
Fahri saat itu tengah berada di ruang rapat. Salah satu pegawainya sedang melakukan presentasi di depan, menjelaskan tentang peluncuran sebuah produk terbaru yang akan digarap selanjutnya.
Namun, tiba-tiba Fahri memegang dadanya. Entah mengapa jantungnya berdegup begitu kencang dan perasaannya menjadi tidak enak.
"Pak Fahri, apakah ada yang salah, Pak?" tanya karyawannya yang tengah melakukan presentasi tersebut.
"Ah tidak. Silakan dilanjutkan!" titah Fahri yang mencoba untuk berusaha tenang.
Wanita yang tengah berdiri di depan tersebut kembali melanjutkan penjelasannya di depan. Semakin Fahri memperhatikan, semakin ia berusaha untuk tenang, semuanya tetap saja percuma.
Perasaan tidak enak itu kembali menerpanya. Fahri pun tiba-tiba terpikirkan tentang Arumi yang berada di rumah. Tanpa berpikir panjang lagi, Fahri segera pergi begitu saja meninggalkan ruang rapat.
Semua orang yang ada di ruangan itu pun saling menatap satu sama lain. Mereka tidak tahu, apa yang terjadi pada atasannya itu.
Fahri berlari dan langsung masuk ke dalam lift. Pria itu tergesa-gesa menekan tombol untuk menuju ke ruangan paling bawah.
Fahri mencoba menghubungi nomor Arumi, akan tetapi wanita itu tak kunjung menjawab panggilannya.
"Angkat teleponku, Arumi. Kumohon!" gumam Fahri sembari menggigit jemarinya karena panik.
Tinggg ...
Pintu lift pun terbuka. Pria itu dengan tergesa-gesa langsung menuju ke parkiran dan masuk ke dalam mobil. Fahri melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sementara pandangannya kembali menatap layar ponsel, yang masih mencoba menghubungi istri tercintanya.
Fahri mencoba mengecek alat pelacak dari liontin yang dipakai oleh Arumi. Dan keberadaan istrinya itu masih di sekitar rumah dan sedang berada di dalam kamar tepatnya.
Fahri mencoba untuk menghubungi kepala pelayan. Tak lama kemudian, panggilannya pun langsung diangkat oleh wanita paruh baya tersebut.
"Ada apa, Tuan?" tanya kepala pelayan.
"Dimana istriku, Bi? Kenapa dia tidak mengangkat panggilanku?" Fahri menjawab pertanyaan dengan sebuah pertanyaan lainnya.
__ADS_1
"Tadi nyonya sedang berada di dalam kamar, Tuan. Baru saja dia meminta saya untuk membuatkan jus wortel dan minta diantarkan ke kamar. Mungkin nyonya saat ini sedang beristirahat, Tuan." Pelayan itu menjelaskan.
Meskipun telah dijelaskan oleh kepala pelayan, akan tetapi Fahri masih merasa tidak enak. Arumi tidak mengangkat telepon darinya membuat pria itu semakin khawatir.
Fahri tak ingin bertanya lebih lagi, karena saat ini dirinya tengah mengemudi. Pria itu mematikan panggilan teleponnya, lalu kemudian kembali menginjak pedal gas mobilnya untuk menambah kecepatan laju kendaraan tersebut.
Dengan kecepatan tinggi, Fahri melintasi beberapa mobil yang ada di depannya. Bahkan diantara mereka ada yang mengumpat serta mencetuskan sumpah serapahnya karena Fahri mengendarai kendaraannya yang memang sedikit gila itu.
Pria itu tak peduli ucapan orang lain. Ia bahkan mengesampingkan keselamatannya hanya demi orang yang dicintainya itu.
Mobil Fahri terus melesat, hingga tak tak berapa lama kemudian, kendaraan itu pun tiba di kediamannya. Fahri menekan klakson beberapa kali agar penjaga lebih bergerak cepat untuk membukakan gerbang agar dirinya segera masuk.
Salah satu penjaga itu pun langsung membuka gerbang tersebut. Fahri mengumpat, lalu kemudian membawa masuk kendaraan tersebut menuju halaman rumah.
Pria itu segera turun dari mobilnya. Ia langsung berlari menuju ke kamar. Beberapa pelayan yang tengah bekerja pun saling menatap heran saat melihat Fahri tergesa-gesa menaiki tangga.
Fahri melihat pintu kamarnya tertutup rapat. Pria tersebut langsung memutar kenop pintu, akan tetapi sesaat kemudian kening pria itu berkerut, karena pintu tersebut dalam keadaan tertutup.
"Bibi!! Panggil beberapa penjaga di bawah, suruh mereka untuk membantu saya mendobrak pintu!" seru Fahri yang sedari tadi mencoba mendobrak pintu tersebut, akan tetapi tetap saja pintu itu tidak terbuka sama sekali.
Suasana pun menjadi sedikit ricuh. Para pelayan langsung memanggil beberapa penjaga yang ada di depan.
Para penjaga pun langsung bergegas naik ke atas, diikuti pelayan yang melihatnya dari kejauhan. Para pelayan itu tampak cemas karena takut terjadi sesuatu dengan majikannya yang saat ini tengah berada di dalam kamar tersebut.
Bagian lengan Fahri terasa sakit karena mendobrak pintu tersebut sendirian. Bukan mereka tak memiliki kunci serap kamar, akan tetapi posisi kunci di dalam tengah tertancap sehingga sulit membuka pintu tersebut menggunakan kunci cadangan.
Beberapa penjaga, diselingi dengan Fahri yang juga ikut mendobrak pintu kamar tersebut. Hingga di percobaan yang kesekian kalinya, mereka pun berhasil membuka paksa pintu kamar itu.
Fahri membulatkan matanya, melihat sang istri yang saat itu tengah tergeletak tak jauh dari meja kerjanya. Fahri pun langsung memangku kepala sang istri, sembari sedikit menepuk-nepuk wajah cantik istrinya.
Mata Fahri melihat ke arah laptop. Pria itu berdiri dan memperhatikan ada flashdisk yang berisikan video kejahatan Dewi, tengah terhubung di laptop tersebut.
__ADS_1
"Dia sudah melihat semuanya," batin Fahri. Pria itu langsung mencabut flashdisk itu, lalu kemudian menyimpannya kembali ke dalam saku.
Fahri kembali berjongkok, ia memangku kepala istrinya itu.
"Arumi, ... bangun sayang," ujar Fahri.
"Tuan, Nyonya sepertinya pendarahan," ujar kepala pelayan yang melihat darah merembes di bagian paha Arumi.
Tak menunggu waktu yang lama bagi Fahri, ia langsung menggendong tubuh istrinya. Fahri melihat ada beberapa bekas pecahan gelas yang mengenai tubuh Arumi. Fahri pun berhenti sejenak, melepaskan pecahan kaca yang menancap pada tubuh Arumi.
Air mata Fahri tak dapat dibendung. Ia kembali mengangkat tubuh istrinya dengan berlinang air mata, sembari membawa masuk tubuh wanita tak berdaya itu ke dalam mobil.
Fahri memasangkan sabuk pengaman untuk Arumi, lalu kemudian ia juga memasang sabuk pengaman untuk dirinya sendiri.
"Sayang, tolong bertahanlah!" ucap Fahri panik. Pria itu pun menghidupkan mesin mobilnya, lalu kemudian membawa kendaraan.
Fahri mengendarai kendaraannya secepat kilat. Hingga tidak membutuhkan waktu yang lama bagi pria itu tiba di salah satu rumah sakit.
Fahri langsung turun dari mobil. Pria itu membawa tubuh lemah istrinya untuk segera masuk ke rumah sakit tersebut.
Beberapa perawat membawa brankar, Fahri pun langsung meletakkan istrinya di atas brankar tersebut.
Rasa hancur setiap detiknya Fahri rasakan saat melihat kondisi sang istri saat ini. "Maafkan aku, Arumi. Andaikan aku tidak bersikap ceroboh, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi," sesal Fahri.
Brankar pun tiba di depan ruangan unit gawat darurat. Fahri di larang untuk masuk ke dalam. Pria itu hanya bisa menangis, matanya memerah serta sesekali ia memijat keningnya.
"Tuhan,tolong selamatkan anak dan istriku. Ku mohon!" ujar Fahri yang langsung mengusap dahinya dengan kasar.
Pria itu melihat ke arah pintu ruangan unit gawat darurat. Ia mengusap wajahnya dengan kasar sembari mendengkus kesal. Rasa bersalah benar-benar menghantui Fahri. Jika saja, Fahri tidak melakukan hal-hal yang ceroboh, serta cepat bertindak saat Arumi berkata bahwa ia kehilangan flashdisk semalam, mungkin keadaannya tidak seperti ini.
Fahri duduk dengan tatapan yang penuh kekhawatiran. Pria itu tak henti-hentinya memanjatkan doa agar tidak terjadi apapun. Baik itu dengan anaknya atau pun bayi yang ada di dalam rahim Arumi.
__ADS_1
bersambung ....