Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 121. Senyumku Mengalihkan Duniamu


__ADS_3

Fahri dan Arumi tengah berada di rumah kaca. Kedua pasangan suami istri itu mendongakkan kepalanya, menatap langit malam yang dihiasi bintang-bintang.


Fahri merangkul Arumi, menyalurkan kehangatan karena udara malam itu cukup dingin.


"Sayang, mari kita masuk ke dalam. Udaranya dingin, nanti kamu masuk angin," ujar Fahri.


"Tunggu dulu, Mas. Aku masih senang berada di sini," ucap Arumi.


Fahri merapikan sweater di pergelangan tangan Arumi yang sedikit tersingkap. Pria itu pun menggenggam tangan istrinya yang mulai terasa dingin di bagian ujung jemarinya.


"Mas, kamu mau anak kita laki-laki atau perempuan?" tanya Arumi yang tiba-tiba melontarkan pertanyaan.


"Laki-laki atau pun perempuan tidak masalah bagiku, Sayang. Asalkan kamu dan anak kita sehat," tutur Fahri dengan nada yang begitu lembut.


Arumi tersenyum, lalu kemudian menatap wajah Fahri dengan seksama. Wanita itu mengelus rahang tegas suaminya.


"Kelak saat dia lahir akan mirip siapa? Aku tidak keberatan jika dia lebih mirip kamu, Mas. Toh, kamu juga sangat tampan," puji Arumi yang tak mengalihkan pandangannya dari wajah Fahri.


Fahri tersenyum, ia juga menangkup pipi tirus istrinya. Menyalurkan kehangatan di wajah sang istri yang terasa dingin itu.


"Aku juga tidak keberatan jika dia mirip denganmu. Bagiku, kamu adalah wanita tercantik di muka bumi ini," ujar Fahri.


Arumi terkekeh, ia merasa bahwa ucapan Fahri itu sedikit berlebihan.


"Jika aku wanita tercantik di muka bumi, bagaimana dengan mantan istrimu terdahulu? Bukankah dulu kamu begitu menyukainya," ucap Arumi.


Fahri langsung bungkam. Raut wajahnya berubah drastis setelah Arumi membahas tentang masa lalunya.


Melihat ekspresi yang diperlihatkan oleh suaminya itu, membuat Arumi merasa bersalah. Ia benar-benar merutuki kebodohannya karena telah salah berucap.


Namun, di sisi lain Arumi juga sangat takut jika suatu saat nanti Fahri tahu bahwa dirinya juga ikut andil dalam hancurnya rumah tangga Fahri terdahulu.


"Mas, aku ...."


"Lebih baik tidak usah membahas tentang masa lalu lagi. Aku sudah tidak ingin membicarakannya lagi," ujar Fahri.


"Maafkan aku, Mas."


"Sudah tidak apa-apa. Sekarang ayo kita masuk ke dalam. Udaranya di sini semakin dingin," ajak Fahri seraya mengusap puncak kepala istrinya.


Arumi pun mengangguk. Wanita tersebut menuruti ucapan sang suami. Keduanya pun meninggalkan tempat itu dan masuk ke dalam rumah.


.....


Elena bersedekap, menatap pria yang sudah mengisi salah satu meja pelanggan yang ada di cafenya. Pria tersebut tampak tersenyum ke arah Elena. Yang membuat Elena sedikit bergidik ngeri, karena biasanya ada maksud tertentu dibalik senyum pria itu.


Elena pun datang dengan raut wajah yang masam menghampiri pria yang tengah duduk di dekat jendela kaca.


"Hai Elena, teman baikku," ujar Samuel sembari tertawa cengengesan.

__ADS_1


Mendengar kalimat yang diucapkan oleh Samuel, membuat Elena langsung memutar bola matanya dengan malas.


"Ada apa lagi?" ketus Elena menarik kursi yang ada di hadapannya, menjatuhkan bokongnya di kursi tersebut.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin datang saja ke sini," timpal Samuel bak manusia tanpa dosa.


Samuel meraih ponsel di hadapannya. Lalu mengotak-atik ponsel tersebut sebentar. Sesaat kemudian, Samuel mengangkat benda pipih tersebut, memperlihatkan layar ponselnya pada Elena.


"Aku telah mengembalikan uangmu lima ratus juta. Untuk sisanya, itu urusan nanti," ujar Samuel seraya terkekeh.


"Bagaimana kamu bisa mendapatkan uang lima ratus juta sebanyak itu? Bukankah kamu pengangguran?" ucap Elena.


Duarrr ...


Seketika ucapan Elena sedikit menyentil harga diri seorang Samuel. " Akan lebih manis jika kamu tidak memperjelasnya," ujar Samuel seraya mengusap tengkuknya.


"Lagi pula aku tak semiskin seperti yang kamu kira," lanjut pria tersebut berbohong. Padahal, ia hanya membayarkan pada Sugeng setengah uang yang dipinjamnya kemarin.


"Terserah kamu saja," ucap Elena.


Tak lama kemudian ...


"El ... kopi El. Haus nih," bujuk Samuel yang mencoba mencari gratisan pada temannya itu.


"Aku tidak akan memberikannya jika kamu meminta gratisan lagi," ketus Elena.


Samuel menghela napasnya. Pria tersebut memasang wajah sedihnya. "Ya sudah, kalau begitu aku pulang saja. Mungkin kamu memang merasa terbebani olehku," gumam Samuel yang mencoba memasang aksinya.


"Mbak, ..." Elena memanggil salah satu pegawai yang bekerja di cafenya.


Samuel memalingkan wajahnya sejenak, lalu kemudian menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah seringaian tipis. Ternyata umpan yang di pasang oleh Samuel mengenai sasarannya juga.


Pria itu pun kembali menjatuhkan bokongnya di kursi. Mengurungkan niatnya untuk pergi dari tempat itu.


"Ada apa, Bu?" tanya pelayan tersebut menghampiri Elena.


"Tanyakan padanya, apa saja yang ia inginkan," ujar Elena sembari mengarahkan pandangannya pada pria yang ada di hadapannya.


Pelayan itu pun mengikuti arah pandang atasannya. Lalu kemudian menanyai Samuel.


"Mau pesan apa, Pak?" tanya pelayan tersebut.


"Ah ... seperti biasa. Kamu tahu kan?" tanya Samuel yang memang selalu memesan makanan serta minuman yang itu-itu saja.


"Baik, Pak." pelayan tersebut langsung berjalan ke dapur untuk membawakan pesanan Samuel.


Samuel mengarahkan pandangannya pada Elena. Pria itu mengulas senyum, seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan sebuah hadiah.


"Tidak usah tersenyum seperti itu. Kamu membuatku bergidik!" cecar Elena.

__ADS_1


"Bukankah senyumku ini mampu mengalihkan duniamu?" goda Samuel.


Elena yang awalnya bersikap cuek pun langsung muncul semburat kemerahan di kedua pipinya. Gadis tersebut menutupi wajahnya yang mulai terasa panas.


"Ada apa? Apakah kamu merasa malu?" tanya Samuel yang tak berhenti menggoda Elena.


"Dasar manusia tidak peka!" ketus Elena yang masih menutupi wajahnya.


Samuel hanya terkekeh geli mendengar ucapan yang baru saja dilontarkan oleh gadis pemilik surai panjang yang ada di depannya.


Selang beberapa menit kemudian, pesanan Samuel pun tiba. Pria tersebut langsung menyambutnya dengan mata berbinar.


Diam-diam Elena mencuri pandang ke arah Samuel yang tengah menyantap cake-nya. Sesekali Elena pun tersenyum samar melihat Samuel yang terlihat sedikit menyebalkan namun tetap membuat hatinya bergetar.


"Bagaimana hasil tes DNA yang kamu katakan sewaktu itu. Apakah sudah keluar?" tanya Elena yang mencoba untuk membuka pembicaraan.


Samuel yang sedang mengunyah makanannya pun hanya bisa menjawab pertanyaan Elena dengan sebuah gelengan. Setelah menelan makanannya, Samuel pun mulai membuka suara.


"Aku baru saja menyerahkannya ke rumah sakit tadi sore. Dan hasilnya akan keluar paling cepat selama dua Minggu. Nanti akan dikabari lagi oleh pihak rumah sakit," timpal Samuel.


"Ya ... semoga saja Arumi dijauhkan oleh orang-orang yang hendak berbuat jahat padanya. Jika aku ada di posisinya, mungkin aku akan benar-benar merasa frustasi," ujar Elena.


Samuel pun tersenyum simpul mendengar penuturan gadis yang ada di hadapannya.


"Arumi belum mengetahui semua fakta yang ada. Jika ia sampai tahu, mungkin dia juga akan seperti mu. Merasa frustasi dengan kenyataan yang sebenarnya. Namun, sebisa mungkin kita harus menutupnya rapat. Mengingat saat ini dia tengah mengandung," jelas Samuel.


Elena pun hanya menganggukkan kepalanya, pertanda setuju dengan apa yang diucapkan oleh pria yang ada di hadapannya.


"Arumi sudah bahagia, lalu kapan kamu akan mulai melangkah ke depan?" pancing Elena.


Samuel yang saat itu baru saja hendak meraih gelas kopinya, langsung mengurungkan niatnya.


"Entahlah. Aku belum tahu kapan pastinya. Namun, jawabannya adalah sampai aku benar-benar sembuh dan mampu mencintai gadis lainnya," ujar Samuel.


"Bisakah aku masuk ke dalam daftar gadis yang menjadi kandidat selanjutnya?"


Kalimat itu pun lolos begitu saja dari bibir Elena. Samuel menatap gadis yang ada di hadapannya. Dan Elena yang baru saja sadar akan ucapannya pun merasa malu.


"Ah iya. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan. Aku tinggal dulu!" ujar Elena berbohong. Gadis itu pun langsung bangkit dari tempat duduknya dan sedikit terlihat salah tingkah.


Samuel tak menahan Elena untuk pergi. Pria itu hanya menatap punggung Elena yang semakin menghilang dari pandangannya.


"Haruskah aku melakukannya?" gumam Samuel.


Bersambung ....


Update gila-gilaan guys. Isi kepalaku berasa salto pas di akhir bulan. Jari-jari kalian jangan sampai lelah ya tekan like sama komen nya. Othornya seneng bgt kalo di bully. Apalagi pas ngebully nya di bilang cantik😌


Oh ya, penasaran visualnya Elena sama Samuel, nih aku kasih.

__ADS_1




__ADS_2