Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 160. Aku Gagal!


__ADS_3

Mobil yang dikendarai oleh Samuel tiba di depan rumah sakit. Tanpa berlama-lama lagi, pasangan suami istri itu pun langsung turun dari mobil, menyusuri koridor rumah sakit untuk menuju ke ruangan tempat Arumi, karena saat diperjalanan tadi, Samuel menelepon Fahri dan menanyakan kabar serta dimana rumah sakit tempat Arumi dibawa.


Setelah cukup lama berjalan, bertanya pada perawat yang tengah berjaga di meja bagian depan, Samuel dan Elena pun menemukan Fahri yang tengah duduk sendirian sembari menutup wajahnya.


Samuel menghampiri Fahri, duduk di samping pria tersebut sembari memegangi pundak Fahri. Berusaha untuk menenangkannya.


Tak lama kemudian, dokter yang menangani Arumi pun keluar dari ruangan tersebut. Fahri langsung berdiri menghampiri dokter, untuk menanyakan kabar tentang istrinya.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Fahri.


"Istri anda saat ini masih belum sadar, Pak. Keadaannya masih lemah," ujar Dokter.


"Apakah kami boleh melihatnya ke dalam, Dokter?" tanya Elena.


Dokter pun mengangguk, bertanda memperbolehkan agar pasien tersebut dijenguk.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi terlebih dahulu," ujar Dokter yang langsung pergi dari sana bersama dengan beberapa perawat yang sempat menangani Arumi tadi.


Fahri langsung masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia melihat Arumi yang terbaring lemah dengan selang oksigen yang terpasang di hidungnya. Mata indahnya masih senantiasa tertutup rapat, bibirnya terlihat begitu pucat.


Fahri tak kuasa melihat sang istri dengan kondisi seperti ini. Pria tersebut duduk di kursi yang ada di samping ranjang tersebut. Menggenggam tangan istrinya yang tertancap selang infus.


"Maafkan aku, Arumi. Aku sungguh menyesal karena tak bisa menjagamu dengan baik," ujar Fahri sembari bercucuran air mata. Pria tersebut memegang tangan istrinya, lalu kemudian mengecup punggung tangan tersebut dengan cukup lama.


Samuel merasa kasihan dengan Fahri. Saat tahu istrinya hamil, Fahri seperti orang yang paling bahagia di dunia. Bahkan saat bersama Samuel, Fahri selalu memamerkan anaknya yang masih belum berbentuk itu.


Sementara Elena, ia menatap Arumi dengan mata yang berkaca-kaca. Rasa cemburu yang sempat menyelimuti dirinya tadi, langsung menguap seketika.


"Maafkan aku, Arumi. Melihat kondisimu seperti ini, bisa-bisanya aku masih menaruh rasa cemburu padamu. Sungguh aku benar-benar egois! Maafkan aku," batin Elena sembari menitikkan air matanya.


Sedikit banyaknya, Elena memang mengetahui tentang Arumi. Saat ia terlibat untuk ikut membantu Samuel menyelidiki beberapa orang musuh yang ada di sekitar Arumi, Elena menjadi tahu kehidupan yang Arumi jalani seperti apa. Maka dari itu, ia pernah berkata pada Samuel, seandainya dirinya ada di posisi Arumi, mungkin Elena tak akan sanggup untuk menjalani semuanya.


Dan kini, Tuhan kembali menguji kesabaran sepasang suami istri ini. Membuat mereka harus merelakan anak pertama yang telah diidam-idamkan sebelumnya.


Elena melemparkan pandangannya pada Samuel. Suaminya itu tak memberikan tatapan yang sama pada Arumi, dan dari sinilah Elena merasa ia kembali ditampar oleh kenyataan. Suaminya memang sudah melupakan rasa terhadap Arumi.


Elena tahu betul, tatapan cinta yang ditujukan oleh Samuel terhadapnya. Membuat ia bisa mengerti, bahwa Samuel memang sudah mencintainya.


Setelah cukup lama, Arumi belum juga sadar. Fahri meminta agar Elena menjaga Arumi sejenak, karena ada hal penting yang ingin ia bicarakan pada suaminya.

__ADS_1


"Elena, bisakah kamu menjaga Arumi sebentar? Aku ingin berbicara empat mata dengan Samuel," ucap Fahri.


Elena mengangguk, "Baiklah, aku akan menemani Arumi," timpal Elena.


Fahri dan Samuel pun langsung keluar dari ruangan tersebut. Mereka duduk di kursi tunggu yang ada di depan.


"Bagaimana Arumi bisa mendapatkan salinan flashdisk itu?" tanya Samuel yang terdengar sedikit geram.


"Aku yang salah. Aku terlalu ceroboh meletakkan sesuatu. Kemarin, ia sempat berkata bahwa flashdisk itu hilang. Awalnya aku berniat mencari flashdisk itu saat ia sudah tidur. Akan tetapi aku lupa. Aku juga ikut tertidur dan keesokan harinya, aku melupakan niat awalku," timpal Fahri.


"Ini menyakitkan bagiku, Sam. Aku juga tidak ingin hal ini terjadi! Aku sengaja menyembunyikan semuanya agar anak dan istriku tidak dalam bahaya. Tanpa sadar, aku lah yang telah mencelakai mereka," sambungnya dengan air mata yang kembali menetes. Fahri menjadi pria yang lemah karena baru saja kehilangan anaknya, dan sang istri yang tak kunjung sadar juga.


"Maafkan aku jika perkataan ku tadi sedikit menyinggungmu," ujar Samuel sembari mengelus belakang Fahri, mencoba untuk menenangkannya.


"Sekarang, langkah apa yang ingin kamu ambil selanjutnya?" tanya Samuel.


"Aku ingin memenjarakan wanita itu. Dia telah membunuh anakku, dan aku ingin dia mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya," tukas Fahri dengan sorot mata yang penuh dengan dendam.


"Baiklah jika itu maumu. Aku akan melaporkannya langsung pada polisi dengan memberikan bukti video yang dikirimkan oleh Sugeng waktu itu," ujar Samuel.


"Kalau begitu, sekarang masuklah dan temani istrimu! Untuk mengajukan laporannya, aku dan Elena yang akan mengurusnya," ucap Samuel.


"Terima kasih karena kamu selalu membantuku," ujar Fahri.


Kedua pria itu pun langsung masuk ke dalam ruangan tersebut. Samuel memberikan kode pada Elena, untuk berpamitan pulang karena segera melaksanakan tugas selanjutnya, yaitu melaporkan Dewi pada polisi.


Setelah berpamitan dengan Fahri, pasangan suami


istri itu langsung keluar dari ruangan tempat Arumi dirawat.


Fahri kembali menjatuhkan bokongnya di kursi. Ia meraih tangan Arumi dan menggenggamnya dengan erat. Matanya tertuju pada wajah cantik istrinya, lalu kemudian turun di perut Arumi yang sudah tidak ada lagi bayi di dalamnya.


Fahri pun tertunduk lesu. Entah sudah berapa banyak air mata yang tertumpah. Ia sungguh menyesal karena tak bisa menjaga keduanya dengan baik, hingga akhirnya mereka harus kehilangan buah hatinya saat itu juga.


Fahri merasakan pergerakan pada tangannya. Ia pun mendongak, melihat Arumi yang perlahan membuka matanya.


"Mas Fahri ...." wanita tersebut memanggil nama Fahri .


"Iya, Istriku. Mas ada di sini," ujar Fahri.

__ADS_1


"Mas, kita berada di mana, Mas?" tanya Arumi yang mencoba untuk menatap sekitarnya. Bau obat yang begitu menyengat membuat Arumi merasa sedikit pusing.


"Kita di rumah sakit, Sayang."


Kening Arumi berkerut, ia kembali mengingat kejadian tadi. Di mana saat itu Arumi menonton video Dewi yang menghujam ayahnya berkali-kali. Ia juga mengingat saat dirinya tanpa sengaja menjatuhkan jusnya dan kemudian terpeleset hingga kesadarannya menghilang.


"Mas, anak kita ... anak kita baik-baik saja kan, Mas?" tanya Arumi sembari meraba bagian perutnya.


Fahri hanya terdiam. Ia bingung harus menjawab apa karena dapat dipastikan bahwa istrinya akan merasa sangat terpukul mengetahui hal ini.


"Kenapa kamu diam saja, Mas? Jawab aku! Anak kita baik-baik saja kan?" tanya Arumi lagi dengan intonasi yang sedikit meninggi.


Fahri kembali tertunduk lesu, air matanya menetes, tak kuasa menatap wajah sang istri yang menanyakan keadaan anaknya.


Melihat suaminya bertingkah demikian, membuat Arumi menangis. Wanita tersebut memukuli lengan suaminya.


"Katakan padaku bahwa anak kita baik-baik saja, Mas. Jangan hanya diam saja. Katakan padaku bahwa dia baik-baik saja," ujar Arumi yang langsung tersedu.


"Ini semua tidak mungkin ... oh anakku yang malang,"lanjut Arumi dengan tangisan yang semakin menjadi.


Fahri mencoba memeluk Arumi, akan tetapi wanita itu langsung mendorong tubuh suaminya. "Aku benci sama kamu, Mas! Aku benci!!"tegas Arumi menatap suaminya dengan nyalang.


"Tega ... kamu menyembunyikan semua fakta itu dariku. Padahal aku sudah bilang padamu, hal sekecil apapun jangan ada yang disembunyikan. Dan sekarang, kamu lihat sendiri, karena ulahmu aku jadi kehilangan anak kita!"


"Kamu telah membunuh anak kita, Mas!"


DEGGG ...


Ucapan Arumi begitu menusuk di dalam relung hati Fahri. Namun, apa yang dikatakan oleh Arumi ada benarnya. Yang membunuh anaknya itu bukanlah Dewi, melainkan dirinya sendiri.


Kecerobohan Fahri membuatnya kehilangan anak pertama mereka. Karena ketidakjujurannya terhadap sang istri, membuat Fahri harus merasakan kenyataan pahit ini.


"Maafkan aku," lirih Fahri.


"Aku benci kamu, Mas! Aku benci!!" tukas Arumi yang langsung melemparkan bantal pada Fahri.


Tak lama kemudian, perawat dan dokter datang setelah melihat kekacauan yang diperbuat oleh Arumi. Wanita itu mengamuk, ia benar-benar seperti kehilangan akal sehatnya karena tak terima jika bayi yang ada di dalam rahimnya sudah tiada.


Dokter pun memberikan suntikan penenang untuk Arumi, membuat Arumi langsung tertidur. Fahri menatap Arumi yang kembali memejamkan matanya. Sementara di dalam hatinya, ia merasa sangat kesal dan menyalahkan dirinya beribu kali karena telah gagal menjadi seorang suami.

__ADS_1


Bersambung ....


Gengs, maafkan aku ya yang sedikit kejam buat Arumi kehilangan anak pertamanya. Janji deh, selesai perkara Dewi langsung aku kasih yang manis-manis biar penyembuh rasa kesal kalian. Tapi jangan lupa vote sama giftnya ya, like nya juga soalnya🥺


__ADS_2