
Hujan turun lebih deras malam ini udara juga semakin dingin namun kedua manusia ini saling menatap tanpa kehangatan.
"kurasa kita harus pulang" Nirmala melepas genggaman Angkasa di bahunya dan beranjak dari duduknya.
tapi Angkasa menahannya.
"Nirmala...apa kau akan terus melarikan diri?"
Nirmala kembali menghela nafas kasar.
"apa menurut anda aku harus berlari pada anda karna anda bilang mencintaiku dan karna menerima lamaran pria lain membuat anda gila?...apa itu masuk akal?...sementara anda sudah bertunangan?"
Angkasa terdiam. kini dia sudah menjadi pria brengsek yang tak tahu malu.
Nirmala melepaskan genggaman Angkasa dengan keras dan berjalan ke ruang istirahat mengambil payung.
"kurasa Anda harus pergi" sambil menyerahkan payung itu pada Angkasa.
"aku terpaksa bertunangan. aku sama sekali tidak menyukai wanita itu" jelas Angkasa masih tak mau menyerah.
Angkasa tak peduli meski harus menjadi pria brengsek tak tahu malu. hidupnya tidak akan tenang sampai ia memastikan Nirmala tidak akan menerima lamaran pria itu. tidak. Nirmala tidak boleh dimiliki siapapun. membayangkan itu membuat Angkasa gila.
"apa dia juga tidak mencintai anda?"
Angkasa terdiam. Tasya sudah menyukainya dan terobsesi padanya sejak mereka duduk di bangku SMA dan pertunangan ini adalah salah satu cara Tasya untuk memiliki dirinya.
" rupanya dia mencintai anda" gumam Nirmala melihat Angkasa tak memberinya jawaban.
"apa itu penting?"
"penting. tentu saja itu penting"
Nirmala lagi-lagi menghela nafas kasar. berhadapan dengan Angkasa sangat melelahkan.
"tuan Angkasa...pulanglah, bukankah kita sama-sama harus menenangkan fikiran kita?"
Nirmala kembali menyodorkan payungnya pada Angkasa.
Angkasa akhirnya menyerah. benar dia harus memberi Nirmala waktu untuk berfikir. dia kemudian menelfon Dion untuk menjemputnya lalu dia pulang.
"apa gaji di perusahaan itu sebanyak itu? dia terlihat lebih kaya dari perkiraanku" gumam Nirmala menatap kepergian Angkasa yang dijemput dengan mobil mewah.
Angkasa menawarkan untuk mengantarnya tapi Nirmala menolak. dia tidak ingin mengagetkan Dirgantara dengan pulang jam 2 malam.
Nirmala masuk kedalam ruang istirahat dan membaringkan tubuhnya disana.
"apa itu penting"
kalimat Angkasa terngiang di kepala Nirmala
sulit menjelaskan pada Angkasa bahwa hal itu penting bagi Nirmala. bagaimana mungkin dia merebut kebahagiaan wanita lain.
tapi disisi lain Nirmala juga memikirkan betapa menderitanya Angkasa yang dijodohkan dengan wanita yang tidak ia cintai.
__ADS_1
"ck kenapa hidupnya seperti jaman kerajaan saja" gumam Nirmala.
banyak hal yang Nirmala fikirkan sebelum tidur termasuk Raihan yang melamarnya. Nirmala sebenarnya ingin menolaknya sejak awal meski Angkasa tidak memintanya karna dia masih ingin menghabiskan lebih banyak waktu hanya dengan adiknya Dirgantara. lebih lama lagi.
lagipula, bagaimanapun juga pria itu bukan pria yang Nirmala cintai meski dia dan keluarganya sangat baik dan mencintai Nirmala.
Nirmala merasa akan dipenuhi rasa bersalah selamanya pada Raihan jika seandainya dia menerima Raihan dan tidak bisa mencintainya balik.
dukkkk....dukkkkk...duukkkkkk....
samar-samar terdengar suara gedoran pintu membuat Nirmala terbangun dari tidur nyenyaknya.
dia mengucek matanya dan melihat sekeliling rupanya sudah pagi.
Nirmala segera bergegas bangun dan melihat siapa yang menggedor-gedor tokonya pagi-pagi.
"Dirgantara"
"kakak membuatku khawatir sepanjang malam"
"kau tidak pergi sekolah?"
Dirgantara menatap kakaknya malas
"kakak ini hari minggu"
"oh hem. maafkan kakak soal semalam"
Nirmala tertawa nyengir pada adiknya. membuat Dirgantara kembali menatapnya malas.
"tadi pagi?" Nirmala mengerutkan keningnya. bukankah ini masih pagi?.
Dirgantara ikut mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan kakaknya.
"kakak ini sudah jam sepuluh"
"APAAAA" Nirmala kaget setengah berteriak.
"ck" Dirgantara menggeleng-gelenglan kepalanya.
"tidak mungkin aku tidur selama itu" Nirmala segera menyita ponsel adiknya dan melihat jam untuk memastikan.
"kita harus memasang jam disini" gumam Dirgantara lagi-lagi menatap kakaknya dengan malas.
"kau benar. ngomong-ngomong apa kau ingin ikut kakak ke rumah bibi?"
"hm tentu saja"
Kini keduanya berada di atas kereta menuju rumah bibi mereka di kampung.
"apa rencana kakak?"
"aku akan menemui Raihan langsung"
__ADS_1
"apa kakak sangat tidak menyukai kak Raihan?"
"kakak hanya belum siap hidup dengan orang yang kakak tidak sukai"
Dirgantara hanya mangguk-mangguk mendengar jawaban kakaknya.
"apa kau menyukainya?...kakak akan menerimanya jika kau menyukainya"
"eishhh..." Dirgantara kembali menatap kakaknya malas.
sementara Nirmala terkekeh melihat respon adiknya merasa puas mengerjai adiknya.
...****************...
Sebelum menemui Raihan Nirmala sudah terlebih dahulu memberitahu bibinya agar menyampaikannya dengan sopan pada keluarga Raihan bahwa Nirmala sangat meminta maaf pada keluarga Raihan.
dan sekarang Nirmala duduk berdua dengan Raihan di sebuah balai-balai di bawah pohon yang begitu rindang sambil menikmati pemandangan sawah hijau di depannya.
"aku seharusnya mengatakan ini di tempat yang lebih nyaman dan sopan"
"santai saja. lagipula yang terpenting adalah jawabanmu"
hati Nirmala terasa seperti tercubit mendengar jawaban Raihan. mengapa pria ini begitu baik. Nirmala selalu gugup di depan Raihan karna dia selalu terlalu baik pada Nirmala.
"hm. sebelumnya aku ingin minta maaf soal malam itu"
Raihan hanya tersenyum menanggapi permintaan maaf Nirmala. lagi-lagi pria ini bersikap baik.
"maaf karna terlalu lama memberikan jawaban. aku minta maaf tapi aku tidak bisa menerima lamaranmu"
Hening setelah itu. Hanya suara dedaunan dan cicit burung-burung yang terdengar. sepertinya Raihan sedang menata perasaannya sebelum kemudian menjawab.
"hm kau tak perlu meminta maaf" Raihan yang tadi menatap Nirmala kini menunduk.
"aku sudah menduganya" lanjut Raihan kembali menatap Nirmala sebentar kemudian menatap kearah lain.
mata Raihan terlihat berkaca-kaca.
"aku pasti wanita yang sangat bodoh karna menyakiti pria sepertimu"
gumam Nirmala dalam hati sambil menatap Raihan
"aku baik-baik saja. kau tak perlu khawatir"
Raihan berusaha tersenyum menyadari Nirmala menatapnya.
"kau harus sangat bahagia dengan seseorang suatu hari nanti. bukankah agak jahat menghukum wanita yang kau sukai dengan rasa bersalah"
Raihan terkekeh mendengar perkataan Nirmala. perempuan ini selalu berhasil membuatnya tertawa bahkan disaat seperti ini.
.
.
__ADS_1
.