
Angkasa mencoba menghalangi sinar matahari yang menyilaukan matanya lalu berbalik menghadap sandaran sofa kemudian tersadar bahwa saat ini dia tidak sedang tidur di ranjang lalu segera bangun.
Angkasa melihat sekeliling dia tidur di sofa dan masih memakai setelan jas lengkap bahkan dia juga tak melepas sepatunya.
"Akh benar. aku mabuk semalam"
Angkasa memijat keningnya
Angkasa kemudian bangkit dan berjalan menuju kulkas kemudian mengeluarkan air dingin dan meminumnya.
"kepalaku sakit" Angkasa kembali memijat keningnya
"entah bagaimana aku bisa pulang sendiri semalam tapi kurasa aku memang hebat" Angkasa terus bicara sendiri sambil melepas pakaianya. dia akan segera mandi.
setelah mandi Angkasa menelfon Dion untuk menjemputnya karna mobilnya ketinggalan di bar semalam.
"anda bilang anda mabuk berat tapi bisa pulang sendiri?" Dion melirik bossnya sekilas lewat kaca mobil.
Sementara Angkasa kini kembali sibuk pada berkas-berkasnya
"hm" jawab Angkasa singkat
"apa anda yakin?" tanya Dion lagi menyelidik.
Setahu Dion, Angkasa tidak akan mungkin bisa pulang sendiri kalau sedang mabuk karna dia benar-benar tidak akan menyadari apapun ketika mabuk.
"apa kau tak percaya? siapa lagi yang akan membawaku pulang kalau bukan..buk..."
"jadi kau Nirmalaa....jadi kau Nirmalaa bagaimana bisa nama sekampungan itu"
Angkasa terdiam ada ingatan aneh yang baru saja melintas di fikirannya.
"tuan apakah anda baik-baik saja?" Dion merasa heran dengan tingkah tuannya.
Angkasa memberenggut rambutnya.
"tidak...tidak mungkin"
"Tapi mungkin karna aku merasa nyaman aku...... jadi ingin terus bertemu dengannya aku jadi bertanya-tanya apa yang sedang dilakukannya"
"argghhhhhhh....tidak mungkin" Angkasa kembali memberenggut rambutnya setelah sepotong ingatan aneh kembali melintas dikepalanya.
"tuan?"
"aku pasti sudah gila" Angkasa terus mengatakan itu berulang-ulang kali hingga mereka sampai di kantor.
__ADS_1
Sementara Dion kebingungan melihat tingkah tuannya.
...****************...
Nirmala duduk melamun sambil menunggu pelanggan datang ke tokonya.
"Aku....aku...terus memikirkannya akhir-akhir ini...dan bertanya-tanya bagaimana bisa..... aku begitu nyaman berada didekat seseorang"
Nirmala mengingat kata-kata Angkasa ketika mabuk semalam.
"apa yang dia maksud itu aku....eih mana mungkin" Nirmala mengibas-ngibaskan tangannya ke udara berusaha mengabaikan ingatannya.
"kakak sedang apa?" Dirgantara mengerutkan keningnya melihat tingkah kakaknya.
"D-Dir-Dirgantara?...sejak kapan kau ada disini?"
Nirmala kaget melihat adiknya sudah berdiri di depannya tanpa dia sadari kedatangannya.
"ck ck sebenarnya apa yang kakak pikirkan?"
"bukan apa-apa" Nirmala kini berdiri dari duduknya lalu mulai membersihkan lemari rotinya dengan kaku.
driiiitttt...driiiiittt
ponsel Nirmala berbunyi. Nirmala mengambil ponselnya dan melihat siapa yang memanggilnya.
"siapa?" tanya Dirgantara heran melihat kakaknya gugup melihat panggilan telfon.
"bukan siapa-siapa" Nirmala kemudian berjalan menuju dapur lalu mengangkat penggilan tersebut.
"Halo"
"Ini aku Angkasa"
"Y-ya aku tahu"
"ee hm kau ada waktu sore ini?"
"ah ya ak-aku ada waktu"
"baiklah aku akan menjemputmu di toko roti jam 4 sore"
"ah iya baiklah"
tuttt tuutttt....
__ADS_1
Angkasa mematikan panggilan dari sebrang sana.
Nirmala menarik nafas panjang setelah panggilan itu berhenti.
Angkasa bercermin di dalam ruangan kantornya sambil memperbaiki rambut dan dasinya.
"Hai sebenarnya aku..." Angkasa bicara menatap cermin seperti ber akting.
"ah bukan-bukan" Angkasa menyangkal sendiri perkataannya.
"hem soal semalam aku ingin..." Angkasa kembali bicara menatap cermin
"Ah salah bukan itu" Angkasa kembali menyangkal perkataannya sambil mengibas-ibaskan tangannya.
"Aku ingin minta maaf soal semalam..." lagi-lagi Angaksa bicara menatap cermin.
"an-da sed-sedang apa tuan?" Dion kebingungan melihat tingkah tuannya yang terasa sangat aneh hari ini.
"oh bukan apa-apa" Angkasa terkaget rupanya Dion memperhatikannya sejak tadi.
"Kosongkan jadwalku malam ini aku ada urusan penting" lanjut Angkasa kemudian melangkah pergi keluar dari ruangannya.
"tap-tapi tuan" Dion mempercepat langkahnya mengejar Angkasa
"ada apa?" tanya Angkasa melihat Dion terburu mengikutinya.
"malam ini anda harus makan malam dengan Keluarga Sanjaya group"
"Sanjaya Group?" Angkasa kaget dan menghentikan langkahnya.
"I-iya tuan pukul 6 malam di hotel Claro"
Angkasa mengerti apa yang terjadi kemudian melebarkan langkahnya menuju mobilnya dan melajukannya kencang.
jam sudah menunjukan pukul 4.15 sore tapi Angkasa belum muncul juga membuat Nirmala yang sedang menunggu di depan toko sedikit gelisah sambil menatap ke kiri dan kekanan berharap mobil Angkasa segera muncul.
Sesekali Nirmala kembali melihat jam di ponselnya sambil mengingat kembali kata-kata Angkasa saat menelfon tadi.
"aku akan menjemputmu di depan toko jam 4"
Nirmala menarik nafas kasar.
"apa aku salah dengar?"
.
__ADS_1
.