
Fahri dan Arumi baru saja tiba di kantor. Keduanya pun berjalan beriringan untuk masuk ke gedung yang menjulang tinggi yang ada di hadapannya itu.
Kedatangan keduanya di sambut oleh Samuel, yang saat ini sudah berada di meja kerjanya. Akhir-akhir ini pria itu lebih rajin dari pada biasanya. Bahkan datang ke kantor pun lebih awal.
Seperti biasanya, Arumi dan Fahri menjalani rutinitasnya saat di kantor. Untuk kali ini, Fahri sudah mengambil andil yang cukup besar, bahkan Arumi mempercayai agar Fahri mulai mengelola perusahaan, dengan catatan ia masih akan tetap membantu serta mengawasi kinerja dari suaminya itu .
Fahri bertemu dengan beberapa investor perusahaan. Mencoba merundingkan masalah kerja sama yang akan mereka buat. Lalu kemudian menandatangani surat kontrak kerja, sebagai bukti kesepakatan serta keterikatan kedua perusahaan tersebut.
Jam makan siang pun tiba. Fahri dan Arumi memutuskan untuk menikmati makan siangnya di luar kantor. Restoran yang tak jauh dari kantor pun menjadi pilihan mereka berdua.
Ada beberapa karyawan kantor yang juga menikmati makanan di tempat tersebut. Mereka pun menunduk hormat sembari memberikan sapaan pada atasannya itu.
"Di sini cukup ramai. Apakah tidak apa-apa kita tetap berada di sini?" tanya Fahri memastikan. Ia takut jika sang istri tidak nyaman karena restoran tersebut tampak dipenuhi oleh pengunjung, apalagi sekarang memang jam makan siang, sudah pasti tempat itu akan dipenuhi oleh karyawan kantor yang juga memilih untuk makan di tempat ini.
"Tidak apa-apa, Mas. Lagi pula aku senang, bisa menikmati makanan bersama dengan para karyawan di sini," ujar Arumi.
Arumi berdiri dari tempat duduknya. Ia pun bertepuk tangan sebanyak dua kali, guna untuk meminta perhatian dari pengunjung yang ada di sana. Dan semuanya, tak lain adalah karyawannya sendiri.
"Silakan pesan sesuka hati, hari ini saya yang akan mentraktir kalian," tegas Arumi.
Seketika, terdengar riuh tepuk tangan serta teriakan kegirangan yang cukup memenuhi tempat tersebut.
Fahri tersenyum melihat istrinya. Meskipun Arumi terlihat dari luar begitu tegas dan menyeramkan. Akan tetapi, wanita itu lebih baik dari pada Indra, atasan mereka terdahulu.
Denting sendok dan piring, serta berbagai percakapan pun tampak memenuhi restoran tersebut . Fahri menyendokkan makanannya, lalu kemudian menyuapi sang istri yang tampak sangat manja akhir-akhir ini.
Jika biasanya, Arumi memilih melakukan segala sesuatu dengan sendirinya. Namun, kali ini wanita tersebut seakan tak ingin jauh dari suaminya. Terus menempel kemana pun Fahri berada.
Setelah menghabiskan makanannya, Arumi melihat beberapa karyawan yang masih menikmati makanannya.
"Mbak, nanti total tagihannya tolong dikirim ke saya ya ...," ujar Arumi kepada salah satu pelayan yang ada di sana.
"Baik, Nyonya."
__ADS_1
Fahri pun menggenggam tangan sang istri, lalu kemudian membawa Arumi untuk keluar dari tempat tersebut.
Tak lama kemudian, ponsel Fahri pun berdering.
"Angkat saja dulu," ujar Arumi
Fahri pun menerima panggilan telepon dengan nomor baru tersebut. Namun, setelah di angkat, tak ada suara dari seberang telepon. Membuat Fahri harus mematikan sambungan teleponnya.
"Ayo kita pergi!" ajak Fahri menghampiri sang istri yang sedari tadi menunggunya.
Arumi menganggukkan kepalanya. Mereka pun melangkah pergi dari tempat tersebut untuk kembali ke kantor.
Setibanya di kantor, ia melihat Samuel yang masih berada di meja kerjanya. Pria itu fokus tengah mengerjakan sesuatu.
Arumi berjalan menghampiri Samuel, membuat pria tersebut menoleh ke arah sang istri.
"Kamu tidak istirahat makan?" tanya Arumi.
"Tidak. Masih banyak yang harus aku kerjakan," timpal Samuel sembari menatap layar komputernya.
Samuel pun terdiam. Ia kemudian mengarahkan pandangannya pada Arumi. "Jika memang begitu, apakah kamu tidak apa-apa aku tinggalkan?" tanya Samuel menatap Arumi dengan serius.
Arumi terdiam. Dalam hatinya, ia tak rela jika Samuel harus pergi meninggalkannya. Bagaimana pun juga, Arumi telah nyaman bersama dengan Samuel. Bukan berarti dalam artian memiliki hubungan spesial, melainkan sebagai seorang kakak yang menjaga adiknya dengan baik.
Selama ini, Samuel lah yang menjaga Arumi. Jika Arumi sedang tertimpa masalah, pasti Samuel segera datang menghampirinya dan membantu wanita tersebut.
"Apakah kamu sudah tidak bersedia lagi bekerja denganku? Menjagaku?" tanya Arumi.
"Tugasku menjagamu sudah tergantikan oleh pria yang saat ini berdiri di belakangmu. Sedari tadi menatapmu dengan penuh arti. Kamu tahu? Dia bisa menjagamu lebih baik dari pada aku," jelas Samuel.
Guratan kekecewaan terlihat jelas di wajah Arumi. "Tetaplah bekerja denganku. Aku sudah menganggapmu layaknya seperti keluargaku sendiri," tegas wanita itu. Ia pun memilih pergi meninggalkan Samuel, lalu kemudian masuk ke dalam ruangannya.
Fahri pun juga ikut masuk ke dalam ruangan yang sama, menyusul sang istri yang sudah lebih dulu melangkah masuk ke dalam.
__ADS_1
Fahri melihat Arumi yang bersedekap sembari menatap ke arah luar jendela. "Ada apa?" tanya Fahri.
"Samuel ... dia berkata ingin berhenti dari pekerjaannya," gumam Arumi.
"Kenapa?"
"Entahlah. Jujur Mas, aku tidak bisa melepaskannya begitu saja. Samuel sudah ku anggap seperti keluargaku sendiri. Bagiku dia adalah seorang kakak yang baik. Dia selalu menjadi yang terdepan jika aku ada apa-apa," ucap Arumi.
Melihat kesedihan istrinya, ia pun mengerti seberapa pentingnya Samuel bagi Arumi. Fahri bisa memahami, porsi penting Samuel berbeda dengannya. Dan hal itu tak membuat Fahri cemburu, ia justru berterima kasih pada Samuel yang telah menjaga Arumi sejauh ini.
"Sudah ... nanti biarkan Mas yang berbicara pada Samuel. Sekarang, sebaiknya kita belikan Samuel makan siang. Mungkin dia saat ini menahan rasa laparnya demi sebuah pekerjaan," ujar Fahri sembari memeluk istrinya. Ia berusaha menenangkan Arumi dan meyakinkan wanita itu untuk tidak perlu khawatir.
Setelah berhasil menenangkan sang istri, Fahri pun keluar dan menghampiri meja kerja Samuel.
"Bisakah kita bicara sebentar?" tanya Fahri.
Samuel langsung menutup lembar kerja yang ada di layar komputernya. Lalu kemudian beranjak dari tempat duduk, mengikuti langkah Samuel untuk membawanya.
Hingga akhirnya, Fahri pun membawa Samuel di sebuah resto, tempat ia makan sebelumnya dengan Arumi. Pria tersebut sekalian membayar tagihan yang dikirimkan oleh pelayan resto kepadanya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Samuel setelah mendudukan bokongnya di salah satu kursi yang ada di sana.
"Arumi bilang, kamu ingin berhenti. Ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba ingin berhenti bekerja setelah melalui semuanya bersama Arumi?" tanya Fahri.
"Apakah kamu tidak merasa cemburu?" pancing Samuel.
Fahri menggelengkan kepalanya. "Awalnya aku memang cemburu. Tapi setelah aku tahu, bahwa kamu adalah orang terpenting dalam porsi yang berbeda, aku bisa memahaminya," ungkap Fahri.
"Aku takut jika kamu cemburu aku dekat dengan Arumi," ujar Samuel sembari terkekeh.
"Jika itu alasanmu untuk berhenti, sebaiknya lupakanlah niatmu dan tetaplah bekerja. Aku bukanlah pria yang kekanak-kanakan, membatasi pergaulan istriku hanya karena rasa egois ku yang tinggi," ucap Fahri.
Samuel perlahan menggelengkan kepalanya. "Bukan itu alasanku untuk berhenti. Aku memiliki alasan lain dan itu demi Arumi," ujar Samuel dengan mantap.
__ADS_1
Bersambung ....