Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 42. Terlalu Buta


__ADS_3

Cukup lama keduanya saling terdiam sembari menghangatkan lewat sebuah genggaman. Tak lama kemudian, perhatian keduanya teralihkan saat penjual bakso tersebut mengantarkan pesanan ke meja mereka.


"Sudah cukup lama tidak melihat kalian berdua. Sekarang sudah anak berapa?" tanya penjual bakso tersebut.


Dahulu, memang keduanya sering mengunjungi tempat ini. Makanya penjual itu sangat mengenal wajah Aldo dan Sifa.


"Masih dalam tahap proses, Pak. Do'akan saja secepatnya," celetuk Aldo.


"Amiin. Ya sudah, kalau begitu silakan dinikmati baksonya. Nanti keburu dingin," ucap si penjual tersebut.


"Iya, Pak."


Aldo pun meniup baksonya secara perlahan, lalu kemudian memasukkan makanan tersebut ke dalam mulutnya.


"Bagaimana rasanya? Apakah masih tetap enak?" tanya penjual itu.


"Untuk rasa hanya berbeda sedikit. Kali ini lebih nikmat rasanya," ujar Aldo yang pandai mengambil hati penjual tersebut. Sifa dan si penjual pun langsung terkekeh zetelah mendengat ucapan Aldo.


"Ya sudah. Kalau begitu silakan dinikmati, Bapak mau melayani yang lain dulu," ucapnya yang kemudian meninggalkan kedua orang tersebut.


Sifa dan Aldo pun menyantap makanannya dengan tenang. Sesekali keduanya melemparkan guyonan sembari menikmati semangkuk bakso tersebut.


Di lain tempat, Arumi baru saja keluar dari kamar mandi. Dengan mengenakan bathrobe serta rambut yang dibungkus dengan kain handuk, gadis itu segera mengecek ponselnya. Melihat kalau saja ada balasan pesan dari Fahri. Namun, setelah melihat layar ponsel tersebut, Arumi cukup kecewa karena pria itu tak menanggapi pesannya.


"Hah? Dia tak membalas pesanku?" gumam Arumi dengan kening yang berkerut.


"Sulit ku percaya. Dia mengabaikanku?"


"Banyak pria yang ada di luaran sana memgejarku. Tapi, dia dengan mudahnya mengabaikanku begitu saja? Benar-benar pria menyebalkan! Jika saja aku tidak menyukainya, mungkin aku sudah membuatku kesulitan," gerutu Arumi yang sedari tadi bermonolog. Gadis itu memilih untuk mengucilkan ponselnya, lalu kemudian berjalan menuju ke lemari, dan mengambil piyama untuk ia kenakan.


....


Mobil yang dikendarai oleh Aldo tiba di depan apartemen tempat tinggal Sifa. "Hati-hati di jalan," ujar Sifa seraya membuka sabuk pengamannya.


Baru saja tangannya tergerak membuka pintu, tiba-tiba Aldo menarik Sifa. Lalu kemudian meraup rahang wanita tersebut dan mengecup bibir kekasihnya dengan singkat.

__ADS_1


Sifa memukul lengan Aldo karena perbuatan nakal dari kekasihnya itu. "Kamu memang paling hobi mencuri ciuman dariku," gerutu Sifa.


"Hanya sedikit memanfaatkan kesempatan," timpal Aldo dengan mudahnya.


"Ya sudah. Kalau begitu aku pulang dulu. Berhati-hatilah di jalan," ujar Sifa.


"Siap, Sayang."


Setelah Sifa turun dari mobil, Aldo pun mulai melajukan kendaraan tersebut. Saat mobil Aldo sudah melaju cukup jauh, Sifa langsung naik ke atas menggunakan lift.


Setibanya di depan pintu, Sifa memasukkan kode akses rumah. Lalu kemudian, masuk ke dalam huniannya itu.


Sifa berjalan menuju ke kamar. Ia terkejut karena mendapati Fahri yang tengah terlelap di atas kasur tersebut. Pria itu tampak sangat nyenyak dalam tidurnya.


Sifa berjalan mendekati kasur tersebut. Ia duduk di sisi tempat tidur. Saat Sifa mendekat, Fahri tampaknya menyadari keberadaan Sifa. Pria itu pun segera bangkit dari pembaringannya. Membawa bantal dan gulingnya untuk pergi dari tempat tersebut.


"Kamu mau kemana, Mas?" tanya Sifa yang melihat Fahri pergi begitu saja.


"Jika kamu ingin tidur di kamar, tidurlah! Aku akan tidur di luar," timpal Fahri.


"Kamu tidak bekerja?" tanya Sifa.


"Kenapa kamu tidak bekerja lagi di kantor?" Sifa kembali bertanya yang membuat Fahri cukup bosan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.


"Aku tidak perlu bekerja keras lagi, karena sebentar lagi tanggung jawabku padamu telah selesai. Tunggu sampai persidangan, untuk sementara izinkan aku menumpang di sini. Tidak akan lama, hanya sebentar saja," ujar Fahri.


Fahri meninggalkan Sifa sendirian. Sementara Sifa, entah mengapa ia kembali meneteskan air matanya. Meskipun ia menginginkan perpisahan ini, mustahil baginya melupakan waktu dua bulan yang mereka lalui dengan mudah.


Ada kalanya sekelebat kenangan itu tetap melekat dalam ingatannya. Sifa menatap pintu yang baru saja tertutup dengan tatapan kosong. Air matanya semakin deras seiring kepergian Fahri.


"Ada apa ini? Bukankah ini yang aku inginkan? Mengapa aku masih menanggung perihnya? Harusnya aku berbahagia atas perpisahan ini," gumam Sifa sembari memegangi dadanya.


Di sisi lain, Fahri saat ini tengah menatap keluar jendela. Pikirannya melalang buana, ia juga mengingat kenangan bersama Sifa. Jika ditanya siapa yang paling tersakiti atas perpisahan ini, jawabannya adalah Fahri.


Pria inilah yang banyak berjuang atas pernikahan mereka. Menahan segala macam sakit yang ditorehkan oleh istrinya. Berusaha untuk tetap mempertahankan pernikahannya.

__ADS_1


Namun, ia memilih menyerah. Dari pada dirinya harus melihat sang istri semakin menambah dosanya tidur dengan pria lain, lebih baik Fahri memilih untuk melepaskan pernikahannya sekalipun itu adalah hal yang sulit.


"Sifa, andai kamu tahu. Cintaku tak terhingga untukmu. Tapi sayang, kamu terlalu bodoh untuk menyadarinya, terlalu buta untuk melihatnya, dan terlalu tuli untuk mendengarnya," lirih Fahri menatap langit malam itu.


...----------------...


Keesokan harinya, Fahri tengah bersiap untuk pergi menemui Arumi. Menjemput uang yang akan menjadi miliknya. Sebagai imbalan atas pernikahannya dengan wanita tersebut.


Setibanya di sana, Fahri melihat Arumi yang sudah datang lebih dulu dibandingkan dirinya. Biasanya, Fahri lah yang tiba lebih dulu.


Hari ini Arumi terlihat sedikit berbeda. Gadis itu tampak mengubah gaya rambutnya yang semula lurus menjadi sedikit bergelombang. Namun, tetap saja. Kecantikan Arumi tak bisa melunturkan rasa cinta Fahri terhadap sang istri, yang sebentar lagi akan tersematkan menjadi mantan istri.


Fahri melihat Arumi tidak sendirian di sana. Tampak seorang pria tampan yang selalu mendampinginya juga berada di tempat itu.


Fahri pun masuk ke dalam resto, lalu berjalan menghampiri meja yang telah diisi oleh Arumi dan Samuel.


"Silakan duduk," ujar Samuel berdiri dan mempersilahkan Fahri untuk duduk berhadapan dengan Arumi.


Fahri menjatuhkan bokongnya. Ia melihat sebuah tas besar yang ada di samping Arumi. Pria itu dapat menebak bahwa isi dari dalam tas tersebut adalah uang senilai lima ratus juta, seperti yang telah dijanjikan kemarin.


Tak lama kemudian, pelayan resto datang. Samuel dengan cepat mengambil buku daftar menu tersebut. Karena bagaimana pun juga, memang pria itu tak pernah melewatkan kesempatan. Mengisi perutnya selagi Arumi yang membayar semuanya.


"Ada baiknya jika kita mengisi perut terlebih dahulu sebelum membahas kesepakatan itu," celetuk Samuel.


Arumi tersenyum, karena Samuel sangat pintar membaca situasi. Gadis itu berpikir jika Samuel berucap demikian karena memang mendukungnya.


"Saya pesan yang ini, yang ini, dan yang ini. Oh iya, jangan lupa yang ini juga. " Samuel menunjuk beberapa menu untuk dirinya.


Arumi memejamkan matanya. Dalam hati, ia mendengus kesal atas perilaku Samuel tersebut.


"Sepertinya bukan karena mendukungku, melainkan memang dia mengambil kesempatan dalam kesempitan," gerutu Arumi dalam hati.


"Kalian, silakan pesan apa yang ingin kalian makan," ujar Samuel seraya memberikan buku daftar menu tersebut pada Arumi.


"Sepertinya kamu membutuhkan satu meja untuk dirimu sendiri," ucap Arumi pelan. Bagaimana tidak? Meja tersebut pastinya akan penuh dengan menu yang dipesan oleh Samuel saja.

__ADS_1


"Ide yang bagus!" ujar Samuel. Pria itu menarik kembali daftar menu yang ada di tangan Arumi, lalu kemudian kembali menambahkan makanan yang akan dipesannya lagi.


Bersambung ....


__ADS_2