Presdir Jatuh Cinta

Presdir Jatuh Cinta
BAB 22 (Membuatku gila)


__ADS_3

Angkasa duduk terdiam di taman setelah kepergian Nirmala. hujan turun, juga tak lama setelah kepergian Nirmala tapi tak membuat Angkasa bergeming dari tempat ia duduk sekarang. padahal meski hujan turun tidak terlalu deras, itu cukup membuat Angkasa basah kuyup.


sekitar dua setelah jam Angkasa duduk melamun disana dia kemudian beranjak dari duduknya.


Angkasa menghentikan taksi lalu sampailah ia didepan toko roti milik Nirmala.


benar, akhir-akhir ini setiap kali ia ingin melarikan diri dari hal yang menyebalkan baginya dia selalu datang ke tempat ini lalu menceritakan hal-hal random pada gadis bodoh itu, gadis yang sampai sekarang masih tak tau siapa Angkasa sebenarnya.


kriiingg...kriingg


dan hal yang tidak disangka-sangka Angkasa adalah gadis itu keluar dari gedung yang ia tatap.


Angkasa yang sejak tadi merasa seluruh tubuhnya remuk berjalan gontai pada Nirmala. salah seorang penyebab tubuhnya terasa remuk sekarang.


gadis itu merasa kaget, Angkasa dapat merasakannya namun ia tetap memejamkan matanya dan mengeratkan pelukannya.


yang Angkasa ingat setelah itu adalah Nirmala sempat mendorong tubuhnya namun berhenti setelah Angkasa menyebut nama Nirmala. setelah itu Angkasa tidak ingat apa-apa lagi dan kini dia terbangun dengan keadaan bertelanjang dada.


Meski Angkasa belum punya tenaga untuk bangkit dari tempat ia berbaring dia dapat merasakan kini ia sedang tidak memakai baju.


"Hal-halooo...."


terdengar samar-sama suara Nirmala di sampingnya sedang menelfon seseorang.


"dengan tuan Dion?"


mendengar nama Dion Angkasa sadar bahwa ponsel yang sedang Nirmala gunakan adalah ponselnya. dengan buru-buru dan segala tenaga yang masih tersisa Angkasa mengambil ponsel dari tangan Nirmala dan mematikan panggilan.


"Berani sekali menyentuh ponselku" gumam Angkasa pelan dengan mata yang kembali terpejam.


"ak-aku hanya ingin minta pertolongan" jawab Nirmala terbata yang lagi-lagi merasa kaget dengan tingkah Angkasa.


"aku tidak akan mati...bukankah semestinya kau mengompresku atau menyelimutiku" balas Angkasa lagi.


meski dengan suara yang sangat lemah rupanya dia masih punya tenaga untuk mendebat Nirmala.


"ah benar" Nirmala baru sadar pria ini terlihat sangat kedinginan

__ADS_1


Nirmala segera bangkit mencari selimut di dalam lemari lalu nenyelimuti Angkasa dia juga mengambil baju kaos persediaan Dirgantara jika datang ke toko untuk membantunya.


"pakai ini jika anda masih punya tenaga untuk bangun dan.... ah sepertinya anda juga harus mengeringkan celana anda"


setelah itu Nirmala buru-buru keluar dari ruang istirahat itu sambil membawa handuk kecil menuju dapur.


saat Nirmala kembali, pria itu sudah terlelap dengan telah membaluti seluruh tubuhnya dengan selimut.


Nirmala memeras handuk kecil itu pelan lalu mengompreskannya di dahi Angkasa.


"lagipula kenapa anda hujan-hujanan" gumam Nirmala sambil menatap Angkasa yang telah tidur sangat lelap.


Nirmala keluar dari ruangan dimana Angkasa beristirahat dan duduk di salah satu bangku untuk pelanggan lalu tidur dengan merebahkan kepalanya pada meja di depannya.


"aku tak mengerti dengan apa yang terjadi pada kami" gumam Nirmala.


Angkasa terbangun dari tidurnya dan melihat sekelilingnya yang gelap. dia melepas kompres di dahinya kemudian bangun perlahan karna kepalanya masih terasa agak pusing.


Angkasa berjalan gontai keluar dari ruangan itu dan mengedarkan pandangannya dan mendapati Nirmala masih terjaga. dia duduk melamun di salah satu bangku pelanggan.


"kau tidak tidur?" tanya Angkasa sambil berjalan kearah Nirmala.


"anda sudah sembuh?"


"kompresmu cukup ampuh" Angkasa duduk di samping Nirmala.


"apa yang kau pikirkan sampai tidak tidur?"


"cara melarikan diri"


"rupanya kau masih mencari cara melarikan diri"


"hm...kali ini cara melarikan diri dari anda"


mereka berbincang tanpa saling menatap sejak tadi namun kini Angkasa menoleh dan menatap Nirmala tajam setelah mendengar jawaban Nirmala.


Angkasa tidak menyukai jawaban Nirmala.

__ADS_1


Nirmala yang menyadari Angkasa menatapnya menoleh sebentar dan tersenyum kemudian kembali memalingkan wajahnya.


"Nirmala...bisakah kau mempercayaiku kali ini?"


"bagian yang mana?" kini Nirmala membalas tatapan Angkasa yang sejak tadi ditujukan padanya.


"bahwa aku mencintaimu"


Nirmala menghela nafas kasar.


"tuan Angkasa..."


"Nirmala..." kini Angkasa menggenggam tangan Nirmala.


mata Nirmala berkaca-kaca kini ia menundukkan kepalanya tak mampu lagi menatap Angkasa.


"tuan Angkasa...anda sudah bertunangan"


Nirmala berusaha melepas genggaman Angkasa namun bukannya melepaskan Angkasa malah memeluknya.


"baiklah. tapi...bolehkah aku memintamu untuk tidak menerimanya?"


"kenapa anda mengabaikanku waktu itu?"


bukannya menjawab Nirmala malah bertanya balik.


Angkasa diam beberapa menit kemudian menjawab.


"bukankah memalukan menemuimu setelah bertunangan dengan gadis lain"


"tapi anda melakukannya sekarang"


Angkasa melepaskan pelukannya kali ini dia memegang bahu Nirmala dan menatapnya tajam.


"karna aku mendengarmu akan menerima lamaran pria lain dan itu membuatku gila"


.

__ADS_1


.


__ADS_2