
Arumi kembali ke kamar. Wanita tersebut tersenyum simpul saat melihat sang suami yang masih meringkuk di dalam selimutnya.
Perlahan Arumi berjalan menuju kamarnya. Ia membuka salah satu tombol yang ada di lemari, memasukkan kode akses masuk hingga dinding itu berputar memperlihatkan sebuah ruangan rahasia, tempat Arumi menyimpan sesuatu yang berharga.
Arumi meletakkan dokumen penting perusahaan di salah satu rak yang ada di tempat tersebut. Ada rasa kesal dalam benaknya saat mendapati ibunya yang diam-diam hendak mencuri dokumen penting perusahaan.
Setelah kejadian waktu itu, Arumi sengaja masih meletakkan dokumen tersebut di sana. Hal ini sebagai pancingan, agar ia mengetahui siapa pelaku yang sebenarnya.
Arumi memasang kamera pengintai tepat di dekat vas bunga, dan alat penyadap di bawah meja kerja tersebut supaya ia tahu dengan jelas, siapa pelaku yang sebenarnya.
Dan sekarang, sudah terbukti. Bahwa tidak semua orang yang memperlakukannya dengan baik, itu benar-benar baik. Contohnya, Dewi yang ia ketahui sebagai ibu nya sendiri justru mengkhianati dirinya.
Arumi berjalan keluar, setelah berhasil meletakkan kembali dokumen penting itu ke dalam ruang penyimpanan tersebut.
Wanita itu pun melirik Fahri, ia melangkah mendekat ke ranjang dan berbaring di samping suaminya. Arumi memeluk Fahri dari belakang, Fahri yang terbangun akan perlakuan Arumi pun langsung berbalik ke arah sang istri, membalas pelukan Arumi yang tak kalah hangat.
"Kenapa kamu belum tidur juga?" tanya Fahri dengan suara yang serak.
"Aku tidak bisa tidur, Mas." Arumi berbohong. Ia menutupi kejadian yang baru saja terjadi.
"Tidurlah. Mas peluk supaya cepat tidur," ujar Fahri kembali mengeratkan pelukannya. Dalam keadaan mata tertutup, Fahri masih mengusap rambut Arumi dan mengecup puncak kepala istrinya itu.
Arumi tersenyum simpul. Ia menatap wajah Fahri yang terpejam dengan lekat. "Tak peduli aku dikelilingi oleh banyak orang jahat, Mas. Tapi satu yang ku minta. Ku harap kamu tak serakah seperti mereka. Ku harap kamu benar-benar tulus bersamaku walaupun kata cinta sekalipun belum terucap dari bibirmu. Ku harap kamu berbeda dari mereka," batin Arumi.
Arumi mencoba memejamkan matanya, melupakan semua yang membuat dirinya merasa kecewa dan sedih. Lalu larut ke dalam mimpinya.
....
Keesokan harinya, seperti biasa. Fahri bersiap untuk pergi ke kantor. Hari ini, rasa mual Arumi perlahan mulai berkurang. Ia pun menyiapkan berbagai perlengkapan suaminya untuk berangkat ke kantor. Fahri tidak mengijinkan Arumi terlalu banyak gerak dan membuat istrinya itu lelah. Akan tetapi, Arumi menolaknya. Baginya, melayani suami itu adalah tugas utama dari seorang istri.
"Kamu istirahat lah, Istriku. Biar aku saja yang bersiap sendirian," ujar Fahri.
__ADS_1
"Tidak, Mas. Ini sudah menjadi bagian dari tugasku. Lagi pula tidak baik jika aku bermalas-malasan," ucap Arumi.
Arumi memasangkan dasi untuk Fahri. "Selesai!" ucap wanita hamil itu sembari mengulas senyumnya.
"Ya sudah. Kalau begitu ayo turun, Mas. Kita sarapan!" ajak Arumi sembari merangkul lengan suaminya.
Fahri mengikuti langkah sang istri. Pria itu tersenyum dan berjalan beriringan dengan istri dan anak yang ada di dalam rahim Arumi.
Saat menuruni anak tangga, Fahri mengedarkan pandangannya. "Aku tidak melihat keberadaan mama mertua. Apakah mama belum bangun?" tanya Fahri pada istrinya.
"Mama akan tinggal di tempat temannya, Mas. Biarkan saja, lagi pula itu keinginan mama," timpal Arumi berbohong.
Fahri merasa ada yang aneh. Ia pun menyamping, menghadap sang istri. Lalu kemudian memegang kedua bahu Arumi dan menatap mata wanita itu dengan lekat.
"Apakah kamu dan mama bertengkar lagi?" tanya Fahri penuh selidik.
Arumi mengulas senyum. Ia tak ingin Fahri mencurigainya telah berbohong dan ini semua juga guna untuk menutupi aib ibunya agar tak diketahui oleh sang suami.
"Benar kamu sedang tidak ada masalah dengan mama?" tanya Fahri lagi, karena ia merasa kurang yakin dengan apa yang dilontarkan oleh istrinya.
"Ya sudah, kalau kamu tidak percaya, coba telepon mama sekarang," pancing Arumi.
Fahri tersenyum, lalu kemudian mengusap rambut istrinya dengan lembut. "Iya, Sayang. Aku percaya. Ya sudah, ayo kita sarapan karena setelah ini aku akan berangkat ke kantor," ucap Fahri yang langsung menarikkan kursi untuk sang istri.
Arumi pun mengangguk pelan, sembari menjatuhkan bokongnya tepat di kursi yang telah dipersiapkan oleh Fahri. Fahri juga duduk di kursinya. Kedua pasangan suami istri itu pun menikmati sarapannya dengan tenang.
.....
Di lain tempat, Roy yang merupakan kekasih Dewi pun menertawakan keberadaan Dewi di rumah itu. Dewi mendelik, menatap pria itu dengan tajam.
"Aku kira kamu tidak akan kembali lagi ke sini," ujar Roy.
__ADS_1
"Mau aku kembali atau tidaknya bukanlah urusanmu. Lagi pula ini rumahku, dan aku bisa melakukan apapun sesuka hatiku. Dan kamu ... ingat! Kamu hanya menumpang di sini!" tukas Dewi.
"Baiklah, aku akan pergi. Tapi ku pastikan aku akan membeberkan semua rahasiamu," ancam Roy.
Dewi membulatkan matanya dengan sempurna. Ia pun menatap kekasihnya itu dengan lembut. "Sebaiknya tetaplah di sini. Kita harus mengatur rencana selanjutnya," ucap Dewi.
Roy kembali terkekeh. Lalu kemudian memilih untuk duduk di sofa yang sama dengan Dewi. "Lantas ... rencana apa yang akan kamu buat setelah ini?" tanya Roy sembari memainkan ujung rambut Dewi.
Dewi merasa sedikit terganggu, tapi ia mencoba untuk bersikap biasa. Supaya pria yang ada di sampingnya ini tidak menggila.
Elena dan Samuel tengah berada di kedai kopi milik Elena. Seperti biasa, Samuel selalu memanfaatkan kesempatan untuk menikmati hidangan secara cuma-cuma.
Elena bersedekap, melihat Samuel memakan cake tiramisunya dengan sangat lahap. "Terkadang aku berpikir. Dari mana aku bisa tertarik dengan pria seperti mu," ujar Elena blak-blakan.
"Mungkin karena aku terlalu tampan dan banyak digandrungi oleh sejuta wanita," celetuk Samuel sembari menyuapkan cake ke mulutnya.
"Mmmm ... aku merasa ini benar-benar nikmat. Kamu harus sering-sering memberikanku cake ini secara cuma-cuma, supaya kedai mu laris manis," lanjut Samuel.
Elena yang mendengarkan hal tersebut langsung memutar bola matanya. Ia meraih iPad yang ada di hadapannya. Lalu kemudian memperlihatkan beberapa foto yang ia ambil dan ditunjukkan langsung pada Samuel.
"Lihatlah! Beberapa kali aku menemukan pria yang kamu maksud, selalu berada di sebuah bar yang sama dengan suami dari Sifa," jelas Elena.
"Aldo?"
"Entahlah, aku tak mau tahu siapa nama pria itu. Yang aku tahu dia adalah suami Sifa yang sekarang," ujar Elena terdengar malas.
Samuel meneguk cake yang ada di dalam mulutnya, laku kemudian menyesap iced americano yang ada di hadapannya. Ia pun meraih iPad milik Elena, menggeser layar iPad tersebut memperlihatkan beberapa foto Indra dan Aldo pada hari yang sama datang ke bar tersebut.
"Apakah Aldo juga ikut campur dalam hal ini? Benarkah Indra dalang dari penyerangan pada malam itu, ataukah bukan Indra. Melainkan ada dalang utama yang tak terduga?" gumam Samuel seraya menatap layar tersebut.
Bersambung ....
__ADS_1