Presdir Jatuh Cinta

Presdir Jatuh Cinta
BAB 28 (Pertemuan-pertemuan)


__ADS_3

Sesuatu terasa lebih menyenangkan ketika bersama Nirmala itulah yang Angkasa rasakan saat ini. bercerita dengan gadis ini membuat semuanya lebih ringan. gadis yang biasa saja dalam segala hal entah itu sikapnya, cara berpakaiannya atau juga rupanya. dia memang bukan gadis yang luar biasa cantik seperti yang sering Angkasa temui di diskotik atau di gedung pesta perusahaan. tapi gadis ini mampu mebuat Angkasa nyaman.


"jadi kau tinggal hanya berdua dengan adikmu?" pertanyaan Angkasa dalam perjalanan mengantar Nirmala pulang.


"hm iya" jawab Nirmala singkat.


sebenarnya dia tidak ingin memebahas keluarganya lagi.


"adikmu umur berapa?" tanya Angkasa lagi.


"16 tahun. dia sudah kelas 1 SMA sekarang. maaf karna aku jadi bercerita tentang keluargaku tadi"


"aku senang karna kau menceritakannya"


kini Angkasa menoleh pada gadis ini sekilas. dia terlihat kembali murung. sepertinya Angkasa sudah merusak mood gadis ini.


"maaf karna sudah bertanya hal-hal pribadi" katanya kemudian


Nirmala sedikit tersenyum mendengar itu.


"tidak apa-apa" jawabnya.


"aku jadi merasa malu untuk frustasi sekarang"


Nirmala mengerutkan keningnya mendengar itu.


"kenapa?"


"karna kau sangat kuat. aku takut kau menertawaiku jika frustasi lagi"


Nirmala terkekeh mendengar itu sekaligus merasa senang karna Angkasa tidak mengasihaninya setelah apa yang ia ceritakan tadi.


"anda bisa memanggilku jika merasa frustasi lagi. aku akan datang dan memukul kepala anda agar kembali sadar"


"ck... katakan saja jika ingin balas dendam"


"egh aku fikir anda tidak akan menyadarinya"


jawaban Nirmala membuat Angkasa tertawa dan merekapun tertawa bersama.


ada banyak perbingangan-perbincangan konyol dan canda disepanjang perjalanan mereka pulang malam itu.


Ada banyak pertemuan-pertemuan Nirmala dan Angkasa di hari-hari setelah itu.


Nirmala yang awalnya ingin menjauh dari Angkasa. pria yang sudah bertunangan itu. kini tidak menyadari sudah terlalu banyak bertemu dan berinteraksi dengan Angkasa.


mungkin ini terjadi karna mereka adalah dua orang yang selalu saling merindukan. sehingga mereka menciptakan pertemuan-pertemuan yang tidak mereka sadari.


sama seperti malam ini.


"jangan tutup toko roti sampai aku datang"


Nirmala mengerutkan keningnya membaca pesan dari Angkasa.


"lain kali saja" balas Nirmala singkat kemudian dia kembali melanjutkan aksi beres-beresnya.

__ADS_1


Dirgantara baru saja datang menjemput kakaknya sekalian membantunya beres-beres untuk menutup toko.


tingg....


pesan kembali masuk ke ponsel Nirmala. dia menarik nafas kasar kemudian membuka ponselnya.


"aku ulang tahun hari ini"


Nirmala kembali mengerutkan keningnya membaca pesan itu.


Dirgantara yang memperhatikan kakaknya dari tadi jadi penasaran apa yang terjadi pada kakaknya.


"kakak ada apa?" tanyanya pada kakaknya.


"o-oh itu...eem" Nirmala bingung harus menjawab apa pada Dirgantara


sebenarnya dia tidak ingin pria itu bertemu dengan Dirgantara tapi dia juga tak bisa menolak karna pria itu mengatakan hari ini adalah hari ulang tahunnya.


"kakak?" tanya Dirgantara lagi tak sabar menunggu jawaban kakaknya.


"em ada pelanggan yang ingin datang kemari"


Dirgantara kembali mengerutkan keningnya mendengar itu.


dan.


disinilah Angkasa sekarang. dia duduk berhadapan dengan Dirgantara yang menatapnya penuh tanda tanya.


diatas meja ada sebuah kue ulang tahun dalam kotak yang Angkasa beli saat perjalanan ke tempat ini.


meski dengan perasaan bingung Dirgantara memutuskan ikut dalam perayaan ulang tahun pria ini dan meyakinkan dirinya bahwa dia akan mewawancarai kakaknya nanti. nanti setelah pria ini pergi.


Dan di malam yang lainnya ponsel Nirmala berdering mungkin sekitar pukul setengah sebelas saat itu.


"Halo...tuan Angkasa?"


"Hem maaf nona tapi tuan ini sedang mabuk jadi mohon jemput dia di bar xx"


Nirmala yang sedang berbaring di ranjangnya menarik nafas kasar lalu bergegas bangun mengambil jaket dan tasnya.


"Kakak keluar dulu sebentar, tidak usah menghawatirkan kakak" imbaunya pada Dirgantara sambil terburu-buru memakai sepatunya.


Sementara Dirgantara hanya terpaku lalu kemudian menggeng-gelengkan kepalanya melihat kepergian kakaknya.


Nirmala berdiri mematung memandang Angkasa yang berbaring di sofa vip bar tersebut.


kemudian Nirmala hanya bisa menghela nafas kasar lalu memapah Angkasa untuk menunggu taksi.


setelah sampai di apartemen Angkasa, Nirmala kembali dengan susah payah Nirmala memapah Angkasa memasuki gedung apartemen kemudian masuk ke lift.


"wah dia berat sekali" keluh Nirmala begitu berhasil membaringkan Angkasa di sofa apartemennya.


Nirmala memukul-mukul punggungnya berusaha menghilangkan rasa pegal karna memapah Angkasa.


kini Nirmala berdiri sambil menatap Angkasa yang tidur di sofa.

__ADS_1


"ck...kurasa sekarang waktunya menghilangkan frustasimu" ucap Nirmala sembari memukul kepala Angkasa dengan pelan.


"uh....kurasa dia demam"


Nirmala yang awalnya hanya memukul kepala Angkasa kini menyentuh dahi Angkasa.


"wah dia demam"


Nirmala bergegas membuka sepatu dan jaket Angkasa kemudian mengambil selimut di kamar Angkasa dan menyelimutinya.


"aku harus mengompresnya lagi seperti waktu itu"


Nirmala kembali menyentuh dahi Angkasa sebelum mengompresnya.


"uh... panasnya semakin naik...bagaimana ini" Nirmala panik setelah menyentuh dahi Angkasa yang sangat panas tak seperti waktu itu.


"ah bagaimana ini...kurasa dia akan viral jika aku mebelfon ambulnce"


Nirmala segera mencari cara meredakan panas melalui aplikasi pencarian.


"ah benar kotak obat" gumam Nirmala setelah memeriksa aplikasi pencarian.


Nirmala kemudian mencari kotak obat di apartemen Angkasa dan akhirnya menemukannya.


"shhhhh....shhhhh...."


Angkasa akhirnya bangun namun hanya bisa mendesah dan tidak bisa membuka matanya. kepalanya terasa sakit dan pusing.


"oh anda sudah bangun?"


Nirmala buru-buru menghampiri Angkasa setelah mengetahui dia sudah bangun.


"ah benar dia mabuk dan tidak bisa minum obat"


baru saja Nirmala hendak meminumkan obat pada Angkasa dan dia tersadar bahwa Angkasa sedang mabuk.


Nirmala akhirnya memutuskan untuk membuat bubur saja. dia segera bergegas ke dapur dan membuatnya.


Setelah buburnya matang Nirmala menyajikannya pada Angkasa dia membantu Angkasa duduk dan menyuapinya.


sepertinya Angkasa benar-benar sakit sekarang. dia bahkan tidak punya tenaga untuk membantah apalagi mendebat Nirmala. setelah makan bubur Angkasa akhirnya bisa kembali tidur.


Nirmala menghela nafas dan terduduk kelelahan di sofa dekat Angkasa berbaring.


"apa tidak apa-apa meninggalkannya seperti ini?" gumamnya sambil memandangi Angkasa.


Nirmala melihat jam dan rupanya sudah pukul 2 tengah malam.


namun Nirmala memutuskan untuk menelfon seseorang bernama Dion di ponsel Angkasa untuk memberitahukan kalau dia sakit. setelah menelfon Dion Nirmala kemudian pulang dengan naik taksi menuju toko roti.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2