Presdir Jatuh Cinta

Presdir Jatuh Cinta
BAB 12 (Menyusahkan)


__ADS_3

Setelah keluar dari rumahnya Angkasa melajukan mobilnya menuju sebuah bar di ujung kota. Angkasa sengaja kesana agar tak ada yang mengenalinya jika saja dia mabuk nanti.


Sebenarnya tak biasanya Angkasa mabuk-mabukan namun karna terlalu frustasi malam ini dia memutuskan ke bar.


Sampai di bar Angkasa langsung memesan berbagai macam jenis minuman keras kemudian meminumnya.


kini Angkasa sudah mabuk meskipun belum terlalu.


Dalam keadaan setengah sadar itu dia meraba-raba handphonenya dan hendak menelfon seseorang namun baru saja orang itu mengangkat telfon Angkasa kemudian pinsan.


"Halooo....Haloo tuan Angkasa?"


pelayan yang melihat itu kemudian mengambil ponsel tersebut.


"Halo Nona. saya adalah pelayan bar xx. pemilik telfon sedang mabuk berat aku harap anda kesini untuk menjemputnya"


Pelayan tersebut kemudian memberikan alamat bar tersebut.


Angkasa bicara setengah berteriak sambil memegang hendponenya seperti menelfon sedeorang.


"Aku....aku...terus memikirkannya akhir-akhir ini...dan bertanya-tanya bagaimana bisa..... aku begitu nyaman berada didekat seseorang"


Nirmala terdiam melihat Angkasa yang mabuk berat dan terus bicara tak jelas.


"Mungkinkah karna dia tak tahu apa-apa tentangku....? Aku terus bertanya-tanya"


"Tapi mungkin karna aku merasa nyaman aku...... jadi ingin terus bertemu dengannya aku jadi bertanya-tanya apa yang sedang dilakukannya"


"Aku pasti sudah gila" Angkasa tertawa setelah mengatakan itu semua kemudian tak sadarkan diri.


Nirmala yang dari tadi terdiam mendengar ocehan Angkasa jadi panik dan segera bergegas memapah Angkasa.


Nirmala yang sedang memapah Angkasa kini berdiri di pinggir jalan menunggu taksi.


"Huh menyusahkan saja" keluh Nirmala


"Taksiiiii" Nirmala menghentikan taksi lalu naik sambil memapah Angaksa yang sedang tak sadarkan diri karna terlalu mabuk.

__ADS_1


"Tuan Angkasa....tuaaann....tolong katakan dimana alamat anda" Nirmala berusaha membangunkan Angkasa saat diatas taksi.


"Aku....aku...ini....berat" Angkasa yang mabuk berat hanya bergumam tidak jelas.


"Heii...tuan...dimana rumah anda" Nirmala masih berusaha membangunkan Angkasa


"Aku tiiiidaaakk punyaaa rumah"


"Huh bagaimana ini" Nirmala menoleh pada supir taksi yang dari tadi menatapinya lewat kaca mobil.


"Maaf tuan temanku sedang mabuk berat"


Nirmala tersenyum kikuk pada sopir taksi tersebut.


"Jadi aku harus mengantar nona kemana?"


"Nirmalaaaaa.....kau Nirmalaa?" Angkasa yang dari tadi diam seperti tak sadarkan diri kini kembali bangun dan menarik pipi Nirmala.


"Ck....bagaimana bisa nama sekampungan itu" Angkasa kembali tertidur di dada Nirmala setelah itu.


"apartemen wonderland... lantai 30 tolong antarkan aku kesana....toloooong" Angkasa yang masih bersandar di jendela taksi bicara sendiri sambil memejamkan mata tapi air matanya keluar.


"padahal aku....aku sudah bekerja keras" Angkasa masih bicara sendiri.


Nirmala hanya bisa menatap Angkasa dan mengeleng-gelengkan kepalanya tak habis fikir dengan apa yang terjadi.


"sebenarnya kenapa anda mabuk-mabukan" Nirmala begumam menatap Angkasa.


"aku lelah" Angkasa kembali bicara dengan air mata bercucuran.


"Nirmalaa...."


"iya tuan" Nirmala mendekat pada Angkasa mengira mendengar namanya disebut.


tapi setelah itu Angkasa hanya diam hingga mereka sampai di sebuah apartemen mewah.


"kita sudah sampai nona"

__ADS_1


"Ah baik" Nirmala bergegas memberikan ongkos taksi dan turun kemudian segera kembali memapah Angkasa dengan susah payah.


"huh...Lantai 30" gumam Nirmala yang sudah kelelahan kemudian membawa Angkasa memasuki lift Apartemen dan memencet tombol 30.


Sampai di lantai 30 Nirmala yang memapah Angkasa dengan kelelahan keluar dari lift dan sampailah di depan pintu apartemen.


Nirmala menoleh kanan kiri hanya 1 ruangan di lantai ini.


"sepertinya anda lebih kaya dari dugaanku" Nirmala kembali bergumam sendirian.


Nirmala kemudian menempelkan tangan Angkasa di gagang pintu apartemen dan pintupun terbuka.


Nirmala segera membaringkan Angkasa di sofa.


"wah bahuku serasa mau patah"


Nirmala memijat bahunya sambil memperhatikan ruangan tempat ia berada.


"wah apartemen ini sangat mewah" Nirmala bicara sendiri.


Nirmala berjalan menuju Kulkas dan mengeluarkan air dingin kemudian meminumnya.


Nirmala kemudian duduk bersandar di sofa dekat dengan dimana Angkasa berbaring.


"wah aku lelah sekali" Nirmala bicara sendiri sambil memandangi Angkasa didepannya.


"dia sepertinya sangat kaya tapi apa yang membuatnya begitu sedih"


Nirmala kembali teringat saat pria itu dengan santainya meminta berkencan dengannya.


"ck aku harusnya tidak menemuimu lagi"


Nirmala kemudian beranjak dan pergi dari apartemen Angkasa.


.


.

__ADS_1


__ADS_2