
Pagi ini, Samuel sudah berpakaian rapi. Pria itu hendak pergi ke kantor, memenuhi janjinya dengan sang mertua, untuk membuktikan bahwa ia layak menjadi menantu yang diinginkan oleh Pak Beni.
Elena menghampiri suaminya. Wanita cantik bersurai panjang dengan rambut sedikit bergelombang itu merapikan dasi suami tampannya. Elena berulang kali melihat Samuel, lalu kemudian mengembangkan senyumnya.
"Ada apa?" tanya Samuel yang sedikit heran melihat istrinya itu sedari tadi mengulas senyum.
"Tidak apa-apa, kamu terlihat sangat tampan dengan setelan seperti ini," puji Elena.
Samuel tersenyum, pria itu pun meraih tangan Elena, lalu membawanya untuk membingkai rahang tegas milik pria itu.
"Bukankah memakai apapun suamimu akan tetap tampan. Bahkan tanpa berbusana sekalipun," bisik Samuel dengan suara beratnya.
Elena langsung terkekeh. Ia mencubit pelan lengan suaminya karena sudah mulai pandai menggodanya.
"Jangan genit!" tukas Elena diiringi dengan kekehan kecil.
Elena pun mengajak suaminya keluar dari kamar. Mereka menuju ke meja makan untuk sarapan bersama dengan kedua orang tua Elena.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Samuel berpamitan pada sang istri. Mereka harus berpisah dengan menggunakan mobil yang berbeda dikarenakan memang tujuan Samuel dan Elena tidak searah.
Samuel masuk ke dalam mobil yang ditempati oleh Pak Beni untuk menuju ke kantor. Sementara Elena menaiki mobilnya untuk menuju ke Cafe.
Bu Ani melambaikan tangannya, saat kedua mobil tersebut mulai melaju ke jalanan. Setelah mobil-mobil itu tak terlihat lagi, barulah Bu Ani masuk ke dalam rumahnya.
Di perjalanan, Samuel sedikit canggung satu mobil dengan mertuanya. Apalagi pria tersebut lebih banyak diam dan memilih untuk menatap ke luar jendela.
"Ku dengar ... kamu pernah menjadi sekretaris di Aryaduta Group," ujar Pak Beni membuka topik pembicaraan.
"Iya, Pa."
"Kenapa kamu berhenti bekerja di sana? Bukankah banyak orang yang menginginkan masuk untuk bekerja di tempat tersebut?" tanya Pak Beni.
Seketika Samuel pun menjadi tegang. Tak mungkin jika ia menjawab alasan keluar dari tempat itu hanya untuk melindungi Arumi. Bisa-bisa kembali timbul kesalahpahaman yang akan membuatnya tak mendapatkan restu dari mertuanya itu.
"Aku hanya ingin beristirahat, Pa." Samuel menimpali dengan sedikit gugup.
"Beristirahat?" Pak Beni menaikkan alisnya sebelah menatap ke arah menantunya.
"Alasan yang sangat tidak masuk akal. Apakah kamu pusing mengemban tanggung jawab sebagai seorang sekretaris?" tanya Pak Beni lagi.
Meskipun jawaban yang sesungguhnya adalah tidak, akan tetapi Samuel tetap menganggukkan kepalanya, seolah membenarkan ucapan dari mertuanya itu.
"Payah sekali! Apakah sebentar lagi kamu juga akan menyerah mengemban tugas sebagai seorang suami?" pancing Pak Beni.
Samuel langsung membelalakan matanya. Pria itu menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Bukan seperti itu. Sungguh! Aku tidak akan menyerah untuk menjadi suami baik bagi Elena," ujar Samuel.
Pak Beni tak merespon ucapan dari menantunya. Ia melemparkan pandangannya ke lain arah sembari mendengkus kesal.
__ADS_1
"Dari mana putriku mendapatkan pria yang seperti ini," gerutunya pelan.
Telinga Samuel dapat menangkap ucapan dari mertuanya itu. Pria tersebut hanya terdiam sembari menggerutu di dalam hati.
"Dijawab salah, tidak dijawab juga salah," batin Samuel.
.....
Arumi dan Fahri tengah berada di depan rumah. Fahri mengecup kening Arumi, yang menjadi rutinitasnya sebelum berangkat ke kantor.
"Mas berangkat dulu ya, Istriku." Fahri berkata sangat manis. Wajahnya tampak begitu bersinar karena telah mendapatkan full servis dari sang istri semalam.
"Hati-hati di jalan, Mas." Arumi melambaikan tangannya.
Fahri yang baru saja hendak masuk ke dalam mobilnya, langsung mengurungkan niatnya. Ia terlalu gemas melihat istrinya yang semakin lama terlihat semakin lucu. Pria itu pun menghampiri sang istri lagi, lalu kemudian memberikan ciuman bertubi-tubi di wajah istrinya itu.
"Mas, hentikan!" Arumi mengelak, akan tetapi Fahri tetap menyerangnya dengan memberikan ciuman di wajah istrinya itu.
Melihat istrinya mulai merasa risih, Fahri pun menghentikan pergerakannya. Tangannya terangkat mengusap surai panjang milik Arumi.
Sementara Arumi mengerutkan keningnya sembari menggerutu dengan bibir yang mengerucut. Wanita itu mengelap semua jejak ciuman dari Fahri.
"Kenapa dihapus?" tanya Fahri sembari terkekeh.
"Mas Fahri keterlaluan. Sudah ku katakan untuk berhenti masih saja menyerang. Lihat! Mereka sedari tadi menatap ke arah kita. Aku malu, Mas!" tegas Arumi.
"Iya ... iya. Mas minta maaf. Mas tidak bisa menahan saat melihat wajahmu yang sangat menggemaskan itu," ujar Fahri sembari sedikit mencubit pipi Arumi yang mulai terlihat gembul.
"Ya sudah, kalau begitu mas berangkatlah bekerja, lagi pula ini sudah siang," ucap Arumi sembari menarik tangan kiri Fahri, menyingkap sedikit kemeja suaminya untuk melihat jam tangan yang dipakai oleh pria itu.
"Baiklah. Mas berangkat ya. Kamu jangan nakal di rumah," ujar Fahri sembari tersenyum.
"Siapa juga yang nakal," gerutu Arumi.
Fahri langsung masuk ke dalam mobilnya. Pria itu menurunkan kaca mobil, lalu tersenyum sembari menekan klakson mobil.
"Hati-hati di jalan!" seru Arumi sembari melambaikan tangannya.
Mobil yang dikendarai oleh Fahri pun langsung melaju ke jalanan. Arumi kembali masuk ke dalam rumah. Meskipun bosan, ia mencoba melakukan sesuatu di dalam rumah untuk menghilangkan rasa suntuknya.
Arumi kembali melangkah menuju ke kamarnya. Ia melihat salah satu pelayan yang membersihkan kamarnya itu datang menghampiri Arumi.
"Nyonya, ini flashdisk yang nyonya cari?" tanya pelayan tersebut sembari memperlihatkan flashdisk yang didapatnya.
"Iya benar!" Mata Arumi berbinar. Ia pun langsung mengambil flashdisk itu dari tangan pelayan tersebut.
Arumi sengaja menyuruh salah satu pelayan untuk membersihkan kamarnya. Ia juga berpesan, jika menemukan flashdisk di kamar tersebut segera harus memberitahukannya.
__ADS_1
"Terima kasih, Bik." Arumi mengulas senyummya.
"Sama-sama, Nyonya. Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu," ucap pelayan
"Ah iya, saya minta bawakan jus wortel ke kamar nanti ya," titah Arumi.
"Baik, Nyonya." Pelayan itu pun langsung berlalu dari hadapan Arumi. Menuju ke dapur untuk menyiapkan jus wortel untuk majikannya itu.
Mendengar ucapan Fahri semalam tentang isi flashdisk tersebut, membuat rasa penasaran Arumi semakin menjadi-jadi.
"Baiklah, mari kita lihat. Ada berapa banyak dia menyimpan video dewasa di dalam flashdisk ini," gumam Arumi sembari memperlihatkan senyum iblisnya.
Arumi langsung masuk ke dalam kamar. Ia menghampiri meja kerja suaminya, lalu kemudian menjatuhkan bokongnya di kursi yang ada di hadapannya.
Arumi membuka laptop yang ada di depannya, setelah layar tersebut menyala, wanita hamil itu pun langsung menancapkan flashdisk tersebut, menghubungkannya dengan laptop.
Arumi memasang sedikit ancang-ancang untuk membuka folder yang tersimpan di dalam flashdisk tersebut.
"Apakah dia menyimpan video dewasanya di sini? Duh, ini pertama kalinya aku penasaran dengan tontonan suamiku," gumam Arumi.
Baru saja ia hendak membuka folder tersebut, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Arumi langsung mengurungkan niatnya. Ia melihat pelayan tadi membawakan jus wortel untuknya.
"Terima kasih, Bi." Arumi mengulas senyum.
"Sama-sama, Nyonya," timpal pelayan itu. Ia pun menundukkan kepalanya sejenak, lalu kemudian pergi dari kamar tersebut.
Arumi beranjak dari tempat duduknya. Ia langsung mengunci pintu kamarnya dengan cepat agar tak ada lagi yang mengganggunya untuk menyaksikan video milik suaminya itu.
"Aneh sekali jika aku sampai ketahuan menonton video dewasa," ujar Arumi sembari terkekeh.
Wanita itu kembali menuju ke tempatnya yang semula. Ia sedikit melakukan pemanasan pada tangannya, lalu kemudian membuka folder yang dianggap berisikan video dewasa itu.
Namun, ia mengernyitkan keningnya saat melihat hanya ada satu video yang terlihat di sana.
"Apakah ini film? tapi kenapa ukurannya kecil sekali," gumam wanita tersebut.
Rasa penasaran Arumi semakin menjadi. Ia pun langsung memutar video tersebut. Dan saat ia melihat apa yang ada di dalam video itu, Arumi serasa mati rasa. Napasnya menjadi tercekat bak tercekik dibagian lehernya. Sementara tangannya bergetar dengan begitu hebat.
Tanpa sengaja, Arumi menjatuhkan gelas jusnya. Wanita itu berusaha beranjak dari tempat duduknya dengan napas yang tersengal. Dan ia pun tak sengaja menginjak bekas jus yang ada di lantai, membuat wanita itu langsung terpeleset dan jatuh ke lantai dengan posisi terlentang.
"To-long ...," cicit Arumi sembari mengarahkan pandangannya pada pintu yang tertutup rapat.
"Mas Fahri ...."
Nama itu yang disebut oleh Arumi sebelum pandangannya menggelap dan kesadarannya menghilang.
Bersambung ....
__ADS_1