Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 52. Aroma ini ...


__ADS_3

Siang ini, Samuel diam-diam mendatangi kantor. Pria tersebut menaruh curiga pada Indra. Bagaimana pun juga, Indra adalah orang pertama yang patut dicurigai karena penyerangan yang terjadi dengan Arumi semalam tampaknya sangat berkaitan erat dengan pria tersebut.


Samuel masuk ke dalam ruangan Indra tanpa mengetuk pintu. Saat itu Indra tengah membaca dokumen yang ada di meja kerjanya. Kedatangan Samuel membuat Indra sedikit terkejut dan menutup dokumen tersebut.


"Ternyata kamu dan wanita gila itu sama-sama tak memiliki sopan santun," ujar Indra.


"Persetan dengan sopan santun!! Bisakah kamu menjelaskan tentang ini?" tanya Samuel seraya melemparkan amplop coklat di atas meja kerja Indra.


Indra mendelik, ia pun membuka amplop tersebut. Melihat beberapa foto hasil dari rekaman cctv.


"Apa ini?" tanya pria tersebut.


Melihat Indra yang pura-pura bodoh, membuat Samuel tertawa keras. "Aktingmu sungguh sangat buruk!" ujar Samuel penuh penekanan.


"Terserah kamu saja!" ketus Indra sembari kembali melemparkan foto-foto tersebut ke atas meja.


"Lagi pula kamu hanya bawahan tetapi bertindak layaknya seperti suaminya. Apakah kalian mempunyai hubungan istimewa? Atau bisa jadi kamu yang terlalu berharap lebih padanya?" ucap Indra sembari terkekeh.


"Tutup mulutmu!! Jika kejadian seperti ini terulang lagi, maka aku tidak akan segan-segan untuk menghajarmu!" ketua Samuel yang langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Indra menarik sudut bibirnya dengan membingkai senyum sinis, seakan meremehkan ucapan pria tersebut. "Dasar bocah tengil!!" gumam Indra.


....


Sifa baru saja hendak menuju kedai yang ada di seberang tempat kerjanya. Wanita tersebut bersama teman kerjanya yang memang pada saat itu mereka sedang dalam jam makan siang.


"Suami kamu biasanya sudah ada di sini. Dari kemarin kok tidak kelihatan?" tanya teman Sifa. Suami yang dimaksud oleh temannya ini adalah Aldo. Karena memang, Sifa mengakui bahwa Aldo adalah suaminya.


"Ada. Dia sedang sakit jadi tidak bisa untuk makan siang bersama," ujar Sifa. Wanita tersebut berbohong. Aldo sedari kemarin tak ada kabar. Dikirimi pesan tak dibalas, ditelepon pun tak di angkat.


Sifa masuk ke dalam kedai tersebut. Menduduki meja yang ada di sudut. Keduanya memesan menu yang ada di sana. Sesekali Sifa mengecek ponselnya hanya untuk melihat pesan WhatsApp yang ia kirim sedari kemarin.Pesan tersebut sudah centang dua, akan tetapi masih belum terbaca.


"Kemana saja dia? Bahkan sampai hari ini ia tidak memberikan kabar sama sekali," batin Sifa.


Di lain tempat, Aldo tengah meringis kesakitan di atas kasur. Ia mengganti perban pada luka di kakinya yang masih berdarah.


"Sialan!!" ujar Aldo geram saat melihat lukanya sendiri.


Aldo mencoba meraih obat yang ada di atas nakas. Pria tersebut berusaha menggapainya dengan menggeser tubuhnya. Namun, tak sengaja lukanya tergesek di kasur yang membuat pria tersebut berteriak.

__ADS_1


"Sialan!! Akan ku bunuh juga kamu nantinya!!" seru Aldo sembari memegangi kakinya yang terasa sangat sakit.


Tringg ...


Sebuah notifikasi pesan singkat masuk ke dalam ponselnya. Aldo hanya membacanya sekilas, tanpa membuka isi dari pesan tersebut.


"Apakah aku lebih baik menyuruhnya untuk kemari?" gumam Aldo.


"Tapi bagaimana jika nantinya dia mencurigaiku?" lanjut pria tersebut.


"Persetan dengan hal itu, yang penting dia bisa mengurusku!"


Aldo pun memutuskan untuk segera menghubungi Sifa. Setidaknya Sifa untuk menyuruhnya ke tempat tersebut, mengobati lukanya.


Pria itu meletakkan benda pipih tersebut di telinganya, menunggu Sifa mengangkat telepon darinya.


"Halo, Sayang."


"Aldo, kamu dari mana saja. Sedari kemarin kamu menghilang tanpa kabar."


"Aku berada di rumah, Sayang. Aku sedang sakit. Apakah kamu mau menjengukku? Sendirian di rumah ini membuatku semakin sedih. Apalagi di saat seperti ini,.aku sangat butuh seseorang untuk merawatku," ujar Aldo dengan nada yang memelas.


"Terima kasih, Sayang. Aku sangat beruntung memilikimu. Ya sudah, kalau begitu kamu lanjutkan pekerjaanmu. Aku ingin beristirahat terlebih dahulu," ujar Aldo.


Setelah mendengarkan persetujuan dari Sifa, Aldo pun mematikan ponselnya. Pria tersebut tersenyum lalu kemudian meletakkan ponselnya di atas tempat tidur.


.....


Arumi saat ini tengah berada di atas kasur. Ia sibuk memandangi wajahnya dengan cermin kecil yang ada di tangannya.


"Kapan lukanya akan segera sembuh. Sepuluh hari lagi adalah hari besarku. Bahkan aku belum sama sekali menyiapkan apapun karena terlalu malu keluar denga wajah yang seperti ini," gerutu Arumi.


Ia mengoleskan salep pada lukanya agar cepat sembuh dan tak berbekas. Sesekali ia merasa sedikit perih karena terdapat luka lecet juga di wajahnya yang belum benar-benar mengering.


"Tetapi jika bukan sekarang, kapan lagi aku akan berunding masalah pernikahan dengannya. Sisa sepuluh hari lagi dan lukaku belum tahu kapan akan sembuhnya," gumam Arumi.


"Tidak! Aku harus mendiskusikannya mulai dari sekarang. Aku bisa mencari cara supaya wajahku tidak di lihat oleh banyak orang," lanjut gadis tersebut.


Ia mengambil ponselnya, mengetikkan pesan singkat kepada Fahri lalu mengirimkannya pada pria tersebut.

__ADS_1


Mari bertemu di tempat biasa. Kita perlu berunding tentang pernikahan kita.


Arumi memandang isi pesannya sendiri sembari menunggu balasan dari pria tersebut. Sesekali gadis itu mendecak kesal karena Fahri tak merespon pesannya padahal saat itu dirinya tengah aktif di WhatsApp.


Tak lama kemudian, Arumi menarik sudut bibirnya saat mendapatkan balasan akan pesan dari pria tersebut.


Baiklah. Aku akan menunggumu pukul 3 sore nanti.


Arumi langsung merasa senang setelah membaca rentetan pesan, balasan dari Fahri, sang pria dambaan.


Gadis itu beranjak dari tempat duduknya. Membuka lemari pakaian untuk memilih baju apa yang cocok ia kenakan nanti.


"Yang ini atau yang ini?" gumamnya yang bingung akan pilihan bajunya sendiri. Gadis itu pun berlari di depan cermin, untuk mencocokan pilihannya.


Arumi sudah seperti anak remaja yang hendak pergi berkencan. Fahri, pria itu benar-benar membuat dirinya menjadi sedikit berbeda. Jika biasanya Arumi terkesan dingin dan angkuh. Namun, saat berhadapan dengan Fahri, ia menjadi wanita yang manis dan sedikit pemalu.


....


Fahri menepati janjinya, sore itu pria tersebut sudah berada di restoran biasa tempat ia memasang janji temu dengan Arumi.


Fahri menunggu kedatangan Arumi bersama dengan secangkir kopi yang ia pesan, tersaji di atas meja. Pria tersebut beberapa kali mengecek ponselnya sembari melihat jam yang tertera di layar ponsel.


Sudah lima belas menit dari jam yang ditentukan. Namun, Arumi tak juga kelihatan batang hidungnya. Fahri hendak menghubungi Arumi. Tiba-tiba saja, seorang gadis dengan mengenakan kacamata hitam, serta wajah yang ditutupi oleh scarf.


Fahri mengernyitkan keningnya, saat melihat gadis tersebut. "Jangan heran, ini aku!" ujar Arumi.


Fahri tertawa melihat Arumi yang tampak lucu dengan menutupi wajahnya. Pria itu pun menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.


"Arghhh ... jangan tersenyum seperti itu. Kamu bisa saja membuatku bertambah gila," batin Arumi.


"Baiklah. Tujuanku kemari untuk membicarakan tentang pernikahan kita. Aku tidak ingin adanya kekurangan apapun dalam pernikahan ku. Maka dari itu aku ingin mendiskusikan kepadamu tentang beberapa hal. Yang pertama masalah deko ...." ucapan Arumi seketika terhenti saat melihat ponsel Fahri berdering.


"Aku permisi sebentar untuk mengangkat telepon," ujar Fahri. Arumi pun menimpalinya dengan sebuah anggukan.


Saat Fahri berjalan keluar untuk mengangkat panggilan tersebut, ia berlalu dari hadapan Arumi. Seketika gadis itu tertegun, menyadari akan sesuatu.


"Aroma ini ...." batin Arumi. Ia berbalik memperhatikan cara berjalan Fahri yang sedikit pincang. Dan kakinya yang sakit juga bertepatan di sebelah kiri. Jantung Arumi pun mendadak berdegup kencang.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2