
Sudah satu minggu Nirmala tak bertemu dengan Angkasa.
Angkasa sibuk mengurus bisnisnya di luar negeri hingga tidak ada kesempatan bertemu langsung dengan Nirmala.
untunglah ada teknologi canggih bernama handphone yang membuat mereka tetap bisa saling mengabari.
namun disisi lain Nirmala merasa bersyukur tidak harus bertemu dengan Angkasa karna dia sedang merasa resah dan banyak berfikir akhir-akhir ini setelah kedatangan Ibu Angkasa. Nirmala bingung harus melakukan apa.
meski dia teluka setelah mendengar perkataan ibu Angkasa tapi disisi lain Nirmala merasa sedikit mengerti perasaan nyonya itu. bagaimana mungkin putra penerus perusahaan ternama berpasangan dengan dirinya yang bukan apa-apa dia bahkan tidak punya sesuatu yang bisa dia banggakan pada dirinya.
"bagaimana mungkin aku meninggalkannya, memikirkannya saja sudah membuat nafasku sesak" bisik Nirmala pada dirinya sendiri.
"apa lagi kali ini?" Dirgantara yang mendengar bisikan kakaknya bertanya.
Nirmala menoleh pada Dirgantara yang duduk di sebelahnya.
"kau tahu. saat kakak memutuskan untuk kembali ke kota kakak sudah memikirkan banyak cara dalam mencintai Angkasa dan menghilangkan segala ketakutan serta kekhawatiran kakak. tapi...."
"kakak kemudian memyadari satu hal bahwa alasan sebenarnya kami tidak bisa bersama bukan karena kekhawatiran kakak tapi karena kenyataan bahwa kami memang tidak bisa bersama"
Padahal mata Nirmala sudah merah menahan tangis saat ini tapi tiba-tiba dia tertawa ringan sebentar diantara jeda kalimatnya. entahlah apa yang Nirmala tetawakan. kemudian dia kembali melanjutkan kalimatnya.
"bahkan tanpa merasa khawatirpun kami memang tidak akan bisa bersama"
Air matanya menetes setelah dia berhasil menyelesaikan kalimatnya lalu buru-buru ia menghapusnya.
Dirgantara berdiri hendak menenangkan kakaknya tapi Nirmala sudah lebih dulu berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
Dia tidur sore itu bahkan tidak bangun untuk makan malam. Dirgantara yang paham kakaknya juga tidak berniat mengnggangu tapi saat dia berada di depan kamar kakaknya pada tengah malam dia mendengar kakaknya berbincang dengan seseorang lewat telfon.
"Anda sudah pulang? baiklah, bagaimana kalau kita bertemu taman biasa saja?... tidak perlu. aku akan naik bus pagi-pagi"
dan benar saja Nirmala bangun pagi-pagi sekali menyiapkan sarapan untuk Dirgantara kemudian buru-buru ke halte untuk menunggu bus pagi.
Nirmala melamun sambil menyandarkan kepalanya pada kaca bus disepanjang perjalanan.
Semalam Angkasa menelfonnya dengan sangat bersemangat bahwa dia sudah akan pulang malam ini dan Nirmala juga membalas Angkasa dengan berpura-pura ceria.
kini jam sudah menunjukkan pukul 19.15 Nirmala sedang berdiri dengan gugup di bawah pohon di taman dimana ia biasa bertemu dengan Angkasa.
dan tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang.
cukup mengagetkan Nirmala namun kemudian dia menyadari bahwa orang itu pasti Angkasa.
__ADS_1
Mata Nirmala memanas merasakan hangatnya pelukan Angkasa dari belakang tapi memikirkan apa yang akan dia katakan pada Angkasa malam ini membuatnya emosional.
"aku merindukanmu" bisik Angkasa sambil memeluk Nirmala dan menyenderkan dagunya di bahu Nirmala.
Angkasa kemudian membalik tubuh Nirmala dan menatap matanya namun mendapati mata Nirmala sembab seperti habis menangis atau seperti sedang menahan air matanya.
Angkasa mengerutkan keningnya melihat itu.
"ada apa sayang?" tanyanya kemudian.
Nirmala tersenyum dan menyeka matanya.
"aku hanya..... terlalu merindukanmu"
mendengar itu Angkasa yang merasa lega jadi terkekeh kemudian kembali memeluk Nirmala.
"aku pikir seseorang melukaimu"
Nirmala tak menjawab dan hanya mengeratkan pelukannya pada Angkasa.
Kini mereka berdua berada diatas mobil menuju restoran yang Nirmala katakan. restoran itu cukup jauh dari kota hingga sudah cukup lama mereka berkendara tapi belum sampai juga.
"sayang apa makanan disana benar-benar enak?"
Angkasa mulai merasakan ada yang berbeda dari Nirmala hari ini. dia sama sekali tidak terlihat bahagia bertemu dengan Angkasa padahal mereka sudah lama tak bertemu.
Nirmala yang sejak tadi menatap keluar jendela tak memberikan respon apapun.
"sayang..." panggil Angkasa lagi
"oh iya. ad- ada apa sayang?" tanya Nirmala gagap.
Angkasa memegang pipi Nirmala.
"kamu kenapa sayang?" tanya Angkasa dengan lembut.
"kenapa kau banyak melamun hari ini?"
"hm bu-bukan apa-apa. emm apa ini sudah diluar kota?" tanya balik Nirmala tak ingin menanggapi pertanyaan.
Meski Angkasa masih bingung dia akhirnya menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan kekasihnya itu.
"tolong hentikan mobilnya tuan" perintah Nirmala pada supir Angkasa tiba-tiba.
__ADS_1
"ada apa sayang?" tanya Angkasa lagi.
"tolong minta supir menghentikan mobilnya"
Akhirnya Angkasa memerintahkan supirnya untuk berhenti.
Nirmala kemudian turun dari mobil dan disusul oleh Angkasa.
"Sayang ada apa kenapa turun disini?"
"aku ingin kita berpisah... hubungan kita sampai disini saja"
Kalimat yang berhasil membuat Angkasa terdiam.
Nirmala berjalan melangkah menjauhi Angkasa yang masih terdiam berusaha memaknai apa yang baru saja didengarnya.
Lalu Angkasa berlari menarik tangan Nirmala.
"ada apa ini? kenapa tiba-tiba? sayang ini sama sekali tidak lucu"
mata Angkasa memerah terlihat dia sedang menahan air matanya.
"entahlah. aku hanya sudah tidak ingin menjalani hubungan lagi dengan anda"
Nirmala melangkah lagi tapi tepat saat dia berada di belakang Angkasa, Angkasa berteriak.
"bukankah setidaknya kau menjelaskan sesuatu padaku"
"bukankah apa yang aku katakan sudah cukup jelas"
"semua yang kau katakan sama sekali tidak masuk akal"
Nirmala mengabaikan Angkasa dan terus berjalan menjauh dari Angkasa.
sama seperti ketika Nirmala jatuh cinta. pada akhirnya dia juga tidak menemukan alasan yang jelas untuk meninggalkan Angkasa.
apa karena kata-kata ibu Angkasa, atau karena Nirmala yang menyadari bahwa mereka berada di dunia yang berbeda atau karena kata-kata nenek Angkasa pagi ini. entahlah, semua alasan itu terasa benar di kepala Nirmala hingga ia tidak lagi menemukan alasan mereka harus bersama selain karena mereka saling mencintai.
.
.
.
__ADS_1