Presdir Jatuh Cinta

Presdir Jatuh Cinta
BAB 25 (Luka)


__ADS_3

Angkasa terbangun di pagi hari langsung mandi dan berpakaian rapi hendak ke kantor.


sebelum berangkat dia mengaktifkan ponselnya. ada begitu banyak panggilan dan pesan masuk namun Angkasa memilih mendiamkannya lalu melajukan mobilnya menuju kantor.


dalam perjalanan ke kantor Angkasa menyalakan radio mobilnya untuk sekedar mendengarkan prakiraan cuaca pagi ini, lagu, atau berita terbaru, entahlah Angkasa hanya ingin menyalakan radio itu saja tapi...


Kali ini berita terbaru mengenai pertunangan dua pewaris dari perusahaan ternama di Negara kita yang banyak di perbincangkan di dunia maya.


dia adalah Angkasa Perwira Putra dan Tasya Putri Sanjaya mereka dikabarkan sudah menjalin asmara sejak mereka duduk di bangku SMA


biiiiiiippppppp......


Angkasa menghentikan mobilnya secara tiba-tiba setelah mendengar berita di radio. berita pertunangannya di publikasikan tanpa persetujuan darinya.


Angkasa menarik nafas kasar. Tasya kembali berulah karna Angkasa tidak membukakan pintu apartemen kemarin tapi kali ini ulah Tasya cukup keterlaluan.


"apa kau sudah gila" teriak Angkasa begitu Tasya mengangkat telfonnya


"kenapa? bukankah ini memang tujuan pertunangan kita?" jawab Tasya santai membuat amarah Angkasa hampir meledak namun ia langsung mematikan panggilan.


setelah menenangkan emosinya Angkasa menelfon Dion.


"aku akan bekerja di apartemen hari ini jadi bawa semua berkas-berkas ke apartemennku"


"baik tuan"


...****************...


Deggggg...


jantung Nirmala berpacu lebih kencang dari biasanya. wajah orang yang sedang ia lihat di tv sekarang persis seperti sosok yang dikenalnya.


tuan Angkasa yang Nirmala kenal adalah putra dari pemilik perusahaan Golden group. perusahaan impian Nirmala sejak SMA untuk bekerja disana. pria itu adalah putra dari Golden group.


tidak, ini tidak mungkin, kenapa dia tidak memberitahuku

__ADS_1


gumam Nirmala dalam hati sembari berjalan menuju kamarnya.


Nirmala duduk mematung di bangku kerja dalam kamarnya menatap keluar jendela.


rupanya orang yang dibicarakan pembeli sepanjang hari adalah Angkasa yang dikenalnya. Angkasa yang menyatakan cinta padanya.


Nirmala menarik nafas kasar kemudian berjalan ke ranjang dan merebahkan dirinya disana.


...****************...


Beberapa hari setelah kejadian itu.


Sekitar pukul 20.40 toko hampir tutup dan Angkasa datang ke toko roti lalu memesan dengan santainya seolah tidak ada apapun yang terjadi padahal Nirmala sudah mengerutkan keningnya sejak melihat siapa yang baru saja masuk ke tokonya.


"Aku sengaja datang jam segini karna pengunjung pasti sepi"


"Anda boleh datang kesini?"


"Kenapa tidak. Akukan ingin makan roti" jawab Angkasa dengan menaikkan bahunya.


Angkasa memberi tatapan tajam pada Nirmala mendengar jawabannya.


Angkasa tak suka Nirmala memanggilnya seperti itu.


"Selamat menikmati" pamit Nirmala kemudian berlalu meninggalkan Angkasa


Angkasa menghela nafas kasar. Perlakuan Nirmala membuatnya muak.


Dia berdiri dari duduknya dan berjalan mengikuti Nirmala lalu menarik tangannya.


"Apa kau akan seperti ini?"


Nirmala berjengit kaget karna tarikan Angkasa


"Anda kenapa?"

__ADS_1


"Kau yang kenapa" bentak Angkasa


Nirmala kaget dibentak seperti itu.


Nirmala merasa kesal dibetak lalu menarik tangannya yang dipegang Angkasa.


"maaf-maaf" Angkasa kembali menggenggam tangan Nirmala


"aku hilang kendali"


kini Nirmala yang balik menatap tajam pada Angkasa.


"bukankah hubungan kita tidak sesederhana itu sehingga aku bisa tersenyum dengan tenang menerima kedatangan anda?"


"atau apakah yang terjadi kemarin bukan apa-apa bagi anda?"


"Nirmala..."


"karna anda datang kemari sebagai pelanggan, bersikaplah sebagai pelanggan"


Angkasa menarik nafas kasar.


Ada goresan di hati Angkasa melihat Nirmala menatapnya seperti itu. Nirmala yang selalu memiliki tatapan teduh kini menatapnya seolah dia adalah orang asing yang menakutkan. rasa sesak memenuhi dada Angkasa.


"baiklah" Angkasa kemudian melepaskan genggamannya pada Nirmala kemudian kembali ke tempat duduknya.


Baiklah, kini dia tidak akan menuntut banyak. seharusnya diizinkan untuk memasuki toko roti ini saja Angkasa sudah bersyukur.


Angkasa kemudian memakan rotinya dengan tenang sambil skali-skali menatap Nirmala yang duduk di meja kasir.


meski kembali terasa seperti orang asing. Angkasa bersyukur setidaknya masih bisa menatap Nirmala dari jauh seperti ini.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2