Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 182. Mencoba Memaafkan


__ADS_3

Malam itu, Indra datang lagi ke rumah Jessy. Pria itu benar-benar serius ingin memperbaiki semua kesalahannya di masa lalu dengan niat untuk menikahi wanita yang tak lain adalah mantan sekretarisnya dulu.


Saat Indra tiba di rumah itu. Pria tersebut menekan bel beberapa kali. Pintu gerbang masih tertutup rapat, dan tak seorang pun keluar dari hunian itu.


Dari dalam, Jessy menggendong anaknya sembari menatap Indra yang masih menunggu di luar. Entah mengapa hatinya bimbang, ada rasa tak tega menyelimuti dirinya saat membiarkan Indra seperti itu.


Sementara di ruang tengah, Kakak ipar Jessy dan abangnya tengah beradu mulut. Kakak ipar Jessy tahu, jika adik iparnya itu masih memiliki rasa pada pria yang masih mematung di luar sana. Namun, karena rasa egois dari suaminya yang tinggi, membuat wanita itu beradu mulut dengan suaminya sendiri.


"Mas, tidak ada salahnya jika kita menerimanya. Pria itu memiliki niat yang tulus dan hendak memperbaiki semuanya," tutur Kakak ipar Jessy.


"Tahu dari mana kamu? Jika memang dia ingin bertanggung jawab, kenapa dia tidak melakukannya saat dulu? Jessy dicibir oleh tetangga di desa karena hamil tanpa suami. Maka dari itu, aku membawanya ke sini!" tegas Abang dari Jessy.


"Kenapa kamu tidak menanyakan langsung pada Jessy, Mas? Barangkali dia masih mencintai pria itu. Aku bisa melihat dari matanya bahwa Jessy masih menyimpan rasa cinta pada pria yang ada di luar sana. Aku wanita, Mas. Jadi aku lebih mengerti bagaimana perasaan Jessy saat ini. Adikmu bingung, Mas. Dia ingin kembali bersama pria itu, akan tetapi mengingat kamu yang menentangnya, membuat Jessy menahan segala rasa itu." Kakak ipar Jessy berucap panjang lebar.


Abang dari Jessy pun terdiam setelah mendengarkan ocehan istrinya yang cukup panjang itu. Pria tersebut langsung beranjak dari tempat duduknya, lalu kemudian berjalan ke atas, menuju ke kamar sang adik.


Pria tersebut mengetuk pintu kamar adiknya itu sejenak, lalu kemudian memutar kenop pintu. Saat pintu terbuka, yang pertama kali ia lihat adalah Jessy menatap ke luar jendela.


Pria tersebut menghela napasnya berat. Tentu saja ia bisa menangkap gurat kekhawatiran sang adik yang menatap pria di luar dengan cukup lama. Hingga wanita itu tak menyadari keberadaannya.


"Apa kamu benar masih mencintai pria itu?" tanya Abang dari Jessy.


"Entahlah, Bang. Aku tidak bisa menjawabnya. Memang ada rasa sakit saat dia berkata tak menginginkan anaknya sewaktu itu. Akan tetapi, melihat dia bertingkah nekat seperti ini, aku merasa tak tega melihatnya." Jessy mengalihkan pandangannya pada pria yang merupakan kakak kandungnya itu.


"Lambat laun, Tegar akan semakin bertambah besar. Tentu saja dia akan lebih banyak membutuhkan dukungan dari ayahnya nanti. Aku bisa saja menikah dengan pria lain, akan tetapi aku ragu jika pria itu bisa menerimaku dan anakku. Kebanyakan dari mereka hanya bersikap baik di awalnya saja, setelah memiliki sang buah hati, maka anak tirinya akan merasa di kucilkan," tutur Jessy.


Abang dari Jessy menatap ke arah pria yang ada di luar sana. Terdengar helaan napas beberapa kali, seolah berat untuk melepaskan sang adik bersama dengan pria yang pernah menyakitinya itu.


Namun, mendengar ucapan Jessy yang memberitahunya bahwa tidak ada yang lebih baik dari pada ayah kandungnya sendiri, membuat Abang dari Jessy berpikir kembali.


"Kamu benar, mungkin banyak pria di luar sana yang bersedia menerimamu. Akan tetapi, tidak dengan anakmu," ucapnya.

__ADS_1


"Kalau begitu, kembalilah padanya. Aku merestui kalian," lanjut pria itu menatap sang adik yang ada di sampingnya.


Mata Jessy berkaca-kaca. Ia langsung memeluk abangnya karena telah memberikan restu kepadanya. "Terima kasih, Bang."


Pria itu melerai pelukan sang adik, lalu kemudian memegang kedua bahu Jessy. "Aku merestui kalian bukan berarti aku melepaskanmu sepenuhnya, tentu tidak." pria itu menggelengkan kepala.


"Aku tetap akan mengawasi kalian. Jika dia membuatmu menangis dan menderita, akan ku pastikan aku akan menghajar pria itu sampai rahangnya bergeser."


Jessy terkekeh mendengar ancaman dari abangnya itu.


"Sudah, sekarang kamu temui dia. Bawa dia masuk untuk menghadap Abang. Abang ingin tahu seberapa seriusnya dia untuk menebus kesalahannya," ujar Abang dari Jessy.


Jessy pun mengangguk, lalu kemudian meninggalkan abangnya untuk menemui Indra yang sedari tadi berdiri di luar.


Indra tersenyum saat melihat Jessy datang membukakan gerbang untuknya. "Jessy, ..."


Jessy menatap Indra dengan seksama. "Apakah benar kamu ingin menebus kesalahanmu itu? Jika hanya untuk bermain-main saja, lebih baik kamu pulang!" tukas Jessy.


Jessy berdeham, wanita itu pun memilih untuk mengalihkan pembicaraan tanpa menjawab ucapan dari Indra.


"Masuklah. Mobilmu di parkiran di depan halaman rumah saja," ujar Jessy yang langsing melenggang pergi begitu saja.


Senyum di wajah Indra pun terbit. Dengan Jessy berkata seperti itu, artinya ada harapan untuk wanita tersebut menerimanya.


Tanpa berlama-lama, Indra pun membawa mobilnya masuk ke dalam, dan memarkirkan kendaraan tersebut tepat di halaman rumah. Indra melihat Jessy yang saat itu tengah menunggu dirinya di teras. Indra pun langsung menghampiri wanita itu.


"Masuklah!" titah Jessy.


Indra mengikuti langkah kaki Jessy yang membawanya menuju ke ruang tengah. Matanya menangkap sosok pria yang ditemuinya di supermarket kemarin, yang saat itu sedang duduk di sebuah sofa bersama dengan istrinya.


"Duduklah!" Abang dari Jessy pun mempersilakan.

__ADS_1


Indra langsung duduk di kursi tersebut. Abang Arumi pun langsung melemparkan banyak pertanyaan pada Indra.


"Kamu, ... seberapa seriusnya kamu dengan adik saya?" tanya Abang dari Jessy.


"Saya sangat serius, Bang. Saya akan menikahi Jessy, menafkahinya lahir dan batin serta membantu Jessy untuk mengurus anak kami. Saya akan menebus kesalahan saya pada Jessy dengan menjadi seorang suami yang baik bagi Jessy," papar Indra.


"Lantas, bagaimana jika Jessy menolak untuk menikah denganmu?" tanya pria itu.


"Saya tidak akan menyerah sampai Jessy menerima saya, Bang."


Pria itu mengalihkan pandangannya pada sang adik. "Jessy, ... apakah kamu benar-benar ingin menerimanya lagi?" tanyanya.


Jessy memandang ke arah Indra sejenak, lalu kemudian menganggukkan kepala. "Jika dia bisa benar-benar berubah, maka aku akan menerimanya," timpal Jessy.


Kakak ipar Jessy langsung tersenyum mendengar jawaban dari adiknya itu. Begitu pula dengan Indra, terlihat jelas binar di matanya saat mendengar ucapan Jessy.


"Kalau begitu, lekas atur tanggal pernikahannya. Tidan usah yang mewah-mewah, jika memang memiliki uang yang lebih, lebih baik untuk keperluan kalian ke depannya."


"Jangan sekali-kali kamu membuat adikku menangis, aku tidak akan segan-segan menghabisimu saat itu juga," ancam pria tersebut.


"Baik, Bang. Akan ku pastikan jika Jessy akan merasa bahagia saat bersamaku nanti," ujar Indra dengan mantap.


Setelah membicarakan hal tersebut, mereka pun langsung melanjutkan perbincangan tersebut dengan membahas tentang rencana pernikahan.


Indra sangat senang diberikan kesempatan untuk dirinya memperbaiki kesalahannya yang lalu. Jessy juga mempertemukan anaknya, membiarkan Indra menggendong darah dagingnya sendiri.


Indra mencium Tegar, menyalurkan rasa bahagia serta rindunya dapat melihat sang buah hati tumbuh dengan sangat baik. Ada rasa kesal dari dalam dirinya karena sempat menyia-nyiakan anaknya sendiri.


"Papa akan pastikan kamu dan mama kamu hidup bahagia. Papa akan berusaha sekuat tenaga untuk melakukan hal itu," batin Indra dengan tekad yang bulat.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2