Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 170. Sepasang Tuyul


__ADS_3

Keesokan harinya, Fahri baru saja membuka matanya. Pria itu menatap istrinya yang masih terlelap. Fahri memiringkan tubuhnya, ia mengelus kepala sang istri membuat Arumi terbangun dari tidurnya.


"Astaga Mas, kamu mengejutkanku!" ujar Arumi sembari mengusap dadanya.


"Ada apa?" tanya Fahri heran.


"Aku belum terbiasa melihat kamu botak seperti ini," ujar Arumi.


Fahri terkekeh geli, dengan tangan yang masih mengelus kepala istrinya. "Aku juga belum terbiasa mengusap kepalamu dengan sedikit rambut. Terasa.ada.yang menusuk-nusuk di tanganku."


Keduanya terkekeh sembari saling menatap satu sama lain. Fahri mendekat, lalu kemudian memberikan kecupan singkat tepat di bibir istrinya itu.


Arumi meringis, karena Fahri tanpa sengaja Fahri menyentuh luka di sudut bibir Arumi.


"Maaf," ujar Fahri.


Pria tersebut menatap wajah lebam sang istri dengan seksama. "Kira-kira butuh waktu berapa lama untuk sembuh," gumam Fahri seraya menyentuh sedikit bagian lebam tersebut.


"Entahlah. Mungkin akan segera sembuh secepatnya jika terus diolesi dengan salep obat luka," ujar Arumi.


"Semoga saja tidak berbekas," ucap Fahri.


"Tidak akan, Mas. Nanti diobati juga dengan salep untuk memudarkan bekas luka," ujar Arumi.


"Melihatmu mendapatkan penyiksaan dari wanita itu membuatku sangat kesal. Aku sangat takut saat dia hendak menyiramkan air keras itu padamu. Untunglah senjata makan tuan," cecar Fahri yang mengatai Dewi dengan penuh dendam.


Arumi terkekeh, lalu kemudian wanita itu bangun dari pembaringannya. "Mas tidak pergi ke kantor?" tanya Arumi sembari melirik jam yang ada di atas nakas.


"Aku akan tetap di rumah saja sampai kamu benar-benar sembuh," sahut Fahri.


"Kalau begitu ... bagaimana jika kita pergi mengunjungi papa. Apakah Mas Fahri setuju?" tanya Arumi.


"Tentu saja."


Arumi dan Fahri pun tersenyum. Mereka pun membersihkan diri dan bersiap untuk menjalani aktivitasnya di hari itu.


.....


Sementara di lain tempat, Dewi di bawa ke rumah sakit karena terkena air keras kemarin. Wanita itu duduk sendirian di ruang rawat dengan wajah yang penuh oleh perban. Namun, Dewi tetap berada dalam pengawasan polisi. Salah satu tangannya di borgol dan dikaitkan di besi ranjang tempat tidurnya.


Tak lama kemudian, terdengar suara langkah yang datang menghampirinya.


"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya salah satu polisi yang bertugas menjaga Dewi.

__ADS_1


"Untuk wajahnya rusak karena terkena air keras dan hal yang buruk lainnya juga terjadi. Bu Dewi juga kehilangan penglihatannya," ujar dokter tersebut.


Dewi yang sempat mendengarkan ucapan dokter pun langsung terkejut. "Tidak mungkin, ini tidak mungkin!!" tukas Dewi yang mulai memberontak.


Dokter langsung bergerak dengan memberikan suntikan pada Dewi. Sehingga Dewi pun mulai tenang dan tertidur.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Pak."


Setelah menangani Dewi, dokter pun langsung keluar dari ruangan tersebut.


Polisi yang tadinya masuk ke dalam ruangan pun ikut keluar. Tinggallah Dewi sendirian, tanpa seorang keluarga atau pun teman yang datang menjenguknya.


....


Arumi telah selesai membersihkan dirinya. Saat ini wanita tersebut baru saja hendak keluar dari kamar bersama dengan suaminya.


Kedua orang tersebut melenggang, menuruni anak tangga. Membuat para pelayan tersentak kaget, karena ada dua tuyul di rumah itu. Ingin rasanya tertawa melihat kedua majikannya tampak itu tampak lucu.


Namun, mereka berusaha untuk menahan tawanya itu, takut nantinya jika kedua majikan itu akan tersinggung dan memecat mereka secara serentak.


"Mas, aku ke atas dulu," ujar Arumi.


"Kenapa?" tanya Fahri.


"Ya sudah, kalau begitu Mas juga ikut ke atas." Fahri mengikuti langkah istrinya, kembali menaiki anak tangga.


"Mas kenapa?"


"Mas belum terbiasa. Kulit kepala Mas rasanya sangat dingin seperti tertiup angin," ujar Fahri.


Arumi langsung tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan suaminya itu. Mereka pun berjalan bersama kembali menuju ke kamar untuk menutupi kepalanya yang hanya menyisakan sedikit rambut.


.....


Siang harinya, Fahri dan Arumi baru saja memarkirkan mobil tak jauh dari gerbang pemakaman umum. Pasangan suami itu turun dari mobilnya, lalu menatap ke sekitar tempat tersebut.


Fahri telah menggunakan wig untuk menutupi kepalanya. Sementara Arumi, ia memilih untuk menggunakan kerudung saja.


Keduanya berjalan menuju pusara Fian Aryaduta, yang tak lain adalah ayah dari Arumi. Setibanya di sana, Arumi langsung duduk di hadapan pusara itu. Wanita tersebut mengusap nisan ayahnya sembari menitikkan air mata.


"Pa, aku datang lagi."


"Maafkan aku karena terlalu bodoh dan lambat mengetahui tentang semuanya. Tentang kecelakaan yang telah direncanakan oleh wanita itu, serta papa yang dibunuh dengan begitu sadis," ucap Arumi.

__ADS_1


Setelah tertangkapnya Dewi, malam itu Fahri memang menceritakan semua kebenarannya. Tentang mobil yang disabotase oleh Dewi, serta pembunuhan Sugeng yang mau bersaksi atas kejahatan yang Dewi perbuat.


"Sekarang papa bisa tenang, karena penjahat sesungguhnya telah dijatuhi hukuman seberat-beratnya. Papa juga harus berbahagia di sana, agar aku juga bisa berbahagia untuk menjalani hidup selanjutnya," lanjut Arumi.


Fahri yang duduk di sisi berlawanan dari tempat Arumi pun juga ikut mengusap nisan ayah mertuanya.


"Pa, ... mulai sekarang, aku yang akan menggantikan peran papa. Aku akan menjadi suami yang baik, yang selalu mendampingi Arumi. Sekaligus menjadi seorang ayah bagi Arumi, mendengarkan semua keluh kesah serta tempat bersandar seperti yang pernah papa lakukan dulu kepadanya," ujar Fahri dengan tegas.


Setelah mengirimkan do'a, serta menaburkan kelopak bunga mawar di atas pusara tersebut, mereka pun langsung berpamitan untuk pulang.


Namun, sebelum pulang Arumi dan Fahri berencana untuk ke suatu tempat, yaitu rumah sakit yang merawat Dewi sebelum di bawa ke jeruji besi.


Setibanya Fahri dan Arumi di rumah sakit itu, mereka langsung menuju ke ruangan tempat dimana Dewi dirawat. Sebelumnya Arumi dan Fahri meminta izin kunjungan terlebih dahulu, sehingga mereka pun diperbolehkan untuk masuk ke ruangan tersebut.


Ceklekkk ...


Dewi mengarahkan pandangannya ke luar. Ia mendengar suara kenop pintu yang baru saja dibuka. Serta suara langkah kaki yang datang mendekat ke arahnya.


"Siapa itu? Apakah pak polisi atau dokter?" tanya Dewi yang hanya bisa mengarahkan kepalanya ke arah pintu, tak bisa melihat siapa yang datang menghampirinya.


Kedua orang tersebut hanya terdiam sembari saling bertatapan. Lalu kemudian terkekeh menertawakan kondisi Dewi saat ini.


"Bagaimana rasanya tidak bisa melihat? Bagaimana rasanya tidak cantik lagi?" ujar Arumi sembari terkekeh geli.


"Dasar manusia biadab!" tukas Dewi mencerca Arumi.


"Upssss ... apakah kamu sedang mengatai dirimu sendiri?" tanya Arumi dengan nada yang sedikit mengejek.


Dewi mengepalkan tangannya. Ia benar-benar kesal karena telah dikatai oleh anak tirinya. "Apakah kalian berpikir aku sudah kalah? Tentu saja tidak! Suatu saat nanti aku akan kembali mencari kalian dan membalaskan dendam ku lagi!"


Arumi maju selangkah lebih dekat pada Dewi. Lalu kemudian membisikkan sesuatu tepat di telinga ibu tirinya itu. "Apakah kamu berpikir setelah ini kamu masih bisa bernapas?" Arumi menyunggingkan senyum liciknya. Ia pun mundur beberapa langkah, kembali ke posisi awal.


Seketika rasa takut pun menyerang ke sekujur tubuh Dewi. Entah mengapa mendengar ucapan Arumi tadi membuatnya menjadi bergidik ngeri.


"Setidaknya Tuhan masih mengasihanimu. Kamu tidak bisa melihat langsung wajahmu yang mengerikan itu. Jika kamu melihatnya secara langsung, mungkin akan menjerit histeris dan membuatmu berteriak seperti orang gila," ejek Arumi.


Fahri menggenggam tangan Arumi, sembari menggelengkan kepalanya. Ia tahu jika Dewi memang bersalah, akan tetapi ia tak ingin istrinya berbuat jahat seperti Dewi yang kejamnya seperti monster.


"Biarkan dia menerima hukuman yang setimpal. Ayo kita pergi dari sini," ajak Fahri.


"Aku masih merasa kesal, Mas. Melihatnya bernapas saja membuatku frustasi," bisik Arumi.


"Sudah biarkan saja. Kita cukup melihat bagaimana dia menjalani hukumannya nanti," ujar Fahri yang langsung membawa istrinya pergi dari ruangan tersebut.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2