Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 156. Penyesalan


__ADS_3

Aldo merebahkan tubuhnya. Di dalam sel tahanan yang terasa dingin hingga menusuk ke tulang. Pria itu menatap ke atas langit-langit.


Tesss ...


Tak terasa air matanya menetes begitu saja. Tatkala ia mengingat wajah Sifa yang mengulas senyum padanya. Saat wanita itu berkata bahwa ia akan menunggu Aldo hingga bebas dari penjara, serta saat Sifa berkata bahwa saat itu ia tengah mengandung.


"Sifa, aku merindukanmu," gumam Aldo.


Air matanya kembali menetes di sudut mata. Pria itu menutup wajahnya dengan menggunakan kedua telapak tangannya.


Penyesalan yang Aldo rasakan kali ini benar-benar sebuah penyesalan yang tak akan membuatnya mengulangi perbuatan yang sama lagi. Saat ini, Aldo sangat merindukan istrinya.


Narkoba membuatnya jatuh ke dalam lubang hitam. Hampir membuat keluarganya berantakan. Sempat membuat istrinya tersiksa. Dan kali ini, ia bahkan tak bisa mengusap perut Sifa disaat ia ingin sekali menyapa si kecil yang tengah bersemayam di dalam rahim istrinya itu.


Di waktu yang bersamaan, di tempat yang berbeda, Sifa juga merasakan hal yang sama. Wanita itu tengah menangis sembari menatap foto suaminya yang ada di dalam ponselnya. Saat itu, Sifa dan Aldo masih dalam keadaan baik-baik saja. Bahkan Aldo memperlakukan Sifa dengan sangat baik sebelum ia tahu bahwa suaminya itu adalah pengedar sekaligus pemakai.


Ceklekk ...


Terdengar suara pintu dibuka. Sifa dengan segera langsung menghapus jejak air matanya. Ia melihat Kartika yang baru saja masuk. Sifa pun menyambut ibunya sembari mengulas senyum.


"Kamu sedang apa?" tanya Kartika yang langsung menghampiri putrinya dan duduk di sisi ranjang.


"Hanya sedang bersantai, Bu." Sifa menimpali ibunya, diiringi dengan senyuman tipis yang menghias wajah cantiknya.


"Ya sudah kamu tidurlah, Nak. Beristirahatlah karena hari ini kamu cukup banyak membuat makanan dan beberapa masakan yang kamu posting pun cukup banyak yang membelinya," ujar Kartika sembari mengusap kepala putrinya.


"Iya, Bu. Ibu juga harus istirahat karena ibu juga kelelahan karena telah banyak membantu," ucap Sifa.


"Iya, sebentar lagi ibu akan tidur. Ada sesuatu yang belum selesai ibu kerjakan," ujar Kartika.


"Sesuatu? Apa itu?" tanya Sifa penuh selidik.


"Besok kamu akan tahu sendiri. Pokoknya sekarang kamu harus tidur dan jangan kemana-mana lagi!" Kartika menarik selimut untuk Sifa hingga sebatas dada. Wanita paruh baya itu menyuruh putrinya untuk tidur tanpa harus mengetahui banyak hal lagi.


Sifa pun mengangguk patuh. Wanita hamil itu mulai memejamkan matanya. Usapan lembut dari ibunya membuat Sifa terbuai menuju ke alam mimpi seketika .


Setelah memastikan Sifa benar-benar tertidur pulas, Kartika langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi keluar ruangan itu. Kartika berjalan menuju ke dapur. Ia mengeluarkan semua bahan-bahan yang ada di dalam kulkas.


Wanita paruh baya itu pun memulai aksinya, melipat kulit lumpia yang berisikan potongan telur, smoke beef, serta mayonaise yang telah disadur dengan susu kental manis.

__ADS_1


Kartika mencoba membuat makanan tersebut karena cukup marak akhir-akhir ini. Dan ia berencana setelahnya ingin memposting di sosial media untuk dijual.


"Ibu tak bisa memberikan banyak harta untukmu, Nak. Akan tetapi ibu akan berusaha semampu ibu untuk membantu keuanganmu. Setidaknya ibu bisa memberikan separuh tenaga yang ibu miliki untuk membantumu, Sifa."


.....


Di lain tempat, Fahri tampak gusar. Pria itu sedari tadi mencari-cari sesuatu di meja kerjanya. Arumi baru saja keluar dari kamar mandi seusai mencuci wajahnya sebelum tidur. Wanita itu memperhatikan suaminya yang terlihat begitu gelisah sembari sesekali menggaruk-garuk kepalanya.


"Ada apa, Mas?" tanya Arumi.


"Ah, ini ...."


"Bagaimana aku menjelaskannya dengan Arumi. Aku takut dia akan bertanya lebih lagi tentang isi dari flashdisk itu," batin Fahri.


Kening Arumi berkerut karena menunggu ucapan suaminya yang belum selesai. "Ini apa yang kamu maksud, Mas?" tanya Arumi.


"Tidak apa-apa, Mas tadi lupa menaruh pulpen. Tidak tahunya benda ini ada di sini," ujar Fahri beralasan. Ia mengambil pena tersebut sembari mengusap tengkuknya.


"Aku juga tadi siang kehilangan sesuatu di sana, Mas."


"Kehilangan apa?" tanya Fahri tertegun.


DEGGG ...


Seketika tubuh Fahri menegang saat istrinya mengatakan hal tersebut. Pria itu menjadi gusar karena takut flashdisk yang dimaksud oleh Arumi adalah flashdisk yang berisikan video salinan tentang kejahatan Dewi.


"Flashdisk yang bagaimana maksudnya?" tanya Fahri dengan tatapan penuh selidik.


"Flashdisk yang ada di laci nomor dua, Mas."


Tubuh Fahri semakin menegang. Jantungnya langsung berdetak dengan begitu kencang. "Apakah kamu melihat isinya?"


"Aku menghilangkannya, Mas. Saat kamu memintaku untuk menitipkan berkas tadi pada Pak Rahmat, tiba-tiba flashdisk itu menghilang dari atas meja. Entahlah mungkin aku lupa menaruhnya," papar Arumi yang menceritakan semuanya dengan bibir yang sedikit mengerucut.


Fahri langsung bernapas dengan lega. Ia sangat bersyukur karena flashdisk itu menghilang. Dan Fahri berharap jika flashdisk tersebut lenyap selamanya. Untuk video kejahatan Dewi, ia akan lebih berhati-hati lagi untuk menyimpannya.


"Tunggu!" sergah Arumi.


" Tadi Mas Fahri bilang tentang isi dari flashdisk itu. Memang apa isinya, Mas?" tanya Arumi.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa," timpal Fahri berbohong.


Arumi menyipit, menatap Fahri dengan tatapan yang menelisik. "Apakah kamu menyimpan video-video dewasa di dalam flashdisk tersebut?"


Fahri langsung membelalakkan matanya setelah mendengar tebakan istrinya itu. Entah bagaimana Arumi bisa menebak hingga se-melenceng itu.


"Haha ... mana ada! Aku tidak pernah menonton video seperti itu," sanggah Fahri.


"Benarkah? Ku kira saat aku tidak bisa memberikan hakmu, kamu memilih menuntaskan hasratmu dengan video-video dewasa itu," celetuk Arumi.


Seketika wajah Fahri langsung memerah. Ia memang pernah menonton film dewasa, tetapi itu dulu saat pertama kali dirinya hendak memulai malam pertamanya dengan Sifa.


"Apa yang kamu pikirkan itu adalah salah besar, istriku!" tegas Fahri yang tak bisa menerima ucapan sang istri.


"Aku sudah konsultasi ke dokter tadi sore. Kata dokter sudah aman jika ingin bermain," celetuk Arumi.


Awalnya Fahri yang sedikit merasa kesal dikatai oleh istrinya yang tidak-tidak. Dan sekarang, setelah mendengarkan ucapan sang istri selanjutnya, mata Fahri langsung berbinar. Ekspresi senangnya pun langsung terlihat jelas di wajah tampannya.


"Berarti ... aku bisa mendapatkannya malam ini, Sayang?" tanya Fahri langsung diiringi panggilan manis yang mampu membuat othornya menjadi diabetes seketika🤣


"Aku mengantuk," ujar Arumi sedikit meledek. Ibu hamil itu tengah menguap sembari menutup mulutnya. Ini semua ia lakukan hanya ingin membuat wajah tampan itu kembali badmood lagi.


"Rasa kantuknya ditunda dulu ya, Istriku." Fahri tak menyerah begitu saja. Ia berusaha untuk menggoda istrinya.


Arumi tak menghiraukan suaminya. Ia pun langsung merebahkan dirinya di kasur, lalu kemudian memunggungi suaminya.


Fahri menghela napas dengan berat. Harapan yang sudah setinggi langit, akan tetapi dijatuhkan seketika.


Namun, sesaat kemudian matanya kembali berbinar. Saat ia melihat istrinya itu berbalik ke arahnya dengan pose yang sedikit menggoda.


Fahri tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia pun langsung menjauh dari meja kerjanya, menghampiri istrinya untuk menjadi santapannya malam ini.


"Boleh ya, Sayang."


"Boleh, Mas. Tapi jangan terlalu kasar ya, takut si dedek terkejut."


Bersambung ....


Dimanisin dulu aja ya beb, nanti part tegangnya bakalan muncul. Tunggu aja tanggal mainnya😂

__ADS_1


__ADS_2