
"Misi?" Samuel menatap kembali ke pintu masuk gedung perusahaan.
"Mulai besok, kita jalankan misinya," ujar pria itu sembari tersenyum penuh arti.
Tak lama kemudian, Samuel pun mematikan sambungan teleponnya. Pria itu kembali memasukkan benda pipih tersebut ke dalam saku. Lalu kemudian memilih untuk menunggu jemputannya sembari membuka bungkus permen karet lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Setelah lima belas menit berlalu, mobil Fortuner berwarna hitam pun terhenti tepat di depan Samuel. Gadis bertubuh tinggi langsing dengan surai panjang yang tergerai sempurna pun turun dari mobil tersebut.
"Apakah kamu ingin membongkar rahasia kita dengan memintaku untuk menjemputmu di sini?" tukas gadis itu.
Samuel tersenyum, lalu kemudian beranjak dari tempat duduknya. Memasukkan barang-barang yang ia bawa dari meja kerjanya ke dalam mobil.
"Jika tidak ingin ketahuan, sebaiknya bergegaslah naik dan jangan turun, Elena." Samuel mengerlingkan matanya, lalu kemudian masuk ke dalam mobil.
Gadis itu pun mengikuti instruksi dari teman sekolahnya itu. Lalu kemudian ikut masuk ke dalam kendaraannya.
"Seharusnya kamu membawa motor atau menaiki taksi saja. Kenapa harus memintaku untuk menjemput," gerutu Elena sembari memasangkan sabuk pengamannya.
"Aku baru saja di pecat dari pekerjaanku. Dan sekarang, aku tidak mempunyai penghasilan lagi. Apa gunanya seorang teman jika tidak bisa diandalkan bukan?" ujar Samuel.
Elena memutar bola matanya, lalu kemudian membawa kendaraannya menuju ke jalanan.
"Berkatmu ... aku merasa menjadi penjahat yang sesungguhnya," ucap Elena menatap lurus ke arah jalanan.
"Apa maksudmu?" tanya Samuel yang tak mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.
"Iya. Karena kamu mendesakku untuk menagih hutang pada Fahri. Aku menyetujuinya karena aku merasa kasihan pada pria itu. Selalu dipermainkan istrinya padahal dia sendiri tidak terlalu buruk. Bahkan, selingkuhan istrinya dulu juga kalah tampan dari Fahri," tutur Elena.
"Apakah kamu menyukai Fahri?" tanya Samuel penuh selidik.
"Bukan Fahri yang ku sukai. Hanya saja, aku menyukai seorang pria yang tidak peka dengan kebaikan yang ku berikan padanya. Dan aku terus menerus seperti orang bodoh yang selalu menuruti ucapannya," ujar Elena sembari menatap Samuel sekilas.
Samuel terkekeh sembari mengusap wajahnya. Bukan tak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Elena. Gadis itu memang sudah lama menyukainya, akan tetapi Samuel hanya menganggap Elena seorang teman, tak lebih dari itu.
Keduanya memang akrab sejak masa putih abu-abu. Elena memang selalu memberikan sinyal pada Samuel, bahwa wanita itu tertarik padanya. Namun, sama seperti Arumi yang mencintai Fahri. Samuel juga memiliki wanita di dalam hatinya, dan entahlah apakah Elena mampu mengetuk pintu hati pria itu.
Samuel tahu, tentang hutang Sifa pada Elena. Saat itu Samuel memang pernah bercerita tentang Sifa yang mengkhianati Fahri. Dan secara kebetulan, dengan terhubungnya Samuel dan Sifa, memudahkan Arumi untuk mendapatkan Fahri dengan cara meminjamkan uang pada pria itu.
__ADS_1
Awalnya Samuel memang menentang Arumi, akan tetapi karena Arumi yang kekeuh dan tak mau mendengarkan ucapannya untuk menjauhi Fahri. Di dukung pula dengan pengkhianatan Sifa pada pria tersebut, membuat Samuel pun mewujudkan keinginan Arumi dengan cara menggunakan Elena sebagai umpannya.
"Mau kemana? Pulang atau singgah dulu di suatu tempat?" tanya Elena.
"Hmmm ... Kamu tahu sendiri lah," ujar Samuel sembari mengusap perutnya.
Elena pun mendengkus kesal, mengerti akan kode-kode yang diberikan oleh pria yang ada di sampingnya itu.
"Tetapi kamu harus bayar sendiri tagihannya!" geram Elena.
"Aku sudah berhenti bekerja, jadi setidaknya kamu yang mentraktir aku," ujar Samuel mencoba membujuk elena.
Elena berdecih mendengar ucapan dari Samuel.
"Seorang owner salah satu kedai kopi yang cukup besar, terkenal pelit medit karena tidak mau mentraktir teman lamanya. Mungkin sebentar lagi artikel itu akan keluar," ancam Samuel sembari terkekeh.
"Terus saja gunakan candaan yang seperti itu!" ketus Elena yang menambah laju kendaraannya agar cepat sampai di salah satu resto terdekat.
...****************...
Fahri mendorong troli, sementara istrinya duduk di troli tersebut. Saat melihat produk yang hendak ia beli, Arumi pun meminta sang suami untuk memberhentikan kereta dorong tersebut.
"Mas, ... yang itu," ujar Arumi menunjuk makanan ringan yang ada di deretan.
Fahri pun memberhentikan langkahnya, ia mengambil apa yang di tunjuk oleh sang istri.
"Wafer?" tanya Fahri memastikan.
"Iya," timpal Arumi disertai anggukan.
"Yang rasa apa?" tanya Fahri lagi.
"Coklat sama vanila," sahut Arumi.
"Ambil masing-masing tiga," tambah wanita tersebut sembari mengacungkan tiga jarinya.
Fahri pun mengambil sesuai dengan yang diinginkan oleh sang istri. Lalu memasukkan makanan tersebut ke dalam trolinya.
__ADS_1
Pria itu pun kembali melajukan trolinya. Tak lama kemudian, Arumi kembali memberhentikan Fahri. Wanita itu baru saja hendak beranjak dari tempat duduknya, akan tetapi Fahri langsung meminta Arumi untuk tidak kemana-mana.
"Tetaplah di sana. Sebutkan saja apa yang kamu inginkan. Biar aku yang mengambilnya," cegah Fahri.
"Tapi aku berat, Mas. Lagi pula kamu juga nantinya lelah," sanggah Arumi.
"Aku tidak akan pernah lelah asalkan ada kamu di dekatku. Kamu adalah penyembuh dari segala lelahku," ujar Fahri.
Blusshhh...
Seketika Arumi pun tersipu malu dengan semburat kemerahan yang terlihat sangat jelas di kedua pipinya. Wanita itu tersenyum sembari menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
"Kamu bisa saja, Mas."
Melihat ekspresi dari sang istri, membuat Fahri memalingkan wajahnya sejenak. Ia memegangi perutnya karena melihat Arumi yang salah tingkah benar-benar sangat lucu.
Fahri tidak menyangka, jika Arumi saat bersamanya seperti anak kecil yang berusia di bawah umur. Sementara saat mengenai urusan kantor, wanita itu sangat tegas sehingga sangat disegani oleh bawahannya.
"Mau berapa?" tanya Fahri sembari memegangi makanan yang diinginkan oleh Arumi tadi.
"Ambil tiga, eh ... empat saja. Atau lima."
"Yang benar yang mana?" tanya Fahri.
"Yang benar-benar itu, cintaku padamu, Mas." Arumi terkekeh setelah mengatakan hal tersebut. Begitu pula dengan Fahri, ia tak bisa menahan tawanya saat sang istri secara gamblang menggodanya.
"Sayang, jangan membuatku semakin gemas dan melahap mu bulat-bulat di sini," ancam Fahri disertai dengan kekehan kecil.
"Baiklah, Mas. Aku menyerah. Ambil berapa saja yang Mas Fahri inginkan," ujar Arumi.
Fahri pun mengambil dua bungkus snack keripik kentang yang berukuran jumbo tersebut. Lalu kemudian kembali melajukan trolinya, mencari bahan-bahan yang lain yang mereka butuhkan.
Pria tersebut membawa Arumi menuju susunan buah. Membeli beberapa buah-buahan untuk sang istri. "Jangan terus-terusan makan jajanan. Sesekali makan buah supaya sehat," ujar Fahri mengambil satu box anggur, dan buah-buahan yang lainnya.
Arumi tersenyum, kali ini ia benar-benar merasa suaminya sangat memperhatikannya. Menegur pola makan Arumi yang kurang sehat, sama seperti yang dilakukan oleh mendiang ayahnya dahulu.
Bersambung ....
__ADS_1