Presdir Jatuh Cinta

Presdir Jatuh Cinta
BAB 17 (Pria ini)


__ADS_3

"apa kakak akan menerimanya?" tanya Dirgantara pada kakaknya.


"entahlah...apa menurutmu sebaiknya kakak menerimanya?" tanya Nirmala balik pada adiknya.


"kakak akan lebih tahu itu" Dirgantara yang tadinya terus menatap ke langit kini berbalik menatap kakaknya.


Nirmala tahu bahwa Dirgantara kini sedang menatapnya namun dia menolak untuk menatap balik pada Dirgantara.


"aku tidak melihat bintang malam ini"


Nirmala memilih tidak menanggapi perkataan adiknya kemudian bangkit dari duduknya dan masuk kedalam rumah.


...****************...


Lima hari berlalu namun toko dan rumah Nirmala masih terpantau kosong sehingga Angkasa meminta seseorang mencari keberadaan Nirmala dan adiknya.


Seseorang datang ke kantor Angkasa menyerahkan amplop besar pada Angkasa. Dia langsung membuka amplop tersebut dan terlihat beberapa lembar foto Nirmala dan Dirgantara didalamnya.


"menurut penjelasan tetangga mereka sedang berkunjung ke rumah bibinya" lapor orang itu pada Angkasa.


Angkasa hanya mengangguk lalu meminta orang itu pergi. Angkasa memilah foto itu satu persatu dan memandanginya.


"apa kau sedang melarikan diri" gumam Angkasa sambil terus memandangi foto Nirmala di tangannya.


driiiitt... driiitttt...


sebuah panggilan dengan nama Tasya di ponsel Angkasa membuatnya berdengus kesal.


"ada apa?" tanya Angkasa tanpa basa-basi setelah mengangkat panggilan tersebut.


"ada pertemuan keluarga malam ini. kau harus datang" kata Tasya di sebrang sana kemudian langsung mematikan panggilan.


Angkasa menyimpan ponselnya di meja lalu memijat pangkal hidungnya.

__ADS_1


...****************...


Nirmala membuka pintu rumanya kemudian menyimpan oleh-oleh dari bibinya di meja lalu duduk di sofa menyandarkan tubuhnya.


Nirmala teringat kata-kata bibinya sebelum dia dan Dirgantara pamit pulang.


"bibi ingin kau mempertimbangkannya sekali lagi. terlepas dia adalah tetangga bibi, ibunya adalah sahabat ibumu sejak kecil"


Nirmala menghela nafas kasar.


"kakak tidak harus melakukannya jika tidak ingin. jangan terlalu memikirkan kata-kata bibi"


Dirgantara berusaha menenangkan kakaknya yang terlihat risau.


"kakak sangat lelah. kau pesan makanan lewat online saja" Nirmala kemudian berlalu meninggalkan adiknya menuju kamarnya.


"aku penasaran kau apa kabar?"


"apa yang sedang kau lakukan?"


"kenapa kau tidak pernah mengabariku lagi?"


"kenapa kau tiba-tiba tidak mengenaliku waktu itu?"


"sudah lama sejak aku tidak pernah memikirkan seorang pria seperti ini tapi kau membuatku kembali melakukannya"


"jika kau benar-benar tidak akan kembali, apa aku harus menerimanya saja? lagipula dia mencintaiku"


begitulah pertanyaan-pertanyaan yang berseliweran di fikiran Nirmala sebelum dia tertidur malam ini.


Pagi-pagi pukul 6 Nirmala sudah bangun dan segera mandi kemudian berpakaian rapi. Nirmala kemudian menaiki bus menuju sebuah taman yang sudah cukup lama tak ia datangi.


"waktu melarikan dirimu pasti sudah selesai karna kau ada disini sekarang"

__ADS_1


sebuah suara tak asing membuyarkan lamunan Nirmala membuatnya menoleh pada sumber suara tersebut.


"waktu melarikan diri anda pasti sudah selesai juga karna anda berdiri disana sekarang"


balas Nirmala sambil menyipitkan matanya bercanda pada Angkasa.


Angkasa terkekeh mendengar jawaban Nirmala lalu berjalan dan duduk tepat di samping Nirmala.


"apa anda tak merasa bersalah padaku?" tanya Nirmala diiringi candaan sambil terus menatap Angkasa yang sedang menatap pemandangan didepannya.


"maaf aku hanya tak tahu bagaimana menyapamu waktu itu" jawab Angkasa santai menoleh pada Nirmala.


"hanya itu?" balas Nirmala


Angkasa mengerutkan keningnya tak paham.


Nirmala menarik nafas panjang tak habis pikir dengan kelakuan pria didepannya.


pria yang tiba-tiba menyatakan cinta padanya, memintanya berkencan dengannya, tidak menepati janjinya, tidak pernah menghubunginya lalu mengabaikannya saat mereka kebetulan bertemu.


pria ini pria yang selalu mengganggu pikirannya akhir-akhir ini.


bagaimana bisa dia meminta maaf sesantai itu seperti tidak pernah terjadi apa-apa dan apa yang terjadi itu bukan hal besar padahal dia sudah banyak memikirkan pria ini.


"aku tidak tahu apakah itu memang hal yang mudah dilupakan bagi anda atau hal itu yang memang tak pantas untuk diingat"


ada banyak pertanyaan dalam benak Nirmala namun hanya kalimat itu yang berhasil lolos dari mulutnya.


Angkasa kembali hanya mengerutkan keningnya mendengar kalimat yang dikatakan Nirmala.


"tuan Angkasa. aku tidak tahu apa aku boleh mengatakan ini atau tidak tapi aku ingin memberitahumu...bahwa aku menyukaimu"


Kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut Nirmala kali ini berhasil membuat Angkasa terdiam sambil menatap Nirmala.

__ADS_1


.


.


__ADS_2