
Aldo dan Sifa tengah bersiap. Sepasang suami istri itu hendak menghadiri pesta pertunangan teman Sifa yang akan diadakan malam ini juga.
"Teman mu calon pengantin prianya atau yang wanita?" tanya Aldo seraya mengancingkan lengan kemeja panjangnya.
"Yang wanita," ujar Sifa seraya memberikan jas pada sang suami.
Aldo pun mengenakan jas tersebut. Pria itu menatap dirinya di cermin sekilas, lalu kemudian berbalik menatap Sifa yang sudah berdiri di belakangnya.
"Kamu sudah siap?" tanya Aldo. Sifa menimpalinya dengan sebuah anggukan pelan.
"Ya sudah, kalau begitu ayo kita berangkat!" ucap Aldo yang langsung berjalan melenggang keluar dari kamarnya, disusul oleh Sifa yang berada di belakang pria tersebut.
Aldo langsung masuk ke dalam mobilnya. Mobil yang ia dapatkan dari Arumi karena telah berhasil menghancurkan rumah tangga Sifa dan Fahri. Sifa pun masuk ke dalam kendaraan tersebut, lalu kemudian Aldo melajukan kendaraannya menuju jalanan.
....
Di lain tempat, Fahri dan Arumi baru saja tiba di pesta. Fahri turun dari mobil, mencegah sang istri untuk turun terlebih dahulu.
"Tunggu sebentar!" sergah Fahri yang baru saja melepaskan sabuk pengamannya.
Arumi mengernyitkan keningnya. Ia melihat suaminya keluar lebih dulu, lalu kemudian berlari langsung membukakan pintu untuk Arumi. Melihat hal tersebut, Arumi terenyuh dengan sikap Fahri yang perlahan mulai menunjukkan sisi keromantisannya.
Arumi pun turun dari mobil, lalu kemudian saat hendak melangkah masuk ke pesta, gadis itu melingkarkan tangannya di lengan Fahri.
Fahri menatap ke arah sang istri sejenak. Pria itu mengulas senyumnya, dan Arumi pun membalas senyuman suaminya itu tak kalah manisnya. Kedua orang tersebut melangkah secara bersamaan menuju ke aula, dimana pesta tersebut tengah berlangsung.
Selang beberapa saat kemudian, Aldo dan Sifa juga tiba di pesta tersebut. Aldo memarkirkan mobilnya, baru saja pria itu keluar dan menutup pintu mobil tersebut, tiba-tiba ia terkejut karena seseorang menepuk pundaknya. Sontak hal itu langsung membuat Aldo membalikkan badannya.
"Pak Indra, ..."
Pria yang disebut namanya pun langsung menarik segaris senyum di bibirnya. "Ku dengar, kamu adalah raja di meja judi. Kapan kamu ada waktu untuk melawanku," bisik Indra tepat di telinga Aldo.
Sifa yang saat itu melihat Indra pun sedikit memicingkan matanya, menatap Indra dengan tatapan tak suka. Namun, ia berusaha untuk tidak ikut campur dalam urusan suaminya.
__ADS_1
"Baiklah. Aku bisa kapan saja. Jika Pak Indra sudah siap, jangan lupa untuk menghubungi aku. Aku akan segera berada di lokasi," tutur Aldo mengulas senyum smirk nya.
"Baguslah. Kalau begitu, nanti aku akan menghubungimu," ucap Indra seraya menepuk bahu Aldo.
Sebelum melangkahkan kakinya, Indra melihat mobil yang dipakai oleh Aldo secara seksama. Ia menyentuhkan telunjuknya di badan mobil tersebut.
"Mobilmu, sepertinya aku pernah melihat ini sebelumnya," ujar Indra.
Aldo yang mendengar hal tersebut hanya menyunggingkan senyumannya saja, melihat pria itu perlahan berjalan meninggalkannya. Setelah itu, Sifa langsung menggandeng pria tersebut.
Di pesta, Sifa tampak melihat cukup banyak orang-orang yang datang. Bagaimana tidak? calon suami dari temannya itu memang salah satu anak dari pemilik perusahaan yang cukup besar. Tak heran jika di sana banyak yang berpenampilan elit.
Sifa mengedarkan pandangannya, mengajak Aldo untuk menghampiri temannya itu, karena ingin mengucapkan selamat wanita yang ingin melangsungkan pertunangan tersebut.
Saat ia melangkah hendak menghampiri, tiba-tiba matanya menangkap sosok pria yang tak asing baginya juga ada di pesta tersebut. Pria yang pernah berbagi suka duka bersama selama dua tahun.
"Ayo! Kamu bilang hendak mengucapkan selamat tadi pada temanmu," ujar Aldo yang tiba-tiba membuyarkan lamunan Sifa.
"Ah ... iya. Ya sudah, ayo kalau begitu," tandas wanita tersebut kembali melangkahkan kakinya yang sempat tertunda.
Sesekali wanita tersebut mencuri pandang ke arah Fahri. Pria itu tampaknya tengah berbaur dengan beberapa orang dari kalangan atas. Fahri juga sudah terlihat berbeda. Mantan suaminya itu tampak bersinar dan berkharisma. Berbeda jauh saat pria itu bersama dirinya dulu.
Tak lama kemudian, wajah Sifa tampak berubah masam saat melihat Arumi yang tiba-tiba menghampiri Fahri, akan tetapi pria tersebut langsung merangkul pinggang mungil istrinya itu.
"Apa kamu hanya mencari penyakit ke sini? Diam-diam melihat mantan suamimu sedangkan suami sah mu sedang berada di sampingmu!" bisik Aldo yang tampak kesal.
Sifa langsung melemparkan pandangannya pada pria yang ada di sebelahnya. Pria itu telah menatap ke arahnya dengan tajam. Tak terima tatapan memuja dari istrinya itu saat melihat ke arah Fahri.
"Maafkan aku," ujar Sifa.
Aldo hanya terdiam. Pria tersebut tak menjawab ucapan Sifa. Ia lebih memilih untuk menjauh dari istrinya sejenak, takut jika nanti emosinya tak terkontrol dan dia akan melakukan hal yang diluar dugaan pada istrinya itu.
Aldo memilih mengambil minuman saat salah satu pramusaji lewat di depannya. Pria itu pun menenggak minuman tersebut hingga kandas. Tangannya mencoba melerai dasi yang mengikat lehernya terasa semakin sesak.
__ADS_1
Sifa masih saja memandangi Fahri. Wanita itu sesekali mengarahkan pandangannya ke lain arah saat Fahri hampir saja menyadari keberadaannya. Sementara Aldo, Sifa seakan tak mempedulikan suaminya sendiri hanya demi melihat mantan suaminya yang tampaknya sudah benar-benar lepas dari masa lalunya.
Sifa melihat Fahri tengah meraba sakunya. Ia melihat pria tersebut menjauh dari kerumunan hanya untuk mengangkat panggilan dari ponsel pintarnya.
Diam-diam Sifa pun mengikuti Fahri dari belakang. Entah apa yang dipikirkan oleh wanita tersebut hingga nekat berbuat seperti itu.
Fahri menepi, sembari berbincang pada lawan bicaranya di seberang telepon. Tak lama kemudian, pria itu pun kembali memasukkan ponselnya. Dan kemudian hendak berbalik kembali ke tempat semula, menikmati pesta bersama rekan kerja dan juga istrinya.
Namun, ia dikejutkan dengan keberadaan Sifa yang muncul secara tiba-tiba di hadapannya. Wanita tersebut tampak memandangnya dengan begitu lekat.
Fahri sebisa mungkin, mencoba untuk menghindari Sifa. Pria tersebut berlalu dari hadapan mantan istrinya, akan tetapi wanita itu menarik lengannya, menghadang langkah Fahri selanjutnya agar tetap berada di tempatnya.
"Ada perlu apa lagi? Kenapa kamu selalu menggangguku?" tanya Fahri.
Sifa tak mengatakan apapun. Matanya berkaca-kaca melihat Fahri yang melemparkan tatapan dingin padanya.
Fahri hanya bisa membuang muka sembari menghela napasnya. Dia bingung dengan sikap Sifa yang saat ini. Entah mengapa , Sifa harus kembali mengusik kehidupannya yang sudah mulai tenang.
"Secepat itukah kamu melupakanku?" tanya Sifa yang seakan tak rela melihat Fahri yang saat ini sudah mampu tersenyum lebar.
"Lantas ... kamu ingin selamanya aku terpuruk? Meratapi kesedihanku karena istriku lebih memilih pria kaya?" tanya Fahri yang mulai kesal pada Sifa.
"Tapi seharusnya kamu tidak seperti ini. Aku bahkan mempercayai dalamnya cintamu, akan tetapi setelah aku melihat kamu bersama dengan wanita kaya raya itu, kamu berubah seratus delapan puluh derajat, Mas." Sifa berkata pelan akan tetapi dengan penuh penekanan.
"Iya, dia kaya. Namun, meskipun begitu ... ia tidak gengsi memiliki suami yang miskin seperti aku. Dia mampu memahami ku, membuatku tidak terlalu meratapi kesedihan demi wanita yang telah membuangku," cecar Fahri.
"Aku membuangmu? Yang benar saja! Kamu lah yang membuangku, Mas!" tukas Sifa.
"Tidak. Kamu lah yang membuangku terlebih dahulu. Dia ... hanyalah seorang gadis yang memungutku dari tempat sampah, dan menjadikan diriku lebih berharga. Jadi, ku harap kamu berhenti mengusik ketenangan ku. Aku adalah pria beristri, dan kamu juga wanita yang bersuami. Tak baik jika kamu terus menggangguku seperti ini," cecar Fahri yang langsung pergi meninggalkan Sifa begitu saja.
Sifa menatap punggung Fahri yang semakin lama semakin hilang dari pandangannya. Dan wanita itu langsung membelalakkan matanya, saat Aldo tiba-tiba muncul dihadapannya.
"Apa yang telah kamu lakukan!" geram Aldo. Pria itu pun langsung menarik pergelangan tangan istrinya, membawa wanita itu pulang dari pesta tersebut.
__ADS_1
Bersambung ...