
Keesokan harinya, Indra tampak rapi mengenakan setelan kantornya. Pria itu mengembangkan senyum, telah cukup lama ia tidak mengenakan setelan jas seperti ini. Ada rasa kesenangan dalam dirinya saat diajak oleh Arumi untuk kembali bekerja.
Indra mematut dirinya di cermin. Membenahi sedikit posisi dasinya, lalu kemudian meraih tas kantor dan berjalan keluar dari apartemennya itu.
Suara sepatunya terdengar begitu nyaring saat berada di area parkiran. Memecahkan keheningan di tempat itu.
Indra langsung masuk ke dalam mobilnya, menghidupkan mesin kendaraannya, lalu melajukannya keluar menuju ke jalanan.
Cukup lama ia menempuh perjalanan, hingga akhirnya pria itu pun tiba di kantor. Semua orang yang melihat kedatangannya sempat tersenyum sembari menyapa, akan tetapi di belakang, mereka semua bergunjing bahkan ada yang mengutuk Indra.
Bagaimana tidak? Dulu semasa pria tersebut menjabat sebagai direktur, Indra selalu berbuat semena-mena pada karyawannya. Indra juga terlalu memberikan tekanan dan tak pernah puas dengan pencapaiannya.
"Gawat! Pak Indra datang lagi!"
"Ck, aku sangat malas sekali jika Pak Indra harus kembali ke kantor."
"Bukankah Pak Indra sempat tertangkap karena pengguna narkoba? Seharusnya Bu Arumi tidak usah membantu mengeluarkannya. Biarkan saja dia membusuk di penjara."
Begitu lah keluh kesah mereka saat melihat Indra hadir kembali bekerja di perusahaan. Mereka masih mengenang Indra yang lama dengan segala keburukannya. Mereka bahkan tidak tahu jika Indra sudah berubah total.
Hanya saja, memang benar. Ada pepatah yang mengatakan , setitik nila akan merusak susu S
sebelanga. Meskipun Indra mencoba untuk bersikap baik, semua tertutupi oleh keburukan yang pernah ia perbuat sebelumnya.
Indra baru saja keluar dari lift, pria tersebut berjalan menuju ke ruangan Fahri. Sesampainya di ruangan Fahri, Indra melihat pria berperawakan tinggi yang saat itu sibuk dengan pekerjaannya.
Pria yang menduduki kursi sekretaris itu langsung beranjak dari tempat duduknya saat melihat Indra.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Doni yang memang tidak tahu tentang Indra. Pria itu dipekerjakan saat Indra sudah tidak menjabat lagi di perusahaan.
"Fahri nya ada?" tanya Indra.
"Ada, Pak. Tunggu sebentar saya panggilkan."
Doni berjalan menuju ruangan Fahri. Pria itu mengetuk pintu yang ada di hadapannya.
"Masuk."
Terdengar suara Fahri yang menyahut dari dalam. Doni pun memutar kenop pintu, lalu kemudian mengajak Indra untuk masuk bersamanya.
"Permisi, Pak. Ada yang mencari Pak Fahri," ujar Doni.
Fahri pun mengarahkan pandangannya pada seseorang yang ada di belakang Doni. Pria itu tersenyum, lalu kemudian menyambut kedatangan Indra dengan begitu hangat.
__ADS_1
"Ndra, silakan duduk!" Fahri beranjak dari kursi kebesarannya, lalu kemudian berjalan menuju sofa yang ada di ruangan tersebut.
Indra pun membalas senyuman Fahri,.lalu kemudian menduduki kursi itu. Melihat situasi yang seperti ini, tiba-tiba Indra teringat akan hal dulu. Dimana saat itu dirinya lah yang berada di posisi Fahri. Namun, kini semuanya sudah berubah. Roda kehidupan benar-benar telah berputar.
Bedanya, Fahri memperlakukan Indra layaknya manusia, sementara dulu Indra memperlakukan Fahri dengan begitu kasar. Bahkan pernah membentak-bentak pria tersebut di depan banyak orang.
"Sudah di jelaskan oleh Arumi, dia menempatkan posisimu sebagai apa?" tanya Fahri.
Indra menggelengkan kepalanya, " Arumi belum mengatakannya padaku."
Tak lama kemudian, Doni pun datang dengan membawa secangkir teh untuk tamu atasannya itu.
"Doni, perkenalkan dia adalah wakil direktur kita, namanya Pak Indra," jelas Fahri yang langsung memberitahukan hal tersebut pada sekretarisnya.
Doni tersenyum, lalu kemudian menunduk. Sementara Indra langsung tercengang mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut Fahri.
"A-apa? Wakil direktur?" tanya Indra memastikan.
"Iya, ada apa?" Fahri bertanya balik.
"Posisi itu terlalu tinggi. Jadikan aku karyawan biasa saja," tolak Indra.
"Kami telah memutuskan untuk menempatkanmu pada posisi ini. Jadi, jangan menolaknya dan bekerja samalah denganku," ujar Fahri.
"Fahri, maafkan aku karena kemarin pernah bersikap kasar terhadapmu. Jika kamu ingin membentakku seperti halnya yang pernah ku lakukan dulu, silakan! Aku tidak akan menentangnya," papar Indra.
Mendengar hal tersebut, Fahri langsung terkekeh geli. Ucapan Indra sedikit menggelitik baginya. "Aku tidak akan bersikap kasar kepadamu. Untuk masalah yang kemarin, lupakanlah! Lagi pula aku tidak menyimpan rasa benci sedikit pun padamu. Jadi ... akan lebih baik jika kamu tidak mengungkitnya," tutur Fahri.
Indra tersenyum, lalu kemudian menganggukkan kepalanya dengan pelan. "Terima kasih, Fahri."
"Ah, sudahlah! Jangan berlebihan seperti itu. Oh iya, silakan diminum tehnya," ujar Fahri.
Indra pun meraih teh yang ada di hadapannya, setelah itu mereka melanjutkan pekerjaan dengan Indra yang saat ini telah menduduki posisi barunya.
....
Arumi saat ini tengah ke apotik. Wanita itu membeli obat penyubur kandungan serta banyak alat tes kehamilan, supaya nanti ia tidak perlu keluar lagi membelinya jika membutuhkannya.
Keinginannya untuk memiliki sang buah hati begitu besar. Bahkan Arumi banyak mengkonsumsi makanan sehat dan lebih mengatur pola hidupnya.
Namun, semua itu kembali pada Yang Maha Kuasa. Sementara kita sebagai manusia hanya bisa menunggu dan berusaha untuk hasil yang terbaik.
Setelah membeli keperluan tersebut, Arumi kembali masuk ke dalam mobilnya. Wanita itu melihat kembali obat penyubur yang ia beli tadi.
__ADS_1
"Semoga saja segera mendapatkan hasil yang baik setelah ini. Mas Fahri pasti akan sangat senang sekali jika aku hamil lagi. Rasanya sudah tidak sabar sekali ingin menimang sang buah hati yang menjadi peramai di rumah nanti," gumam Arumi.
Wanita itu menyimpan obat tersebut ke dalam tasnya. Lalu kemudian melajukan mobilnya menuju ke jalanan.
Samuel sibuk menatap layar monitor yang ada di hadapannya. Tak lama kemudian, ia pun mendapatkan panggilan dari mertuanya, yang meminta dirinya untuk segera menuju ke ruangannya.
Samuel beranjak dari tempat duduknya, lalu kemudian berjalan menuju ke ruangan Pak Beni. Sesampainya di sana, Pak Beni mempersilakan menantunya itu untuk duduk. Samuel pun menuruti ucapan Pak Beni.
"Sam, Papa tahu jika selama ini papa sangat kasar padamu. Bukan karena papa tak suka, tapi papa ingin kamu benar-benar bersikap tegas dan bisa menjaga Elena kelak." Pak Beni sedikit mengernyitkan keningnya karena dadanya kembali merasa sakit lagi.
"Tidak apa-apa, Pa. Aku bisa mengerti," ujar Samuel
"Papa percayakan perusahaan kepadamu. Kelola dengan baik, jangan terlalu terlena dengan pekerjaan saja hingga mengesampingkan keluargamu di rumah," ujar Pak Beni memberikan nasihat pada menantunya itu.
"Siap, Pa! Nasihat papa akan selalu ku ingat," ucap Samuel.
Samuel melihat raut wajah mertuanya itu yang terlihat pucat. Sesekali mertuanya itu pun seperti tengah menahan rasa sakitnya.
"Papa kenapa? Papa sakit? Ayo kita ke dokter!" ucap Samuel yang langsung merasa panik.
"Tolong kamu ingat kata-kata Papa."
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Pak Beni pun jatuh pingsan. Samuel terkejut, pria itu mencoba membangunkan Pak Beni, akan tetapi mertuanya tak juga meresponnya.
Samuel langsung menggendong Pak Beni, meminta pertolongan pada sekretarisnya untuk segera menyiapkan mobil.
Setibanya di luar, Samuel langsung melajukan kendaraannya menuju ke rumah sakit terdekat.
.....
Elena baru saja memeriksa barang yang baru saja ia pesan untuk di dapur Cafe. Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Ia melihat nama ibunya tertera di layar ponsel tersebut. Elena pun segera mengangkat panggilan teleponnya.
"Iya, ada apa, Ma?" tanya Elena menempelkan ponselnya di salah satu daun telinga.
"El, bisakah kamu ke rumah sakit sekarang?"
"Ada apa, Ma? Siapa yang sakit?" tanya Elena.
"Datanglah dulu ke sini, nanti akan mama jelaskan semuanya," ujar Bu Ani dari seberang telepon.
"Rumah sakit mana?" tanya Elena.
Bu Ani pun memberitahukan rumah sakit dimana Pak Beni saat ini dirawat. Elena langsung mematikan sambungan teleponnya, lalu kemudian wanita itu masuk ke dalam mobil, bergegas menuju ke rumah sakit.
__ADS_1
Bersambung ...