Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 122. Merajuk


__ADS_3

Keesokan harinya, Arumi tengah bersiap untuk pergi ke kantor bersama suaminya. Wanita itu beberapa kali melihat pantulan dirinya di cermin.


"Kenapa? Apa ada yang salah?" tegur Fahri pada sang istri yang sedari tadi terus menatap bayangan dirinya di pantulan cermin.


"Mas, aku merasa semakin lama semakin gendut saja. Lihatlah! Biasanya aku memakai dress ini sangat kelonggaran. Akan tetapi, sekarang dress ini begitu pas bahkan aku merasa sedikit sesak memakainya," ujar Arumi.


"Ya sudah, kalau begitu ganti baju yang membuatmu nyaman saja, Sayang."


Arumi pun menganggukan kepalanya. Wanita itu kembali mencari pakaian yang lebih besar lagi dari ukuran sebelumnya.


"Padahal perutku bahkan belum kelihatan buncit. Tapi berat badanku sudah bertambah," gerutu Arumi.


Arumi pun mengambil dress motif berwarna navy. Ia pun langsung melucuti dress yang dikenakannya, lalu mengganti dress-nya yang baru.


Saat Arumi melepaskan pakaiannya tepat di hadapan Fahri. Mata Fahri membulat sempurna. Namun, dengan cepat ia harus mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia tidak ingin sesuatu dalam dirinya bangkit, menjadikannya hilang kendali. Istrinya saat ini tengah hamil muda. Dan Fahri pun berusaha keras untuk menahan gejolak dalam dirinya.


"Mas, kenapa kamu memalingkan wajah seperti itu?" tanya Arumi saat melihat Fahri yang tiba-tiba saja melihat ke arah lain.


"Ah, tidak apa-apa," timpal Fahri. Ia menoleh sedikit ke arah Arumi. Saat melihat Arumi yang sudah memakai dress lainnya, membuat Fahri pun langsung bernapas dengan lega.


Arumi kembali menatap bayangan dirinya di pantulan cermin. Wanita tersebut sedikit mencebikkan bibirnya karena mendapati sikap suaminya yang terbilang aneh.


"Apakah karena aku sudah terlihat gendut, maka dari itu dia tidak ingin menatapku lagi?" batin Arumi bertanya-tanya.


Arumi sudah merasa cukup dengan penampilannya. Ia pun melirik suaminya sejenak yang melihat ke arahnya. Karena sempat membuang muka sebelumnya, membuat Arumi sedikit kecewa dengan sikap suaminya itu.


Arumi pun langsung melangkahkan kaki keluar dari kamarnya terlebih dahulu, tanpa menghiraukan suaminya yang berada di belakangnya. Ia merajuk karena sempat diabaikan oleh suaminya.


Fahri yang memang tidak peka pun mengira bahwa Arumi baik-baik saja. Pria itu hanya mengikuti langkah sang istri tanpa berucap apapun.


Saat sarapan bersama, Arumi mengambil makanannya dengan sangat sedikit. Tentu hal tersebut membuat Fahri sedikit keheranan.


"Kenapa makannya dikit sekali?" tanya Fahri.


"Tidak apa-apa," timpal Arumi seadanya.


Fahri pun tak ingin bertanya lebih jauh lagi. Mereka pun menikmati sarapannya dengan tenang.


Saat tiba di kantor, Fahri baru saja hendak membuka pintu mobil untuk sang istri. Namun, gadis itu sudah lebih dulu melenggang keluar dari kendaraan roda empat itu.


Fahri lagi-lagi belum menyadari istrinya itu tengah merajuk. Pria itu pun memilih untuk menggandeng tangan Arumi, akan tetapi Arumi langsung melepaskan dengan segera.

__ADS_1


"Tidak usah seperti ini. Tidak enak dilihat orang," ucap Arumi.


Wanita tersebut berjalan terlebih dahulu meninggalkan Fahri. Fahri tampaknya baru menyadari sikap aneh Arumi, membuat kedua alis pria tersebut langsung bertaut.


"Ada apa dengannya? Apakah aku melakukan kesalahan?" gumam Fahri. Ia pun berjalan menyusul langkah sang istri yang telah mendahuluinya.


Fahri melihat istrinya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam lift. Dengan derap langkah yang cepat, Fahri pun juga ikut masuk ke dalam lift itu.


Fahri menekan nomor yang sesuai dengan lantai yang hendak ia tuju. Hingga pintu lift itu pun tertutup. Dan ruangan sempit itu mulai berjalan ke atas.


"Apa kamu marah?" tanya Fahri.


"Haha ... siapa yang marah," ujar Arumi diselingi tawa kecil.


"Lantas ... mengapa sikapmu berubah?" tanya Fahri lagi yang tak merasa lelah untuk melontarkan banyak pertanyaan pada istrinya itu.


"Berubah? Siapa yang berubah? Lagi pula itu hanya perasaanmu saja," timpal Arumi.


Tinggg ...


Pintu lift pun terbuka. Arumi segera keluar dari ruangan sempit itu. Beberapa pegawai yang melihat wanita tersebut pun langsung menyapanya. Namun, Arumi mengacuhkan mereka karena mood-nya yang saat ini sedang tidak bagus.


Arumi melangkah menuju ke ruangan suaminya. Ia melihat seorang pria bertubuh tinggi tengah menyunggingkan senyum ke arahnya.


Wushhh ...


Arumi hanya melewatinya bak angin. Sang sekretaris pun merasa sedikit canggung, ia mengusap tengkuknya.


Tak lama kemudian, ia melihat Fahri yang saat itu berjalan menuju ke ruangannya. "Pagi, Pak."


"Pagi, ..." Fahri membalas sapaan Doni sembari mengulas senyumnya.


Fahri masuk ke dalam ruangannya. Pria tersebut melihat sang istri yang sedang duduk di kursinya terdahulu. Ia menatap Fahri sejenak, lalu kemudian mengalihkan perhatiannya pada dokumen yang tergeletak di meja tersebut.


"Sayang, katakan padaku. Aku tidak mengerti apa yang membuatmu begitu marah kepadaku," ujar Fahri menghampiri istrinya.


"Tidak usah dibahas, Mas. Sebaiknya kamu kembali ke meja kerjamu," ucap Arumi yang masih mengabaikan Fahri.


"Aku tidak akan bekerja sampai kamu menjelaskannya kepadaku, Istriku. Aku ingin segala sesuatu diselesaikan dengan kepala dingin. Mungkin jika ada sikapku yang kurang berkenan di hatimu, aku bisa minta maaf dan mengubahnya," papar Fahri yang tetap kekeh pada pendiriannya.


Arumi menghela napasnya. Wanita itu pun memandang lekat sang suami.

__ADS_1


"Bukankah kamu merasa malu? Banyak mata yang akan melihat mu berjalan dengan wanita yang sudah tak cantik lagi, tak langsing lagi seperti dulu," tukas Arumi yang mulai mengeluarkan uneg-uneg yang sedari tadi bersarang di dadanya.


"Kamu memilih mengarahkan pandanganmu ke arah lain saat aku tengah mengganti bajuku. Kamu seperti jijik melihat tubuhku yang sudah tak seperti dulu lagi," gerutu Arumi dengan mata yang berkaca-kaca.


Pria itu pun langsung membungkam bibir Arumi dengan menggunakan bibirnya. Ia memagut bibir merah jambu yang memiliki rasa manis itu dengan begitu lembut.


Arumi membulatkan matanya saat tiba-tiba mendapatkan serangan dadakan dari sang suami. Akan tetapi wanita itu hanya pasrah, membiarkan Fahri menguasainya untuk saat ini.


Tak lama kemudian, Arumi tersentak saat merasakan tangan Fahri yang menyentuh titik sensitifnya.


"Mas, ...." Arumi tercekat. Ia pun langsung menahan tangan Fahri sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Dengan suara yang berat, Fahri pun berbisik tepat di depan telinga Arumi.


"Kamu tahu, inilah alasanku mengalihkan pandanganku saat kamu melepaskan busanamu. Bahkan kamu berpakaian lengkap sekali pun, aku masih merasakan gejolak yang begitu menggebu-gebu," ujar Fahri.


Pria itu mempertemukan keningnya dengan kening milik istrinya. Hidung mancung mereka saling menyentuh, membuat Fahri menggesek-gesekkan ujung hidungnya pada hidung Arumi.


"Jadi ... jangan berpikir bahwa aku merasa jijik atau pun itu. Sungguh! Aku tidak merasa jijik sedikit pun padamu. Hanya saja, aku mencoba menahan. Aku sadar bahwa usia kandunganmu masih muda, dan aku harus menahannya untuk sementara waktu."


Hembusan napas Fahri menerpa wajah Arumi. Setiap kalimat yang diucapkan oleh suaminya, Arumi dapat mencium aroma mint yang keluar dari napas sang suami.


Brakkk ...


Arumi dan Fahri pun langsung menjauhkan dirinya satu sama lain. Ia mengarahkan pandangannya pada sang sekretaris yang sedang tertegun melihat kedua pasangan suami istri itu tengah bermesraan di ruangan tersebut.


"Ma-maaf, Pak. Tadi ... pintunya tidak di tutup," ucap Doni yang sedikit terbata-bata.


Fahri dan Arumi menjadi salah tingkah. Keduanya pun mencari kesibukan dengan berpura-pura membaca dokumen yang ada di atas meja.


"Ada apa kamu kemari?" tanya Fahri.


"Saya ingin menyerahkan laporan yang bapak minta kemarin," timpal Doni.


Pria itu memunguti dokumen yang tadi sempat terlepas dari tangannya. Lalu kemudian melangkah untuk menghampiri atasannya itu dan menyerahkan dokumen yang ada di tangannya.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Pak."


Tanpa menunggu waktu lama, Doni pun langsung meninggalkan ruangan tersebut. Sang sekretaris itu mengelus dadanya karena menyaksikan apa yang dilakukan oleh kedua pasangan suami istri itu di ruang kerja.


"Seharusnya aku tidak masuk ke sana dan menyaksikan mereka yang lagi bermesraan. Tontonan yang tidak baik untuk orang yang masih jomblo seperti aku," gerutu Doni yang kembali ke meja kerjanya.

__ADS_1


Bersambung ...


Yang baca, jomblo juga kah?😂


__ADS_2