
Kisah cinta Pangeran dan Cinderella?
kisah ini tidak pernah terbayangkan dalam benak Nirmala. tidak seperti anak yang lain yang selalu bermimpi menjadi Cinderella. Nirmala selalu memimpikan dirinya menjadi Crazy Rich karna hasil usahanya sendiri dan Pangeran? Nirmala bahkan tidak pernah mempertimbangkan kehadiran sosok Pangeran dalam hidupnya.
dari pada memikirkan Pangeran, selama ini Nirmala hanya memikirkan bagaimana membuat Diegantara jauh lebih bahagia dan lebih bahagia lagi dari hari ini.
Tapi...
Diluar dugaan dan rencana Nirmala, tiba-tiba dia dipertemukan dengan sosok Angkasa yang membuatnya nyaman dan ternyata pria itu kurang lebih hampir seperti sosok Pangeran yang para gadis impikan.
Nirmala yang awalnya berfikir mungkin pria itu salah satu berkat dalam hidupnya rupanya salah.
Diluar dugaan kehadiran pria itu malah membuat banyak kejadian yang Nirmala tidak bisa tangani.
Melarikan diri?
inilah yang saat ini Nirmala lakukan, daripada menimbulkan lebih banyak masalah Nirmala memilih untuk melarikan diri dari pria itu.
Hidupnya dan adiknya sudah cukup melelahkan untuk menghadapi permasalahan jika ia masuk kedalam hidup Pangeran itu.
Nirmala sedang duduk dengan scangkir kopi panas di tangannya, dia duduk di kursi sambil skali-skali menyesapi kopinya tatapannya kosong pada kaca di depannya. suara-suara hujan yang jatuh membasahi atap memberi rasa nyaman pada Nirmala.
"kakak sedang apa?" Dirgantara berjalan dengan tertatih sambil mengucek matanya, rambutnya terlihat awut-awutan dia baru saja bangun.
"oh kau sudah bangun...duduklah minum kopimu"
__ADS_1
Mengikuti perintah kakaknya Dirgantara kemudian duduk di kursi yang berhadapan dengan kakaknya. dengan meja di antara mereka dimana cangkir kopi milik Dirgantara berada.
"eeugghhhh....kau harus cuci muka dan sikat gigi terlebih dahulu" kata Nirmala sambil merapikan rambut adiknya.
Dirgantara menguap sambil kembali mengucek matanya.
"kakak benar"
Dia kemudian berdiri dan kembali bejalan dengan tertatih menuju kamar mandi.
"hati-hati kamu bisa menabrak"
Nirmala tertawa pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya.
Kini Dirgantara kembali dengan wajah yang sudah terlihat segar dia juga sudah merapikan rambutnya.
"tidak ada. seperti ini juga menyenangkan"
Dirgantara menghela nafas kasar menatap kakaknya yang sedang memandang bunga-bunga yang diterpa air hujan.
"kapan kita akan kembali ke kota?" tanya Dirgantara kemudian.
"entahlah. kakak sudah merasa nyaman disini" jawab Nirmala yang kini menoleh pada adiknya. ada seutas senyuman di sela-sela jawabannya.
"kakak aku baik-baik saja kita tidak perlu melarikan diri lagi"
__ADS_1
Nirmala terdiam dan menatap Dirgantara mendengar perkataan adiknya.
"Dirgantara orang-orang di kota itu kejam. mereka akan membulimu jika tahu kau adik ku" jelasnya kemudian.
Dirgantara kembali menghela nafas kasar.
"apa kita benar-benar hanya melarikan diri dari orang-orang yang akan menyakitiku?" tanya Dirgantara lagi.
"Dirga..." Nirmala merasa kewalahan mengahadapi pertanyaan Dirgantara.
"kakak, dengar Dirga dulu"
"apa kau tidak suka tinggal disini?" tanya Nirmala kemudian.
"iya aku tidak suka" kini mereka diam dan saling menatap.
untuk pertama kalinya Nirmala memberi tatapan dingin pada adiknya. tapi Dirgantara memilih untuk tetap melanjutkan kalimatnya.
"aku tidak suka kakak selalu duduk dengan tatapan kosong seperti ini, aku tidak suka kakak berpura-pura baik-baik saja seperti ini, aku tidak suka menjadi orang yang membuat kakak harus tinggal di tempat ini"
Mata Nirmala memanas mendengar kalimat yang Dirgantara sampaikan. air matanya hampir lolos. Dirgantara yang selalu Nirmala anggap sebagai anak kecil kini sudah bisa menceramahinya. dan terlepas dari semua itu kata-kata Dirgantara adalah kebenaran yang selama ini Nirmala hindari.
"Dirgantara..." hanya kalimat itu yang berhasil keluar dari mulut Nirmala kemudian air matanya menetes. dia menangis terisak tanpa mengelurakan suara.
melihat kakaknya menangis kini Dirgantara segera berdiri dan medekap kakaknya sambil skali-skali menepuk punggung kakaknya.
__ADS_1
"aku tahu kakak mencintainya, kakak tidak perlu melarikan diri darinya karna takut dengan ucapan orang-orang. kakak tidak perlu melarikan diri lagi. aku akan selalu mendukung kakak jadi yang perlu kakak lakukan hanya menerima dan mencintainya"