup udara pagi" jelas Angkasa tanpa ditanya


sementara Nirmala hanya diam menatap Angkasa kemudian turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.


di kamar mandi Nirmala membasuh wajahnya dan berusaha memperbaiki perasaannya. dia menarik nafas beberapa kali sebelum kembali ke kamar dan bertemu Angkasa.


saat Nirmala keluar dari kamar mandi rupanya sudah tersedia sarapan


"ayo kita sarapan, aku lapar karna menunggu kamu bangun" kata Angkasa dengan nada bercanda


Nirmala tak menanggapi Angkasa dan berjalan menuju kursi dimana Angkasa berada.


"kenapa diam saja sayang, aku tidak akan makan kalau kamu tak makan" jelas Angkasa lagi


mendengar itu Nirmala langsung makan tanpa menghiraukan Angkasa. sementara Angkasa hanya bisa tersenyum melihat Nirmala makan dengan lahapnya.


Nirmala kembali duduk mematung tanpa ekspresi begitu dia menghabiskan sarapannya. ada sedikit makanan yang tertinggal di sudut bibirnya dan Angkasa berusaha untuk membersihkan itu tapi Nirmala mengelak.


Angkasa terdiam merasakan penolakan langsung dari Nirmala.

__ADS_1


"kurasa kit...."


"aku ingin kita putus"


deggggg...


kalimat Angkasa belum selesai namun Nirmala sudah memotongnya dengan kalimat menyesakkan yang sama sekali tak ingin Angkasa dengar pagi ini.


...****************...


Angkasa tak bisa tidur semalaman dan memutuskan untuk menuju atap hotel dan membakar rokoknya. setelah menghabiskan beberapa batang dia melihat arlojinya yang sudah menunjukkan pukul 10.00 dia kemudian kembali ke kamar karna memastikan Nirmala sudah bangun.


dan disinilah Angkasa sekarang terdiam beberapa detik berusaha memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.


"Bisa kau ulangi sekali lagi?" tanya Angkasa berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia hanya salah dengar


"kita putus saja tuan Angkasa" tegas Nirmala tanpa menatap Angkasa


Angkasa bangkit dari duduknya lalu membawa Nirmala kedalam pelukannya.


"ssttt....tidak sayang, tidak lagi, kamu tidak boleh mengatakan kalimat itu lagi" bisik Angkasa sambil memeluk Nirmala erat.


Nirmala perlahan melepaskan rangkulan Angkasa


"keputusanku sudah bulat" lirih Nirmala


Angkasa kembali berusaha membawa Nirmala kedalam pelukannya namun kali ini Nirmala menghindar.


"Nirmala!" bentakan ringan dari Angkasa merasa kesal Nirmala menghindarinya.


Angkasa menghela nafas kasar berusaha meredam kekesalannya.


"apa kamu serius dengan yang kamu katakan barusan?"


Nirmala hanya mengangguk sambil menunduk


"tatap aku Nirmala!" bentak Angkasa lagi membuat Nirmala sedikit kaget.


Air mata Nirmala mulai bercucuran. entahlah karna apa. apakah karena bentakan kecil Angkasa atau karna apa yang dia sendiri katakan pada Angkasa.


melihat itu Angkasa kembali menghela nafas kasar.


"mari kita bicarakan ini baik-baik saat kamu sudah sedikit tentang"


"sekarang saja" jawab Nirmala dengan sedikit terisak


"apa ini adalah sesuatu yang semudah itu kamu putuskan seperti ini Nirmala"


sepertinya kekesalan Angkasa kali ini sudah memuncak


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2