Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 150. Melupakan


__ADS_3

Mobil yang dikendarai oleh Pak Rahmat berhenti di tempat parkiran. Arumi pun bersiap untuk turun dari kendaraan tersebut.


"Pak Rahmat mau tunggu di sini atau ikut saya?" tawar Arumi.


"Saya di sini saja, Nyonya."


"Mungkin saya di dalam akan memakan waktu yang cukup lama," ujar Arumi. Wanita itu mengeluarkan uang cash di dalam dompetnya lalu menyerahkan uang tersebut pada Pak Rahmat.


"Belilah sesuatu jika bapak merasa bosan," ucap Arumi.


"Tidak usah, Nyonya." Pak Rahmat menolak, karena merasa tidak enak.


"Saya tidak menerima penolakan, Pak. Ini untuk bapak," ujar Arumi sedikit memaksa.


Pak Rahmat pun mengambil uang tersebut. Tak lupa juga ia mengucapkan terima kasih karena majikannya itu sangat baik memperlakukannya.


Arumi turun dari mobil. Wanita itu melenggang, memasuki gedung pusat perbelanjaan yang ada di depannya.


Wanita itu menaiki tangga eskalator, yang mengantarkannya menuju ke lantai 2. Ada banyak orang yang juga ada di sana. Terdengar alunan suara musik yang menambah suasana ramai di tempat tersebut.


Di waktu yang bersamaan, Sifa juga berada di pusat perbelanjaan yang sama dengan Arumi. Wanita itu tengah berjalan sendirian, sembari melihat-lihat baju-baju bayi yang tampak lucu.


Sifa melirik salah satu baju ibu hamil yang menurutnya sangat bagus. Namun, saat ia melihat bandrol di baju tersebut, Sifa cukup terkejut karena harganya yang lumayan fantastis.


Wanita itu mengusap perutnya, sembari berucap "Bajunya memang bagus, Nak. Tapi mulai sekarang kita harus menghemat. Tujuan mama kemari hanya membeli belanja bulanan untuk mencukupi isi kulkas saja sekalian melihat-lihat sebentar. Mama malah terlena dengan baju itu," ucap Sifa dengan kekehan kecil.


"Ambilah apa yang kamu butuhkan, biar aku yang membayar semuanya."


Terdengar suara dari arah belakang. Sifa pun langsung menolehkan kepalanya, ia melihat wanita yang pernah menjadi rivalnya dulu tengah tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


"Tidak usah, terima kasih." Sifa menunduk, wanita itu hendak berlalu dari hadapan Arumi. Namun, Arumi lebih dulu menangkap tangan Sifa.


"Apakah kamu berpikir bahwa aku ingin mengejekmu?" tanya Arumi.


Sifa terdiam, wanita itu tak menjawab apapun.


"Aku sudah tidak ingin bermusuhan denganmu. Mari berteman," ujar Arumi sembari mengulas senyum tulusnya.


Sifa melihat seksama ke dalam mata Arumi. Tak ada kebohongan dari manik mata wanita itu. Selama ini, Sifa terlalu jahat pada Arumi, mencoba membenci wanita ini hanya karena menghancurkan rumah tangganya. Akan tetapi, Sifa sadar. Hancurnya rumah tangganya dengan Fahri dulu bukan karena ulah orang lain, melainkan karena dirinya yang tak mampu menghargai suaminya terdahulu.


Melihat Sifa yang sibuk tenggelam ke dalam pikirannya sendiri, membuat Arumi langsung mengambil baju yang sempat dilepaskan oleh Sifa karena masalah harganya.


Sedari tadi ia melihat Sifa, dan Arumi pun baru menyadari bahwa Sifa saat ini tengah mengandung, ditambah lagi ia merasa kasihan karena suami dari wanita itu saat ini tengah mendekam di dalam penjara.


"Ini ...." Arumi memberikan baju tersebut pada Sifa.


Sifa malu, ia meremat baju tersebut dengan begitu kuat. Dulu, ia terlalu berfoya-foya tanpa memikirkan kehidupan yang akan datang. Dan sekarang, membeli pakaian yang harganya di atas seratus ribu saja, Sifa memikirkannya berulang kali.


"Tidak usah, ini saja sudah cukup," timpal Sifa yang masih tertunduk malu.


Arumi merangkul Sifa, membuat wanita itu sedikit tersentak kaget. Arumi pun membawa Sifa menuju pakaian-pakaian yang lainnya, memilihkannya satu persatu untuk Sifa.


"Sungguh, tidak usah. Ini sudah lebih dari cukup," ujar Sifa melihat Arumi memilihkan banyak baju untuknya.


"Jangan terlalu merasa sungkan, anggap saja ini adalah hadiah dari awal pertemanan kita," balas Arumi dengan tangan yang masih sibuk memilih baju untuk Sifa.


"Cukup! Tolong jangan terlalu berlebihan seperti ini. Caramu membuatku semakin dirundung rasa bersalah," lirih Sifa.


Arumi mengambil pakaian terakhir, lalu meletakkan semuanya di meja kasir. Wanita itu pun menghampiri Sifa yang sepertinya benar-benar merasa bersalah.

__ADS_1


"Mari lupakan masalah yang lalu. Kita berbaikan dan saling menjalin ikatan pertemanan," tawar Arumi.


"Apakah kamu tidak takut jika suatu hari nanti aku akan kembali merebut suamimu?" pancing Sifa.


Arumi menggelengkan kepalanya. "Aku tahu suamiku mencintai aku. Dan kamu ... kamu telah memilih pria yang juga kamu cintai, mana mungkin kamu akan melakukannya. Lagi pula, jika suamiku tergoda, ya ... silakan," balas Arumi sembari terkekeh.


Arumi kembali ke meja kasir. Wanita itu membayar belanjaannya dengan kartu kreditnya. Kasir tersebut memberikan beberapa paper bag yang berisikan pakaian tadi. Arumi pun mengajak Sifa untuk pergi dari sana.


"Biar aku saja yang membawanya," ucap Sifa langsung mengambil paper bag tersebut dari tangan Arumi.


Setelah berbelanja tadi, Arumi dan Sifa pun saat ini tengah berada di food court. Mereka tengah menyantap hidangan yang tersaji di hadapan masing-masing.


"Selamat atas kehamilanmu. Aku ikut senang mendengarnya," ujar Arumi yang sedari tadi mendengarkan Sifa bercerita.


"Terima kasih. Kehadiran malaikat kecil ini, membuatku berubah lebih baik lagi. Aku tak ingin membuat anakku memiliki kedua orang tua yang buruk . Mungkin aku akan lebih keras lagi untuk mendidik anakku nanti, serta menjelaskan tentang ayahnya, bahwa ayahnya bukanlah manusia yang hina. Hanya saja ... ia sempat terlena dan jatuh ke dalam lubang yang hitam, dan sekarang ia tengah mendapatkan hukuman atas dosa yang diperbuatnya sendiri," papar Sifa.


Arumi tersenyum, wanita itu pun bertepuk tangan dengan pelan. "Kamu hebat, aku salut padamu," ujar Arumi yang merasa kagum karena Sifa.


Sifa tersenyum, lalu kemudian ia menatap Arumi dengan tatapan lembut. "Aku juga minta maaf padamu. Dulu ... aku sempat berpikir untuk kembali merebut Mas Fahri. Namun, aku sadar. Meskipun aku berhasil merebutnya darimu, dia tidak akan menatapku seperti dulu lagi, karena hatinya telah memilih mu seutuhnya," tutur Sifa.


Arumi menggenggam tangan Sifa. "Bukankah sudah ku katakan, kita lupakan tentang yang lalu. Kita jalani saja yang sekarang, karena masa lalu yang pahit itu tak patut untuk dikenang," ujar Arumi.


Sifa tersenyum lalu kemudian menganggukkan kepalanya. Wanita itu merasa beban dipundaknya terangkat. Kini ia sudah menyelesaikan masalahnya dengan Arumi. Hanya saja tinggal satu hal yang belum ia selesaikan, yaitu meminta maaf pada mantan suaminya.


Tak terasa, hari pun mulai beranjak sore. Sifa telah ditelepon oleh ibunya untuk pulang, sementara Arumi sedari tadi di telepon oleh suami nya. Arumi menyuruh Sifa untuk naik ke mobilnya, di dalam mobil, mereka banyak bercerita tentang kehidupan rumah tangga mereka, berbagi cerita dan saling tertawa.


Tak ada lagi permusuhan diantara mereka. Lantas, bagaimana jika Fahri tahu mengenai hal ini. Istrinya bersahabat dengan mantan istrinya, tentu saja itu akan sedikit mengejutkan bagi pria itu.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2