Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 145. Kecurigaan Arumi


__ADS_3

"Siapa yang kamu telepon, Mas?" tanya Arumi menatap suaminya dengan penuh curiga.


"Ah ini ... Samuel tadi yang menelepon ku," timpal Fahri yang langsung memasang wajah piasnya.


"Samuel? Kenapa Mas Fahri harus berbisik kalau memang itu Samuel?" tanya Arumi lagi.


"Tidak apa-apa, Sayang. Mas takut jika nanti kamu terbangun," sahut Fahri.


Fahri menatap wajah cantik istrinya yang sedikit memberengut masam. Pria itu pun langsung memperlihatkan panggilan terakhirnya kepada Arumi.


Setelah melihatnya dengan jelas, kecurigaan Arumi pun perlahan menghilang. Wanita tersebut kembali berbaring di tempat tidurnya.


"Mas, ..."


"Iya."


"Aku lapar," ujar wanita cantik itu.


Fahri menghampiri istrinya, lalu kemudian mengusap puncak kepala sang istri dengan lembut.


"Ya sudah, ayo kita cari makan. Tapi kamu mandi dulu biar enakan," ujar Fahri.


"Gendong aku, Mas. Mandikan juga sekalian," ucap Arumi.


"Yakin?" tanya Fahri sembari menaikkan alisnya sebelah.


Arumi tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.


Fahri pun langsung mengangkat tubuh sang istri yang tengah berbaring di tempat tidur.


"Mas, ... turunkan aku, aku hanya bercanda," seru Arumi sembari terkekeh.


Fahri mengabaikan ucapan istrinya itu. Ia membawa Arumi langsung masuk ke kamar mandi, setelah mengantarkan sang istri, ia pun keluar dari kamar mandi tersebut.


....


Fahri sudah berpakaian lengkap. Pria itu mengenakan O neck polos berwarna maroon dipadukan celana jeans panjang berwarna hitam.


Fahri menggeser layar ponselnya sembari menunggu sang istri yang masih belum menyelesaikan ritual mandinya.


Tak lama kemudian, Arumi keluar dari kamar mandi. Aroma mawar menguar seiring munculnya Arumi dari dalam bilik kamar mandi itu.


Wanita tersebut melihat suami tampannya sudah tampak rapi. Arumi pun langsung mengambil baju yang ada di dalam koper miliknya, mengeluarkan dress maroon dengan sedikit motif berwarna hitam.


Setelah mengenakan pakaiannya, Arumi merias diri dan menata rambutnya dengan gaya ponytail. Ibu hamil itu tampak terlihat sangat cantik dan elegan.

__ADS_1


"Selesai," ujar Arumi setelah menorehkan lipstik pada bibir tipisnya.


Fahri pun beranjak dari tempat duduknya saat melihat sang istri telah selesai merias diri. Pria itu memeluk istrinya dari belakang, lalu kemudian memutar tubuh ramping Arumi hingga menghadap ke arahnya.


"Coba ku lihat, apakah istriku sudah terlihat menawan?" tanya Fahri menatap lekat istrinya.


Tangan Fahri terulur merapikan anak rambut yang ada di kening Arumi. "Ternyata istriku benar-benar cantik," puji Fahri.


"Dan suamiku juga sangat tampan," ucap Arumi penuh penekanan.


Keduanya terkekeh. Arumi langsung mengambil sling bag-nya, lalu kemudian keduanya berjalan keluar secara bersamaan.


"Tunggu di sini sebentar, aku ingin mengambil kunci mobil dengan Pak Rahmat," ucap Fahri.


"Sekalian saja ajak Pak Rahmat, Mas. Biar kita makan bersama di luar," usul Arumi.


Fahri pun mengangguk. Pria itu menuju ke kamar sang supir, mengetuk pintu yang ada di hadapannya. Tak lama kemudian, pria yang umurnya berkisar 40 tahun itu pun muncul dari balik pintu.


"Ada apa, Tuan?" tanya Pak Rahmat sembari mengucek matanya, terlihat sekali bahwa pria itu habis bangun tidur.


"Kami berencana ingin mengajak bapak keluar untuk makan bersama, tapi sepertinya Pak Rahmat masih butuh waktu untuk beristirahat," ujar Fahri.


"Iya, Tuan. Saya masih mengantuk," ucap pria tua itu sembari mengusap tengkuknya.


"Ya sudah, kalau begitu saya minta kunci mobilnya saja ,Pak. Nanti saya belikan makanan untuk bapak," ujar Fahri.


"Ini Tuan," ujar Pak Rahmat.


"Baiklah, kalau begitu selamat beristirahat Pak Rahmat," ucap Fahri mengulas senyum sembari mengambil kunci yang diberikan oleh supirnya itu.


"Oh iya, Pak Rahmat ingin makan apa? Nanti saya belikan," tawar Fahri.


"Apa saja, Tuan."


Setelah mendengar jawaban dari supirnya itu, Fahri pun menganggukkan kepalanya. Ia pun kembali melangkahkan kakinya, menghampiri sang istri yang telah menunggunya sedari tadi. Kedua pasangan itu pun langsung melangkah bersama keluar dari hotel tersebut.


.....


Mobil yang dikendarai oleh Fahri tiba di salahbsatu resto yang letaknya sangat bagus. Resto tersebut terlihat sederhana, akan tetapi mata mereka yang ada di sana akan langsung dimanjakan oleh pemandangan sungai jernih dengan arus yang tak begitu deras.


Fahri dan Arumi langsung masuk ke dalam resto tersebut, menempati salah satu meja yang ada di resto itu. Tak lama kemudian, seorang pelayan pun datang sembari membawa daftar menu. Arumi dan Fahri memilih beberapa menu yang hendak ia santap nanti.


Setelah mencatat pesanan pasangan suami istri itu, pelayan resto pun langsung menuju ke dapur untuk menyiapkan pesanan.


"Mas, besok aku ikut atau tetap tinggal di hotel?" tanya Arumi.

__ADS_1


"Kalau mau ikut, tidak apa-apa," timpal Fahri.


"Mas Fahri tidak akan merasa terganggu kan?" tanya Arumi lagi.


"Tidak, Sayang. Aku tidak pernah merasa terganggu dengan keberadaan dirimu," ujar Fahri sembari menggenggam tangan sang istri.


Keduanya pun cukup lama terdiam sembari memandangi sungai jernih yang ada di depan mereka. Berselang beberapa saat, makanan mereka pun datang, mereka pun memakan hidangan tersebut dengan tenang.


Setelah menikmati makan malam, mereka pun memilih bersantai sejenak, duduk di sebuah kursi panjang yang letaknya tak jauh dari resto tadi.


Arumi dan Fahri saling memeluk, berbagi kehangatan di dinginnya malam itu. Terlihat banyak orang yang juga duduk-duduk di sekitaran sana.


"Mas, ..."


"Hmmm ...."


"Aku sudah lama tidak melihat mama," ujar Arumi tiba-tiba.


Fahri langsung mengernyit, ia pun melepaskan rangkulannya dari tubuh sang istri.


"Mama pasti baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir," ucap Fahri. Terlihat gurat kekhawatiran tercetak jelas di wajah pria itu.


"Yang aku khawatir kan adalah kamu. Aku takut kamu bertemu dengan wanita itu," batin Fahri.


"Sebenarnya aku ...."


"Yuk kita pulang! Kasihan Pak Rahmat belum makan. Nanti kita singgah sebentar untuk membelikan Pak Rahmat makanan, mungkin beliau saat ini sedang kelaparan," ujar Fahri yang langsung menyela ucapan sang istri. Ia tak ingin jika Arumi membahas masalah Dewi, dan akhirnya nanti Fahri pun keceplosan.


"Ya sudah," ucap Arumi.


Wanita itu beranjak dari tempat duduknya, kedua orang tersebut langsung pergi dari sana dan berencana untuk kembali ke hotel.


.....


Keesokan harinya, Elena saat ini sedang berada di resto. Dari kemarin hingga hari ini ia tak melihat batang hidung Samuel yang biasanya sudah duduk sembari meminta jatah gratisan di tempatnya.


Elena menghela napasnya beberapa kali, ia mencoba untuk menghilangkan Samuel dari pikirannya, akan tetapi semua itu tak bisa ia lakukan. Bayangan Samuel sangat sulit untuk dilupakan.


"Aku harus melangkah maju. Berhenti mengingat Samuel!" tekadnya dalam hati.


Elena memilih untuk mengutak-atik ponselnya. Tak lama kemudian, salah seorang pelayan pun datang dan menghampiri gadis itu.


"Nona, kemarin saya dengar kabar kalau Pak Sam ...."


"Stop Mila! Tidak usah membahas samuel lagi di depanku," ujar Elena dengan tegas.

__ADS_1


"Baik, Nona."


Bersambung ....


__ADS_2