Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 62. Hari H


__ADS_3

Suasana aula gedung tampak ramai. Ini menjadi lokasi tempat dimana Arumi dan Fahri akan mengadakan resepsi. Arumi menyewa hotel bintang lima untuk acaranya. Tentu saja ia tak ingin ada kekurangan satu pun dari pesta pernikahannya.


Semua orang sudah berbondong-bondong mendatangi aula gedung dengan nuansa dekorasi berwarna putih. Tamu undangan yang ada di sana merupakan para rekan kerja, pemegang saham, maupun karyawan di perusahaan. Hanya satu orang yang diberikan undangan khusus oleh Arumi, yaitu Sifa.


Wanita tersebut sudah hadir dengan menggunakan dress berwarna kuning keemasan. Ia tak sendiri, melainkan bersama dengan Aldo yang saat ini ada di sisinya.


Beberapa orang banyak yang penasaran akan wajah dari pengantin pria yang disembunyikan identitasnya. Dan inilah yang menarik perhatian dari banyak orang. Hingga bertanya-tanya, apakah pengantin prianya sangat tampan hingga Arumi menyembunyikannya seperti itu.


Di sebuah ruangan, Arumi memandangi penampilannya di pantulan cermin. Dengan gaun mewah yang bertabur Swarovski serta tatanan make up-nya yang tidak terlalu menor, membuat Arumi tampak sangat cantik dan elegan.


Di dalam ruangan itu, dia tidak sendirian. Ada Fahri, Samuel, dan ibunya. Serta beberapa MUA yang memperbaiki penampilan baik dari pengantin pria atau pun pengantin wanita.


Fahri memandangi Arumi. Seketika ia merasa sedih karena semua ini mengingatkan dirinya pada masa lalu. Dimana saat itu Sifa tersenyum ke arahnya, dan tampak terlihat bahagia dengan gaun pengantin yang ia kenakan sewaktu itu.


Arumi mengarahkan pandangannya pada Fahri yang melihatnya dengan tatapan kosong. Seketika hati Arumi merasa sedikit teriris. Ia tahu jika pria itu belum sembuh dari masa lalunya. Dan saat ini, yang ia pikirkan pasti mantan istrinya bukanlah Arumi.


Samuel yang menyadari sesuatu terjadi pada keduanya, langsung menegur Fahri. "Hey! Jangan melamun! Apakah kamu terpesona melihat kecantikan Arumi?" tanya Samuel yang mencoba menggoda Fahri dan membuat senang Arumi.


"Ah, i-iya." pria itu tersadar dari lamunannya, lalu kemudian menyunggingkan senyumnya pada Arumi. Dan Arumi pun membalas senyuman itu.


Dewi sedikit mendekat pada putrinya. Ia membisikkan sesuatu pada Arumi. "Apakah kamu yakin, Nak? Sepertinya dia bukan laki-laki yang tepat," bisik Dewi.


"Bisakah untuk tidak mencampuri urusanku, Ma?" ujar Arumi yang tampak malas meladeni ibunya.


Dewi menghela napasnya. Ia tak lagi melayangkan protesnya pada sang putri, karena bagaimana pun juga Arumi sosok yang keras kepala. Sekali ia berkata demikian, maka tak ada yang bisa membantah ucapannya.


"Apakah kalian sudah siap? Ijab kabul akan dimulai sebentar lagi," ujar Samuel.


"Aku sudah siap, bagaimana denganmu?" tanya Arumi pada calon suaminya.

__ADS_1


Fahri menghela napasnya sejenak, lalu kemudian menghembuskannya dengan perlahan. "Aku juga sudah siap," ujar pria tersebut dengan mantap.


Fahri dan Arumi pun saling menggenggam tangan. Pintu terbuka lebar, banyak awak media yang mengambil foto keduanya.


Mereka berjalan menyusuri sebuah karpet berwarna merah, yang akan menghantarkan keduanya menuju meja untuk mengucapkan ijab kabul.


Beberapa orang di sana tercengang saat melihat siapa yang menjadi pengantin prianya. Dan ternyata pria itu adalah pria yang pernah mereka pandang sebelah mata. Pria yang selalu saja menundukkan pandangannya dan menuruti ucapan atasan ataupun rekan kerja yang menganggapnya remeh.


"Bukankah itu Fahri?" ujar salah satu dari tamu undangan.


"Iya. Dia pria yang selalu kita remehkan itu," timpal satunya lagi.


"Wah, tidak ku sangka, ternyata peletnya lumayan kuat," tambah yang lain.


"Tapi jika diperhatikan, dia sangat tampan sekali. Cocok bersanding dengan Bu Arumi," ujar yang lainnya.


"Siap-siap saja kalian. Bukankah di kantor, kalian selalu meremehkan dia? Dan sekarang dia sudah menjadi atasan kita. Mati kutu kalian semua!" ujar seorang pria yang tak lain juga karyawan perusahaan.


Perdebatan kecil itu pun tercipta saat mengetahui siapa pengantin pria yang sebenarnya. Kini tak ada lagi yang berani meremehkan Fahri, menganggap pria itu sebelah mata.


Di waktu yang bersamaan, Sifa membeku. Ia melihat mantan suaminya dengan begitu cepat menikahi wanita lain. Mata wanita itu tak lepas ke arah Fahri. Telaga bening itu mulai menitikkan air mata saat melihat Fahri yang sudah menjabat tangan penghulu untuk mengucapkan janji suci.


"Saya terima nikah dan kawinnya dibayar tunai."


Setelah keluar kata-kata itu dari mulut Fahri, Arumi tak kuasa menahan air matanya. Ia sangat bahagia karena bisa menikah dengan pria dambaannya meskipun pria itu tak mencintai dirinya.


Di waktu yang bersamaan, Samuel juga menitikkan air matanya. Pria yang selalu menemani Arumi dan selalu ada di sisinya.


Samuel sesegukan melihat Arumi yang sudah sah menjadi istri dari pria lain. Namun, disamping itu, ia juga turut berbahagia karena wanita yang dicintainya juga merasa bahagia.

__ADS_1


"Aku pernah bermimpi untuk mempersunting mu, akan tetapi aku sadar, kamu bukanlah takdir yang diciptakan oleh Tuhan untukku. Aku turut berbahagia atas pernikahanmu, Arumi. Semoga Fahri dapat melindungimu dengan baik, melebihi caraku yang selalu melindungi dirimu," batin Samuel.


Akad nikah pun berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Kini disambung dengan acara resepsi. Di mana Fahri dan Arumi di arahkan untuk menduduki kursi yang ada di pelaminan. Keduanya bak ratu dan raja sehari.


Fahri tampak banyak mengulas senyumnya. Pria itu telah pandai memainkan perannya menjadi pria yang berbahagia di hari pernikahannya. Namun, senyum itu memudar saat dirinya melihat seorang wanita dari kejauhan tengah menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.


Arumi yang menyadari bahwa Fahri tengah menatap mantan istrinya, mencoba untuk mengajak pria itu berbincang.


"Tolong berhenti menatapnya. Ku mohon!" batin Arumi seolah berteriak.


Banyak orang yang naik ke atas panggung, mengantri untuk memberikan selamat kepada kedua mempelai itu. Fahri pun memilih untuk tidak menatap Sifa lagi. Ia menyalami para tamu undangan tersebut.


Fahri dapat melihat diantaranya adalah rekan kerja yang dulunya merendahkan Fahri. Akan tetapi ia tak ambil pusing, Fahri masih menyambut tangannya lalu kemudian mengulas senyum. Sementara orang-orang tersebut tampaknya malu mengingat apa yang pernah mereka perbuat dengan Fahri.


Dan kini, giliran Sifa yang ada di atas panggung. Arumi tersenyum padanya, sementara Sifa memutar bola matanya dengan malas.


"Apakah ini alasanmu mengundangku?" tanya Sifa dengan suara pelan.


"Tentu saja. Aku berharap agar kamu menikmati jamuannya," ujar Arumi.


Sifa berdecih, seketika timbul rasa benci dari dalam dirinya terhadap Arumi. Sifa menatap Fahri sekilas lalu kemudian berucap.


"Selamat atas pernikahanmu. Kamu cukup pintar dalam memilih wanita," ujar Sifa yang kemudian langsung menuruni panggung tersebut.


Aldo yang berada di belakang Sifa, memberikan ucapan selamat pada keduanya. Namun, pria itu melemparkan tatapan tajam pada Arumi.


Setelah selesai menyalami tamu undangan, Fahri dan Arumi pun kembali duduk. Fahri mendekatkan wajahnya, berbisik tepat di depan telinga Arumi.


"Bisakah kamu untuk tidak mengusiknya?" bisik Fahri. Dan ucapan pria tersebut, cukup membuat goresan luka di hati Arumi.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2