Presdir Jatuh Cinta

Presdir Jatuh Cinta
BAB 18 (Kakak menangis)


__ADS_3

Sejak kepergian Nirmala ke kampung halamannya Angkasa kembali sering mendatangi taman sama seperti pagi ini. Sebelum berangkat ke kantor dia menyempatkan diri datang ke taman.


degggg....


terlihat siluet seorang gadis yang selama ini dirindukannya.


Angkasa memicingkan matanya berusaha memastikan bahwa gadis yang ada di depannya adalah gadis yang selama ini dicarinya.


Angkasa memperbaiki perasaan dan mengatur debaran jantungnya terlebih dahulu sebelum melanjutkan langkahnya menuju gadis itu.


"apa anda tidak merasa bersalah padaku?"


pertanyaan yang keluar dari mulut gadis itu diiringi bercanda sambil menatapnya.


seperti irisan benda tajam mengiris ulu hatinya di dalam sana. terbayang semua yang dia lakukan pada gadis ini. gadis yang belum lama ia kenali ini, tapi ia sudah banyak menyakitinya.


Angkasa menjawab semaunya seolah tak paham maksud gadis ini. gadis ini kembali bertanya menyinggung Angkasa namun dia kembali bersikap seolah tak paham.


"tuan Angkasa. aku tidak tahu apa aku boleh mengatakan ini atau tidak tapi aku ingin memberitahumu...bahwa aku men**yukaimu"


sebuah kalimat yang berhasil membuat jantung Angkasa sempat berhenti. Angkasa terdiam menatap gadis di sampingnya.


Nirmala kembali menatapnya menanti tanggapan Angkasa.


"anda tidak harus menjawab atau mengatakan sesuatu juga tak harus bertanggung jawab. aku hanya ingin memberi tahu anda karna aku cukup sering memikirkan anda akhir-akhir ini" lanjut Nirmala setelah menunggu namun tak ada tanggapan.


Kalimat yang keluar dari mulut Nirmala selanjutnya kembali membuat Angkasa terdiam sebentar sebelum akhirnya membalas.


"perkataanku beberapa minggu yang lalu pasti membuatmu bingung tapi... aku hanya bercanda saat mengatakan itu"


Nirmala tersenyum mendengar perkataan Angkasa meski sebenarnya air matanya hampir lolos.

__ADS_1


apa katanya? hanya bercanda?


gumam Nirmala dalam hati.


"baiklah aku mengerti... tapi aku sama sekali tidak bercanda sekarang" balas Nirmala yakin sambil menatap Angkasa.


benteng pertahanan Angkasa hampir runtuh melihat tatapan Nirmala padanya hingga akhirnya Angkasa memalingkan wajahnya sambil menjawab.


"terimakasih sudah menyukaiku"


Nirmala menarik nafas kasar kemudian melepaskannya perlahan. ada rasa sesak yang berusaha di pendamnya. ada perasaan terluka yang harus ditutupinya.


"Aku akan terlambat. aku pergi dulu"


Angkasa melangkah pergi sambil melihat jam tangannya sekilas tanpa menoleh pada Nirmala.


namun seperti belum cukup menyakiti gadis itu Angkasa menghentikan langkahnya dan...


"oh ya...jangan berharap padaku. aku sudah bertunangan dengan seseorang"


setelah kepergian Angkasa, Nirmala terus menangis di taman itu. dia tak peduli meski orang-orang memperhatikannya.


hatinya terluka. untuk pertama kalinya dalam hidupnya dia memberanikan diri menyatakan perasaannya pada seorang pria. terlepas dari hatinya yang terluka dia juga sangat malu, rupanya bagi pria itu dia sama sekali tidak penting.


setelah puas menangis Nirmala kemudian pulang ke rumahnya.


Nirmala kembali tidur setelah sampai di rumahnya dia tidur nyenyak sekali.


Dirgantara sepulang sekolah langsung memesan makanan lewat online lalu melihat keadaan kakaknya di kamar.


"kakak selalu tidur lama sekali setiap kali sesuatu terjadi" gumam Dirgantara dari pintu kamar kakaknya sambil terus memandanginya dari sana.

__ADS_1


"aku baik-baik saja kau tak perlu memandangiku seperti itu"


Dirgantara sedikit kaget mendengar suara kakaknya yang rupanya sudah bangun.


"kurasa itu bukan hal besar berhubung kakak tidur tak terlalu lama kali ini" balas Dirgantara sambil berjalan masuk dan duduk di ranjang tepat di samping kakaknya berbaring.


Nirmala tersenyum mendengar perkataan adiknya.


"bukan hal besar. aku hanya malas memikirkannya makanya aku tidur"


Dirgantara mengangguk-anggukkan kepalanya menatap kakaknya.


"tapi cukup membuat mata kakak bengkak"


"ck" balas Nirmala memberi tatapan jengah pada adiknya.


"sudahlah. lebih baik kakak bangun untuk makan sepertinya pesananku sudah datang"


Dirgantara bangkit dari duduknya dan berlalu meninggalkan kakaknya.


Dirgantara rupanya tidak langsung ke dapur tapi dia berjalan menuju kamar mandi. disana Dirgantara membasuh wajahnya teringat saat kakaknya tidur sangat lama sehari setelah orang tua mereka meninggal dunia.


"Dirgantaraaaaaa kau dimaanaaaa"


terdengar suara kakaknya memanggil barulah ia bergegas keluar menuju dapur dimana kakaknya berada


Dirgantara diam-diam memperhatikan kakaknya. matanya sembab dan terlihat kelelahan.


"aku tidak tahu apa yang membuatnya menangis tapi Aku benci melihatnya menangis"


Gumam dirgantara dalam hati.

__ADS_1


.


.


__ADS_2