
Pagi ini, Elena masih sibuk berada di dalam kamar mandi. Ia kembali mengetes urine-nya menggunakan test pack. Sesekali wanita itu memejamkan matanya, bersiap-siap untuk menerima kenyataan jika nanti hasilnya akan mengecewakan.
Perlahan Elena membuka mata, mencoba mengintip test pack yang ada di tangannya. Tak lama kemudian, ia pun membuka matanya dengan sempurna. Wanita tersebut membelalakkan mata, lalu kemudian menutup mulutnya tak percaya karena hasil tes tersebut adalah positif.
Elena tak dapat membendung air matanya. Rasa haru menyelimuti dirinya saat itu. Tuhan telah menitipkan buah hati untuk mereka dalam rahimnya.
Dari luar, Samuel mendengar Elena menangis sesegukkan. Pria itu mendekatkan telinganya ke pintu, untuk memastikan bahwa dirinya tidak salah dengar.
"El, kenapa kamu menangis?" tanya Samuel sembari mengetuk pintu tersebut.
Tak ada sahutan dari Elena. Wanita itu masih terdengar sesegukkan dari dalam kamar mandi. Samuel mulai panik, ia kembali mengetuk pintu tersebut.
"El, ... kamu kenapa El?" tanya Samuel.
Samuel memasang ancang-ancang untuk mendobrak pintu saat tak mendapatkan sahutan apapun dari istrinya. Pria itu menjauh dari pintu tersebut, laku kemudian meregangkan jemarinya hingga berbunyi, ia langsung berlari untuk mendobrak pintu tersebut. Akan tetapi, tiba-tiba saja Elena membuka pintunya, membuat Samuel langsung memberhentikan langkahnya secara paksa tanpa menabrak sang istri.
"Sedang apa kamu, Sam?" tanya Elena dengan kening yang berkerut.
"Seharusnya aku yang bertanya, El. Kamu kenapa menangis di dalam kamar mandi? Apakah kamu terjatuh di kamar mandi? Apakah ada yang terluka?" tanya Samuel seraya memeriksa tubuh istrinya.
Elena menggelengkan kepalanya, lalu kemudian menitikkan air mata lagi. Hal tersebut tentu membuat Samuel bingung, apa alasan Elena menangis sedari tadi.
"El, jujur aku benar-benar bingung. Apa yang membuatmu menangis terus seperti ini," ujar Samuel sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Aku terlalu merasa bahagia hingga tak bisa menahan laju air mataku," ucap Elena sembari sesegukkan.
"Lebay sekali kamu, El!" cecar Samuel dengan nada yang sedikit mengejek.
Elena memajukan bibirnya dua centi, " Ingin sekali aku mencekiknya!" geram Elena.
Wanita itu pun langsung memperlihatkan test pack yang ada di tangannya.
"Apa itu?" tanya Samuel mengernyitkan keningnya.
"Pipet."
"Pipet? Untuk apa?"
"Ckckck, ini test pack, Sam. Samuel, ... suamiku tertampan di muka bumi ini." Elena sudah geram sembari mengeluarkan kata-kata pujian, akan tetapi dengan sedikit penekanan.
"Ini punya siapa, El?" Samuel mengambil alat tes kehamilan tersebut, lalu kemudian melihatnya dengan seksama.
"Punya tetangga!"
__ADS_1
Melihat Samuel mengangguk seakan percaya pada ucapannya, membuat Elena menepuk keningnya. "Itu punyaku, Sayang. Lihatlah aku positif hamil,".ujar Elena menghela napasnya.
"Benarkah? Bagaimana kamu mengetahuinya, El? Bagaimana cara kamu melihatnya?" tanya Samuel dengan antusias sembari membolak-balikkan test pack tersebut.
"Suamiku, ... apakah kamu benar-benar sepolos itu? Jika kamu memang benar-benar polos, tetapi kenapa kamu sangat pro sekali saat berada di ranjang." Elena melemparkan tatapan herannya pada Samuel.
"Itu adalah sesuatu yang berbeda, El. Jawab saja tanpa harus memperpanjang materinya," celetuk Samuel.
Elena mengangguk, lalu kemudian menunjuk tanda dua garis tersebut pada suaminya itu. "Ini ... dua garis ini tandanya aku hamil," jelas Elena.
Samuel menatap test pack tersebut cukup lama, lalu kemudian pria itu tiba-tiba menitikkan air matanya. "Sebentar lagi kita akan punya anak, El?"
"Iya, Sam."
"Ah, ini sungguh membuatku bahagia. Aku tidak bisa menahan laju air mataku. Terima kasih, Istriku!"
Samuel menghujani Elena dengan ciuman bertubi-tubi di wajah wanita itu. Elena beberapa kali berteriak, meminta agar Samuel berhenti menciuminya seperti itu membuat dirinya sedikit risih.
Samuel melepaskan istrinya, ia berlari keluar sembari berteriak memanggil kedua mertuanya.
"Papa, ... Mama, ..."
Kedua mertuanya itu tengah berada di dalam kamar. Bu Ani memasangkan dasi untuk suaminya. Mendengar teriakan Samuel dari luar, membuat Pak Beni menggeram kesal.
Bu Ani hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Tak lama kemudian, keduanya mengarahkan pandangannya ke arah pintu. Samuel tengah berdiri di ambang pintu sembari menyunggingkan senyumnya.
"Jangan tersenyum seperti itu, kamu terlihat menyeramkan," ujar Pak Beni.Bu Ani spontan langsung tertawa mendengar ucapan suaminya itu.
"Ada apa, Nak?" tanya Bu Ani dengan lembut.
"Ma, ... sebentar lagi mama akan mendapatkan seorang cucu. Elena hamil Ma," sahut Samuel sembari memperlihatkan alat tes kehamilan pada ibu mertuanya.
Mata Bu Ani langsung berbinar, begitu pula dengan Pak Beni. Wajah sangarnya langsung hilang seketika saat mendengar berita kehamilan Elena.
Setelah memberitahukan hal tersebut pada kedua mertuanya, Samuel menuruni anak tangga. Ia memperlihatkan alat tes kehamilan tersebut pada beberapa ART yang bekerja di tempat tersebut.
Elena melihat kelakuan suaminya itu dari atas. Wanita tersebut menggelengkan kepalanya, " Baru saja dia mengataiku lebay. Ternyata dia lebih lebay dari pada aku."
Seusai menyerukan kabar kehamilan Elena pada seisi rumah, Samuel kembali ke kamarnya. Ia melihat istrinya yang tengah duduk di depan meja rias sembari menyisir surai panjangnya.
Pandangan Elena teralihkan pada kegiatan suaminya. Pria itu mengambil ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur, lalu kemudian memotret alat tes kehamilan itu, dan mengirimkannya melalui obrolan grup yang didalamnya ada Elena, Arumi, Fahri, Indra, dan juga dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, ponsel Elena berbunyi. Ia langsung melihat pesan yang dikirimkan oleh suaminya itu melalui obrolan grup.
__ADS_1
Sebuah gambar dengan tulisan di bawahnya
Bibit unggul calon penerus bangsa
Elena beralih menatap suaminya. Ia pun mendecak, melihat kelakuan Samuel yang dianggap terlalu berlebihan menurutnya.
"Seharusnya kamu tidak usah sampai memamerkannya di obrolan grup," ujar Elena..
"Loh, memangnya kenapa?" tanya Samuel.
"Bagaimana jika Arumi dan Fahri membacanya, meskipun begitu mereka pernah kehilangan. Dengan kamu bersikap seperti ini, tentunya membuat pasangan suami istri itu akan beesedih," tutur Elena mencoba mengingatkan suaminya..
"Tidak akan. Aku lebih mengenal Arumi dan Fahri. Mereka tidak akan merasa seperti itu, yakinlah!"
....
Di lain tempat, Arumi disibukkan dengan merapikan persiapan yang akan dibawa suaminya ke kantor. Sementara Fahri, tengah melihat pantulan dirinya di depan cermin.
Saat mereka tengah memiliki kesibukan masing-masing, tiba-tiba saja notifikasi pesan dari ponsel mereka berbunyi secara bersamaan.
Arumi dan Fahri saling menatap.sejenak, lalu kemudian memeriksa ponsel masing-masing. Mereka berdua mengulas senyum, lalu kemudian mengirimkan ucapan selamat untuk Samuel dan Elena di obrolan grup tersebut.
"Kita kapan ya diberikan titipan lagi oleh Tuhan?" gumam Arumi.
Mendengar hal tersebut, Fahri meletakkan kembali ponselnya ke atas meja. Ia pun menatap wajah istrinya yang saat ini tengah menyunggingkan senyum ke arahnya.
"Kita harus berusaha lebih keras lagi," ujar Fahri yang mulai melonggarkan dasinya.
Arumi mengernyitkan kening, menatap curiga suaminya. "Ada apa ini? Kenapa kamu melepas dasimu?" tanya Arumi.
"Aku ingin berusaha lebih keras lagi, Sayang."
"Jangan gila, Mas. Tidak sekarang juga," ucap Arumi.
"Tidak masalah. Tidak akan ada yang melarang juga," elak Fahri.
"Tapi kamu harus berangkat bekerja, Mas."
"Tidak ada salahnya bermain sebelum pergi ke kantor," ujar Fahri yang langsung mengangkat tubuh istrinya itu dan membaringkannya ke atas ranjang.
"Mas, ..." Arumi terkejut mendapatkan serangan secara tiba-tiba.
"Sesekali kita berpacu dengan waktu, siapa tahu setelah ini langsung jadi," ujar Fahri tersenyum nakal, lalu kemudian melangsungkan aktivitas panasnya sebelum berangkat ke kantor.
__ADS_1
Bersambung ....