
Dirgantara sudah memperhatikan kakaknya selama beberapa hari ini. dan sekarang ia merasa yakin bahwa ada yang tidak beres dengan kakaknya. pasti hubungan kakaknya dengan Direktur itu sedang tidak baik-baik saja.
Sekarang Nirmala sedang sibuk menyirami tanaman di perkarangan rumah mereka. namun anehnya wajah kakaknya tidak bersemangat sama sekali. Nirmala yang biasanya menyiram tanaman sambil menyanyikan potongan lagu kini terlihat diam dengan wajahnya sendu.
Dirgantara kemudian menghela nafas kasar lalu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kakaknya mengambil alih selang air yang dipegang oleh Nirmala.
"apa kakak bertengkar dengan tuan Angkasa?" bisik Dirgantara pelan sambil menyirami tanaman menggantikan kakaknya.
beberapa menit Dirgantara menunggu jawaban Nirmala yang hanya mematung. lalu...
"kami sudah putus" celetuk Nirmala kemudian berjalan memasuki rumah meninggalkan Dirgantara.
sementara Dirgantara yang merasa kagetpun terdiam dengan jawaban kakaknya.
buru-buru Dirgantara mematikan keran air dan berjalan menyusul kakaknya memasuki rumah.
"kenapa bisa putus?"
"itu tidak penting Dirga" jawab Nirmala sambil membuka kulkas hendak menyiapkan bahan untuk masak makan siang.
"tentu saja itu penting kakak, apa dia berselingkuh?" lanjut Dirgantara lagi penasaran
"hust tentu saja tidak"
kemudian pada jeda kalimatnya Nirmala menghela nafas kasar lalu melanjutkan...
"kami hanya sudah tidak cocok saja" jelasnya tanpa ingin dibantah lagi.
Dirgantara masih belum paham tapi dia memutuskan untuk pura-pura paham saja. dia mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban kakaknya.
...****************...
Beberapa minggu terlewati setelah kejadian di hotel. jika kalian mengenal Angkasa sebelum mengenal Nirmala maka itulah Angkasa saat ini setelah ditinggal Nirmala. hm tidak, Dimas rasa Angkasa yang saat ini sedikit lebih buruk daripada yang waktu itu. Ya setidaknya Angkasa yang waktu itu hanya gila kerja sedangkan sekarang?. Angkasa hari ini selalu menghabiskan waktunya di bar sepulang kerja lalu dia mabuk-mabukan sampai tak sadarkan diri. siapa lagi yang akan direpotkan jika bukan Dimas kalau sudah seperti itu dan Angkasa yang sekarang juga seperti kecanduan merokok, kapanpun ada jeda dalam pekerjaannya dia pasti menyempatkan merokok. syukurlah setidaknya Angkasa tidak bermain perempuan atau judi karna kalau tidak Dimas pasti akan sangat repot.
Kini Angkasa sedang menikmati rokoknya sambil duduk di kursi kebesarannya menghadap jendela yang menampilkan pemandangan kota yang sangat indah dari atas ketinggian gedung pencakar langit itu.
__ADS_1
"uhuk... uhuk... bau apa ini" Ny. Perwira mengibas ibaskan tangannya ke udara begitu masuk ke dalam ruangan Angkasa.
mendengar ada yang datang Angkasa memutar kursinya.
"nenek disini" sambutnya tanpa berdiri dari kursinya
"ya ampun, nenek hampir tidak dapat mengenalimu"
ya penampilan Angkasa sekarang memang awut-awutan. lihat saja rambutnya yang kusam dan panjang, wajahnya dipenuhi rambut-rambut halus dan tatapan matanya yang sama sekali tidak terlihat kehidupan disana.
Angkasa tidak menanggapi neneknya dan hanya menghela nafas kemudian berdiri dan mematikan rokoknya di asbak.
"ada urusan apa nenek datang kesini?" tanya Angkasa kemudian yang sudah duduk di kursi tamu dimana Ny. Perwira berada.
"apa nenek perlu minta izin untuk datang kemari"
jawab Ny.Perwira sewot ditanyai seperti itu oleh Angkasa.
"hm itu karna tidak biasanya anda datang kesini"
Nenek terdiam beberapa detik mendengar perkataan Angkasa.
dan Angkasa yang mendengar itu kini kembali tak bersemangat.
"ah jangan nenek juga" rengek Angkasa
"aku sudah muak mendengar ibu terus mengatakan itu, sekarang nenek juga"
"tenang saja, nenek tidak akan memaksamu menikah dengan seseorang. nenek datang hanya untuk memberitahumu untuk mencari seseorang yang pantas. jika kau ingin menang dari ayahmu maka perempuan itu juga harus perempuan hebat"
"sepertinya kau harus berhenti merokok dan jika kau ada waktu cobalah bercermin" Jelas Ny. Perwira memutar bola matanya jengah setelah menatap cucunya kemudian beranjak pergi dari ruangan itu.
sementara Angkasa lagi-lagi hanya bisa memijat pangkal hidungnya setelah neneknya pergi. padahal selama ini dia sudah merasa lebih baik, setidaknya neneknya ada dipihaknya pikir Angkasa tapi rupanya dia salah. neneknya sama saja. ya apa yang Angkasa harapkan.
jika kalian bertanya-tanya mengapa Angkasa tidak melakukan apapun padahal dia sudah tahu alasan Nirmala meninggalkannya adalah karena ibunya. itu karena Angkasa tidak menemukan alasan untuk mempertahankan Nirmala setelah berhasil menjemputnya. karena kejadiannya akan terus berulang bahkan akan ada kejadian yang lebih menyakiti Nirmala jika Angkasa keras kepala untuk tetap bersama Nirmala sekarang. Sudah berminggu-minggu Angkasa merindukan Nirmala namun dia memutuskan untuk diam dan tidak mencari gadisnya. kekuatan orang tuanya terlalu kuat, Angkasa takut tidak bisa melindungi Nirmala dari mereka. lihat saja ibu Angkasa bahkan berhasil menemui Nirmala dan membuat Nirmala berubah menjadi gadis tak berperasaan diluar pengetahuan Angkasa.
__ADS_1
Angkasa menghela nafas kasar kembali bersandar di kursi kebesarannya sambil kembali menghisap rokok.
Dimas yang melihat itu juga hanya bisa menghela nafas kasar. andai saja Nirmala melihat apa yang ia lihat dia pasti akan sedih. siapa yang tak sedih melihat keadaan Angkasa sekarang. dia makin kurus dan tubuhnya tak terawat.
"aku rasa aku paham kenapa semua orang ingin dia menikah sekarang" bisik Dimas sambil menatap tuannya dari luar ruangan melalui kaca transparan. Dimas kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke komputer sambil menggeleng gelengkan kepalanya. dia tak habis fikir dengan keadaan bosnya saat ini.
Sedangkan kebingungan yang sama di tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota dimana Dirgantara sedang duduk di meja makan memperhatikan kakaknya yang memasak dengan wajah murung.
"aku punya cara jika kakak memang ingin pergi ke tempat yang jauh" celetuk Dirgantara tiba-tiba
dan perkataan Dirgantara berhasil membuat Nirmala menghentikan aktivitasnya sejenak kemudian menoleh lada adiknya yang sejak tadi sibuk memperhatikan dirinya.
"kemana?" tanya Nirmala singkat dengan wajah datarnya
"aku mendaftar beasiswa kuliah di luar negeri dan aku lulus" jawab Dirgantara tak kalah datarnya.
namun kali ini wajah Nirmala berbinar mendengar itu.
"benarkah? apa kau serius?" tanyanya dengan semangat. kali ini dia sudah melangkah maju dan berdiri tepat di depan Dirgantara.
dan Dirgantara hanya menjawabnya dengan anggukan tapi Nirmala sudah berlari kecil mengitari meja makan dan langsung berhambur memeluk adiknya.
"pintar sekali adikku ini. kenapa tidak memberitahu kakak lebih cepat" rengek Nirmala tak melepaskan pelukannya pada adiknya.
"Dirga juga baru lihat pengumumannya pagi ini" sambil pelan-pelan melepaskan pelukan kakaknya.
"awalnya aku akan membatalkannya karna tidak mau meninggalkan kakak sendirian tapi menurutku lebih baik kakak yang ikut denganku. bagaimana?"
Nirmala mengangguk dengan semangat
"tentu saja. tentu saja kakak ikut"
Dirgantara merasa senang. ini pertama kalinya kakaknya terlihat bersemangat lagi sejak hari itu. dia tidak menyangka kakaknya akan sebahagia itu mendengar kabar kelulusannya diluar negeri. Dirga pikir kakaknya tidak akan rela pergi jauh meninggalkan negeri ini dan sejuta kenangannya. kini Dirga semakin yakin bahwa ada yang tidak beres dengan hubungan percintaan kakaknya melihatnya begitu bersemangat ingin meninggalkan negeri ini.
.
__ADS_1
.
.