
Terjadi sebuah kebakaran di sebuah bangunan tua. Diketahui terdapat korban jiwa yang tak memiliki indentitas dalam peristiwa kebakaran tersebut. Sampai saat ini, polisi masih menyelidiki apa penyebab dari kebakaran itu.
Dewi menyesap teh dengan gerakan yang cukup anggun. Senyum di kedua sudut bibirnya pun terbit saat mendengar berita tentang kebakaran yang disiarkan di salah satu stasiun televisi.
Roy yang berada tepat di dekat Dewi pun memperhatikan ekspresi wanita itu dengan seksama. Dewi tampak begitu senang dengan adanya berita tadi.
"Hmmm ... hmmmm ... hmmmm ...." Dewi bersenandung, lalu kemudian meletakkan gelas tehnya ke atas meja.
"Ada apa?" tanya Dewi menyadari tatapan dari Roy yang sedari tadi melihatnya dengan begitu lekat.
"Mengapa kamu tersenyum seperti itu?" tanya Roy menatap Dewi dengan curiga.
"Aku? Kenapa? Apakah salah jika aku tersenyum seperti ini?" Dewi selalu saja menjawab pertanyaan dari Roy dengan pertanyaan lainnya.
Roy tak melanjutkan ucapannya lagi. Ia memilih untuk bungkam dan tak bertanya yang lain lagi. Pria tersebut hanya memperhatikan gerak-gerik yang dilakukan oleh kekasihnya itu.
Dewi beranjak dari tempat duduknya, lalu kemudian memilih untuk pergi dari sana. Namun, sebelum ia benar-benar pergi dari hadapan Rio, langkahnya terhenti sejenak.
"Jangan pernah meremehkan seseorang yang terlihat lemah sekalipun. Karena jika dia sudah membuat keributan, maka akan susah untuk membuatnya reda," ujar Dewi yang kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
Di lain tempat, Arumi dan Fahri juga menyaksikan berita yang sama. Entah mengapa hal tersebut tiba-tiba membuat Arumi menjadi bergidik ngeri.
"Mas, aku tidak bisa membayangkan jika aku yang menjadi korban," ujar Arumi tiba-tiba.
"Husstt ... jangan berbicara seperti itu!" tukas Fahri yang langsung meletakkan jari telunjuknya tepat di depan bibir istrinya.
Arumi terkekeh melihat ekspresi sang suami yang begitu mengkhawatirkannya.
"Aku bercanda, Mas."
"Istriku, ucapan seperti itu bukanlah sebuah candaan. Untuk ke depannya, Mas tidak mau lagi mendengarkan kalimat yang aneh-aneh keluar dari bibirmu," ucap Fahri.
"Kalau yang satu ini bolehkah,Mas?" tanya Arumi.
"Tidak. Kamu pasti akan berbicara yang aneh-aneh lagi. Mas tidak mau mendengarnya," ujar Fahri langsung menutup kedua telinganya.
__ADS_1
Arumi tersenyum, lalu kemudian menggeleng pelan. Wanita itu pun langsung menyingkirkan kedua tangan sang suami yang menutupi telinganya dengan begitu lembut. Arumi pun mendekat, membisikkan sesuatu tepat di telinga sang suami.
"Aku mencintaimu, Mas."
Fahri tertegun, sesaat kemudian pria itu pun menarik kedua sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman yang begitu manis.
"Aduh ...." Arumi memegang dadanya, keningnya mengernyit.
"Ada apa?" tanya Fahri panik.
"Senyum Mas Fahri membuat dadaku berdebar sangat kencang," ucap Arumi.
Fahri langsung terkekeh. Ia pun meraup bibir merah jambu itu dengan bibirnya. "Kenapa kamu begitu menggemaskan!" ujar Fahri menggesekkan kedua hidung mancung mereka.
"Mas, ..."
"Iya, Sayang."
"Apakah kamu benar-benar sudah bisa menerimaku? Setelah lama kita bersama, apakah kamu benar-benar sudah melupakannya?" tanya Arumi.
"Sayang, bukankah sudah ku katakan. Aku tidak mau membahas semua hal yang menyangkut masa lalu," sergah Fahri.
Fahri menatap manik mata hitam pekat itu. "Aku mengganti kata itu dengan sebuah tindakan. Akan lebih tidak berarti lagi jika aku mengucapkan seribu kali kata cinta padamu, akan tetapi tidak ada pembuktian sama sekali."
"Aku mencintaimu, Arumi. Aku melakukanya dengan sebuah tindakan. Seharusnya tanpa berucap pun kamu sudah bisa melihat adanya cinta dari dalam diriku. Jadi, aku akan aku katakan lagi, bahwa aku sudah sembuh dari masa laluku. Dan semua itu karena mu, Istriku. Aku mencintaimu," jelas Fahri panjang lebar.
Binar kebahagiaan pun terpancar jelas di mata Arumi. Wanita itu sudah tak bisa berkata-kata. Akhirnya ia menemukan jawaban dari pertanyaan yang selalu mengusik dirinya.
Arumi memeluk Fahri dengan erat. Air mata bahagia pun tak mampu lagi dibendungnya. "Terima kasih, Mas. Akhirnya, kamu bisa mencintaiku," ujar Arumi.
"Mulai sekarang, tidak usah berpikir yang macam-macam tentang aku. Kamu harus jaga kesehatanmu dengan baik karena aku mencintaimu," ucap Fahri.
Arumi langsung menganggukkan kepalanya dengan sangat antusias. Ia bahagia karena suaminya sudah bisa mencintainya dan menggantikan posisi mantan istrinya itu.
.....
__ADS_1
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
Samuel menggeram kesal. Sudah beberapa kali ia mencoba menghubungi Sugeng, akan tetapi panggilannya tak kunjung tersambung juga.
"Kemana dia? Kenapa nomornya sedari tadi tidak aktif," gumam Samuel.
Pria itu pun kembali menghubungi Sugeng, akan tetapi tetap saja hasilnya nihil.
"Bukankah kemarin-kemarin aku katakan padamu, untuk datang jam tiga sore ini. Fahri pasti akan mengomeliku nanti jika dia tak datang juga," ujar Samuel bermonolog.
Tak lama kemudian, Samuel melihat Fahri yang baru saja datang, sedang berjalan menuju ke arah Samuel. Sesampainya di hadapan Samuel, pria tersebut langsung menarik salah satu kursi yang ada di meja tersebut.
"Mana orang yang kamu maksud? Apakah dia belum datang juga?" tanya Fahri.
Samuel pun menggelengkan kepalanya. "Aku sudah meneleponnya sedari tadi. Namun, sedari tadi nomornya tidak aktif," ucap Samuel.
"Kita tunggu saja. Mungkin dia sedang berada dalam perjalanan," ujar Fahri.
Pria itu pun memanggil salah satu pelayan resto. Memesan minuman sembari menunggu kedatangan pria yang dimaksudkan oleh Samuel.
"Kamu tidak memesan sesuatu? Pesanlah! Biar aku yang bayar," tawar Fahri.
"Baiklah, dengan senang hati, Kawan."
Samuel yang memang hobi gratisan pun langsung menerimanya tanpa menolak tawaran dari Fahri.
Tak lama kemudian, pelayan pun berlalu dari hadapan mereka, menuju ke dapur untuk menyiapkan pesanan keduanya.
"Bagaimana keadaan Arumi? Apakah dia masih terpukul karena mendengar kabar bahwa Bu Dewi bukanlah ibu kandungnya?" tanya Samuel.
"Sejauh ini, dia sudah lebih baik dari sebelumnya. Aku melihat sisi buruk dari istriku saat memperlakukan mertuaku dengan tidak baik. Namun, saat melihat dia terpuruk setelah mendapatkan kabar tersebut, aku salah menilai Arumi. Istriku, dia mungkin menganggap bahwa Dewi benar-benar ibunya. Hanya saja, sikap acuh yang ia perlihatkan pada mama mertua ... mungkin karena dia memiliki alasan tersendiri," beber Fahri.
"Arumi awalnya menyayangi Bu Dewi. Ia tiba-tiba membenci Bu Dewi, karena setelah kematian papanya, Bu Dewi sibuk bermain bersama dengan pria lain. Hal itu lah yang membuat Arumi merasa marah dan sakit hati."
"Dan sekarang, kita sudah tahu alasannya bukan? Bu Dewi tidak benar-benar mencintai Pak Fian. Dan semua sikap manis yang diperlihatkannya, hanya sekedar formalitas saja," papar Samuel.
__ADS_1
Fahri mengangguk, setuju akan ucapan dari Samuel. Sesaat kemudian, pesanan mereka pun datang. Mereka pun terdiam, sembari sesekali menatap ke arah jalanan. Menunggu Sugeng yang tak akan pernah datang. Karena pria tersebut sudah dihabisi oleh Dewi.
Bersambung ....