Presdir Jatuh Cinta

Presdir Jatuh Cinta
Bab 40 (Menyusun Rencana)


__ADS_3

Apa yang salah kenapa tiba-tiba begini. Angkasa meringkuk bersandar di ujung ranjang hotel memutar otaknya mengingat kembali kejadian demi kejadian. sudah berapa kali Angkasa mengulangnya dan tak menemukan ada yang salah. jadi apa yang sebenarnya terjadi. apa yang membuat Nirmala berubah menjadi dingin tak berhati begini. apa yang membuat Nirmala membuangnya.


Aku hanya sudah tidak mencintaimu lagi tuan Angkasa


terngiang kembali kata-kata Nirmala sebelum ia melangkah hendak pergi meninggalkan hotel.


Angkasa terjatuh berlutut memegang tangan Nirmala. iya tiba-tiba saja lutut Angkasa tak bisa menopang tubuhnya. Angkasa menunduk mencium tangan Nirmala.


"tidak... tidak mungkin semudah ini" cecar Angkasa sambil terisak


"Nirmala sayang tolong beritahu aku apa yang salah? apa yang sebenarnya terjadi. aku tidak percaya dengan kata-katamu"


tapi Nirmala dengan dinginnya mengibaskan tangan Angkasa dan berjalan keluar kamar hotel meninggalkan Angkasa.


Dengan sekuat tenaga Nirmala menahan isak tangisnya hingga setelah dia memasuki lift dia tak dapat membendungnya lagi. Nirmala duduk merosot bersandar pada lift dan menangis sejadi-jadinya. Angkasa pasti sangat membencinya sekarang.


Angkasa mengacak rambutnya dan sesekali memukul kepalanya. dia masih duduk meringkuk di ujung ranjang hotel tapi kini ia dikelilingi minuman keras. Angkasa mengambil sebotol dan langsung meminumnya dari botol. air matanya tak berhenti mengalir tapi setelah dia meminum seteguk tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak seperti orang gila. ia Angkasa memang sudah tak waras kali ini. wanita yang sangat ia cintai tiba-tiba membuangnya begitu saja. siapa yang tak gila.


dan tak lama setelah itu Dimas datang dengan berjalan terburu memasuki kamar hotel dimana Angkasa berada.


"tuan ada apa ini?" tanya Dimas panik melihat keadaan bosnya


Angkasa sudah mabuk saat Dimas datang dia langsung mengangkat botol minuman di tangannya


"Dimas kau disini... hahahaha dia tidak mencintaiku lagi katanya" racau Angkasa sambil berusaha berdiri namun karna mabuk usahanya selalu gagal.


melihat itu Dimas menghela nafas kasar. dia segera menelfon pegawai hotel untuk membersihkan kekacauan ini.


Dimas memapah Angkasa membawanya naik ke ranjang.


"apa itu masuk akal... katakan padaku apa itu masuk akal hah... bagaimana bisa dia tiba-tiba tidak mencintaiku lagi"


lagi-lagi Angkasa meracau saat Dimas hendak membaringkannya di ranjang.


setelah berbaring Angkasa menjadi sedikit tenang dia sudah diam. tapi tetasan air mata masih mengalir di sela sela matanya yang terpejam.


Dimas kembali hanya bisa menghela nafas kasar melihat itu.


...****************...


"kakak apa terjadi sesuatu di kota?" Tanya Dirgantara menghampiri kakaknya sambil membawa obat dan segelas air.

__ADS_1


Sementara Nirmala hanya diam memejamkan matanya tapi tetesan air mata tak berhenti keluar di sela-sela matanya.


Dirgantara menghela nafas kasar menatap kakaknya bergantian dengan semangkok bubur di meja yang belum tersentuh sama sekali.


pagi-pagi sekali kakaknya pulang dengan mata bengkak tanpa mengatakan apapun kakanya langsung masuk ke kamar dan tidur.


awalnya Dirgantara mengira kakaknya hanya tidur lama seperti biasa tapi saat Dirgantara hendak membangunkan kakaknya untuk makan siang dia menyadari rupanya kakaknya demam.


"kalau kakak begini terus aku akan bawa kakak ke puskesmas saja" ancam Dirgantara karna kakaknya tak bangun juga untuk memakan bubur yang sudah ia masak.


"Dirga tolong tinggalkan kakak sendiri" lirih Nirmala tanpa membuka matanya sedikitpun


"kakak habiskan dulu buburnya lalu minum obat, setelah itu Dirga akan ninggalin kakak"


"Dirgantara please..." lirih Nirmala lagi tapi kali ini dia membuka matanya dan menatap adiknya.


lagi-lagi Dirgantara hanya bisa menghela nafas kasar menatap kakaknya.


ada apa lagi kali ini


batin Dirgantara sambil terus menatap kakaknya yang kembali memejamkan mata dan tak menghirukannya sama sekali


...****************...


"Tuan anda harus sarapan" suara Dimas memecahkan hening yang dari tadi memenuhi kamar hotel itu.


Angkasa tak bergeming dia tetap diam pada posisinya.


"Tuan apa anda baik-baik saja?" tanya Dimas kemudian melihat bosnya tidak bergerak dari tadi


"aku menemukan foto-foto saat Ny.Aditya mendatangi toko roti" jelas Dimas kemudian karna dari tadi Angkasa tidak menghiraukannya.


dan benar saja, mendengar itu Angkasa mengangkat tangannya dan kemudian bangun dari ranjang.


"apa katamu?" tanyanya Angkasa kemudian.


Dimas kemudian berjalan menuju Angkasa membawa amplop coklat berisi foto yang dia katakan itu.


Angkasa terburu-buru membuka amplop itu penasaran dengan apa yang sekertarisnya katakan. dan....


boommm...

__ADS_1


benar saja. ada banyak foto-foto ibunya menemui Nirmala di toko roti.


Angkasa terdiam meremas foto itu dia sekarang mulai mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


Angkasa bangkit dari duduknya dan mengambil jasnya namun Dimas menahannya.


"melawan dalam keadaan emosi yang tidak stabil tidak akan membantu" jelas Dimas melihat Angkasa sudah mulai marah karena ia menahannya.


Angkasa yang tadinya emosi hendak menemui ibunya kini kembali duduk di ujung ranjang dia memijat pangkal hidungnya.


"sebenarnya apa yang ibu katakan padanya sampai dia memutuskan meninggalkanku begini"


"pertama-tama tuan harus sarapan terlebih dahulu" ajak Dimas lagi


"aku tidak berselera" jawab Angkasa singkat


Dimas menghela nafas kasar


"setidaknya untuk bertahan hidup" kekeh Dimas tak menyerah untuk meminta tuannya sarapan.


"kau benar-benar keras kepala" protes Angkasa namun kini ia berdiri dan berjalan menuju dimana Dimas duduk dan tersaji sarapan di depannya.


"apa kau tidak dapat informasi lain lagi?" tanya Angkasa di sela-sela ia menghabiskan sarapannya.


"belum ada tuan"


"hm terus pantau pergerakan ibu dan ayah"


"baik tuan"


Angkasa dengan wajah kusutnya mangguk-mangguk mendengar jawaban sekertarisnya sambil ia menghabiskan sarapannya.


Begitulah Dimas yang sangat memperdulikan bosnya. padahal awal mereka saling mengenal sangat canggung. Tuan Aditya waktu itu merekrutnya karena ia memenangkan penghargaan sebagai pegawai terbaik perusahaan tak menyangka diangkat menjadi sekertaris Presiden Direktur yang baru diangkat. sudah 6 tahun berlalu kini Dimas masih setia mendampingi sang presdir muda. itu artinya kurang lebih 6 tahun juga ia menjalin persahabatan dengan sang presdir.


Dimas yang awalnya merasa jengkel karna kelakuan Presdirnya lambat laun merasa nyaman bahkan merasa ingin melindungi Presdirnya yang kesepian itu. dia juga tahu bahwa Presdirnya itu tak suka makan sendirian karena itu dia selalu mengajak bahkan memaksa Presdirnya untuk makan karena jika tidak diingatkan bahkan dipaksa untuk makan maka Presdirnya itu akan melupakan makanan. ya kurang lebih sama seperti apa yang dia lakukan beberapa menit yang lalu.


kini Dimas melajukan mobil menuju kantor setelah mengantar bosnya itu kembali ke apartemen untuk berganti pakaian. katanya bosnya itu akan menyusun rencana terlebih dahulu sebelum kemudian kembali menjemput tuan putrinya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2